Kebakaran Maut Hong Kong: 94 Orang Tewas, 2 WNI Jadi Korban
Jumat, 28 November 2025 | 09:25 WIB
Hong Kong, Beritasatu.com – Tragedi memilukan melanda Hong Kong. Korban tewas akibat kebakaran terburuk dalam beberapa dekade terakhir di kota tersebut melonjak menjadi 94 orang pada Jumat (28/11/2025). Di antara para korban jiwa, terdapat dua warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga migran.
Kebakaran yang melanda kompleks apartemen Wang Fuk Court di distrik Tai Po, pada Rabu (26/11/2025) ini disebut sebagai yang terburuk dalam hampir 80 tahun terakhir, melampaui tragedi serupa pada 1948. Berikut perkembangan terbaru situasi di lokasi kejadian:
Pencarian Korban dan Kondisi Terkini
Otoritas Hong Kong mengonfirmasi bahwa api telah padam sepenuhnya, namun tim penyelamat masih menyisir gedung-gedung tinggi yang hangus untuk mencari ratusan orang yang masih terdata hilang.
Hingga Jumat pagi, selain 94 korban meninggal, tercatat sedikitnya 76 orang terluka, termasuk 11 petugas pemadam kebakaran yang berjibaku di lapangan. Salah satu petugas pemadam kebakaran berusia 37 tahun turut gugur dalam tugas, meninggalkan duka mendalam bagi pasangannya yang menyebut sang petugas sebagai "pahlawan super saya".
Pemimpin kota, John Lee, sempat menyebut 279 orang belum ditemukan pada Kamis dini hari. Meski beberapa telah berhasil dikontak, proses identifikasi jenazah di pusat komunitas berjalan lambat dan memilukan.
"Jika wajahnya tidak dapat dikenali, ada barang-barang pribadi yang dapat dikenali orang. Saya tidak bisa menggambarkan perasaan saya. Ada anak-anak (yang jadi korban)," ujar seorang wanita bermarga Cheung yang sedang mencari kerabatnya dengan nada bergetar.
Kesaksian warga selamat mengungkap fakta mengerikan. Alarm kebakaran tidak terdengar. Penghuni harus melakukan inisiatif manual untuk menyelamatkan diri dan tetangga.
"Membunyikan bel pintu, mengetuk pintu, memberi tahu tetangga, menyuruh mereka pergi, begitulah situasinya," ungkap seorang warga bermarga Suen.
Ia juga mengeluhkan respons pemadaman yang terasa lambat saat api melahap gedung dengan cepat. "Saya melihat satu selang mencoba menyelamatkan beberapa bangunan, dan saya merasa itu terlalu lambat."
Pemandangan mengerikan terlihat saat bagian perancah yang hangus jatuh dari blok apartemen. Angin kencang dan puing-puing berapi mempercepat penyebaran api dari satu gedung ke gedung lainnya melalui jendela, menciptakan langit malam yang bersinar jingga menakutkan.
Penyebab Kebakaran
Pihak berwenang kini memfokuskan investigasi pada perancah bambu dan jaring plastik (nilon) yang melilit gedung untuk keperluan renovasi. Material ini diduga kuat menjadi bahan bakar yang mempercepat rambatan api.
Badan antikorupsi Hong Kong dan kepolisian bergerak cepat. Tiga pria telah ditangkap atas dugaan kelalaian meninggalkan kemasan busa di lokasi yang memicu kebakaran.
Pejabat nomor dua Hong Kong, Eric Chan, menegaskan pentingnya mempercepat transisi penuh dari perancah bambu ke perancah logam untuk mencegah kejadian serupa.
Di tengah bencana, semangat warga Hong Kong bersinar. Massa berkumpul di dekat kompleks Wang Fuk Court untuk memberikan bantuan. Relawan membagikan pakaian, kotak makan siang, dan menyebarkan selebaran orang hilang di mal terdekat.
"Ini benar-benar menyentuh. Semangat masyarakat Hong Kong adalah ketika seseorang dalam kesulitan, semua orang saling mendukung," kata Stone Ngai (38), salah satu relawan.
Pemerintah Hong Kong telah membuka sembilan tempat penampungan darurat dan menangguhkan kegiatan kampanye pemilihan legislatif yang sedianya digelar 7 Desember mendatang. Bantuan logistik seperti drone dan obat-obatan juga dikerahkan dari Beijing.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




