Gencatan Senjata Gaza Kian Rapuh, Serangan Israel Renggut 5 Nyawa
Jumat, 21 November 2025 | 08:04 WIB
Gaza, Beritasatu.com — Serangan udara Israel menewaskan lima warga Palestina dan melukai 18 orang di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada Kamis (20/11/2025). Otoritas kesehatan setempat melaporkan insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata yang semakin rapuh dan telah berlangsung hampir enam pekan, dengan Hamas dan Israel saling menuduh melakukan pelanggaran.
Petugas medis menyebut satu serangan menghantam sebuah rumah di Bani Suhaila, timur Khan Younis, menewaskan tiga orang, termasuk seorang bayi perempuan serta melukai 15 warga lainnya. Serangan terpisah menewaskan seorang pria dan melukai tiga orang di Abassan, kota terdekat.
Militer Israel mengonfirmasi adanya serangan tersebut, tetapi mengatakan tidak mengetahui adanya korban jiwa. Beberapa jam kemudian, pejabat Rumah Sakit Nasser menyampaikan seorang warga Palestina kelima tewas akibat tembakan Israel di Abassan.
Sehari sebelumnya, Israel mengatakan pihaknya menyerang sejumlah sasaran di seluruh Jalur Gaza menyusul tembakan dari kelompok militan Palestina terhadap pasukan mereka. Petugas medis Gaza menyebut setidaknya 25 orang tewas dalam serangan pada Rabu (19/11/2025), jumlah korban harian tertinggi sejak 29 Oktober 2025 ketika lebih dari 100 orang tewas.
Hamas mengecam serangan terbaru tersebut sebagai eskalasi berbahaya dan mendesak mediator dari Arab, Turki, hingga Amerika Serikat untuk turun tangan menjaga keberlangsungan gencatan senjata.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menuduh Israel memindahkan penanda wilayah yang disepakati, sehingga Israel tetap menguasai lebih dari 50 persen wilayah kantong tersebut.
Warga di Shejaia, timur Kota Gaza, mengatakan kepada Reuters mereka melihat barikade kuning penanda zona yang masih dikuasai Israel bergeser sekitar 100 meter ke arah barat. Hingga kini belum ada komentar resmi dari Israel terkait perubahan tersebut.
Di Zeitoun, pinggiran Gaza City, setidaknya 10 orang tewas ketika sebuah bangunan yang sebelumnya menampung keluarga pengungsi dihantam serangan pada Rabu. Warga menyisir puing-puing untuk menyelamatkan barang-barang, sementara tim penyelamat terus mencari korban.
“Mereka bilang ada gencatan senjata, tetapi saya meragukannya. Rudal-rudal menghantam warga miskin yang terlantar. Apa yang bisa kami lakukan?” kata warga, Akram Iswair, kepada Reuters.
Gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 memang memungkinkan ratusan ribu warga Palestina kembali ke reruntuhan rumah mereka. Israel juga telah menarik sebagian pasukan dari pusat kota, dan bantuan kemanusiaan meningkat.
Namun kekerasan belum sepenuhnya berhenti. Hamas mencoba menegaskan kembali posisinya, sementara sejumlah pihak khawatir wilayah Gaza akan terbelah secara de facto. Kondisi kemanusiaan tetap memburuk.
Otoritas kesehatan Palestina mencatat 312 warga tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata dimulai. Israel menyebut tiga tentaranya juga tewas dan menyatakan telah menargetkan pejuang bersenjata.
Di bawah ketentuan gencatan senjata saat ini, Hamas telah membebaskan seluruh 20 sandera yang masih hidup dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina serta tahanan masa perang yang ditahan Israel. Hamas juga setuju menyerahkan 28 jenazah sandera dengan imbalan 360 jenazah militan Palestina yang tewas.
Hingga kini, 25 jenazah sandera telah diserahkan. Israel juga mengembalikan 330 jenazah warga Palestina.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




