AS Serang Venezuela, Ahli Ingatkan Risiko Geopolitik Global
Minggu, 4 Januari 2026 | 11:29 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan sang istri pada Sabtu (3/1/2026). Aksi ini memicu kecaman dari berbagai negara dan menjadi sorotan serius dalam konteks dinamika strategis dan militer global.
Founder Marapi Consulting & Advisory, Mufti Makaarim, menilai operasi militer yang menyasar langsung fasilitas militer serta tokoh kepemimpinan negara lain merupakan tindakan drastis yang jarang terjadi di era modern, khususnya di kawasan Amerika Latin.
Menurutnya, hal ini mencerminkan tingginya ketegangan antara kebijakan luar negeri AS dan norma hukum internasional yang selama ini menekankan prinsip nonintervensi serta penyelesaian sengketa secara damai.
Meski detail taktis operasi tidak sepenuhnya dipublikasikan, pria yang merupakan konsultan di bidang pertahanan dan keamanan itu menyebut langkah tersebut menunjukkan penggunaan kekuatan militer secara langsung untuk mencapai tujuan politik tertentu.
Pendekatan dengan cara seperti ini, di satu sisi, terlihat efektif dalam jangka pendek, namun berpotensi menimbulkan ketidakstabilan struktural dalam jangka panjang. Risikonya mencakup kemungkinan respons militer, maupun gejolak sosial-politik dari negara yang diserang serta pihak-pihak sekutunya.
Dalam pengamatan sejumlah ahli hubungan internasional, serangan AS ke Venezuela berpotensi menjadi titik tolak penting dalam tatanan dunia. Pertama, tindakan ini dinilai menantang hukum internasional. Intervensi unilateral tanpa mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dikhawatirkan dapat melemahkan norma yang selama ini menjadi landasan keamanan global.
“Banyak negara khawatir tindakan semacam ini bisa memicu respons berantai pada masa depan, jika kekuatan besar merasa bebas menggunakan militer di luar wilayahnya,” kata Mufti, dalam keterangan resminya, dikutip Minggu (4/1/2026).
Kedua, langkah tersebut berpotensi meningkatkan polarisasi geopolitik. Reaksi keras dari Rusia, China, serta sejumlah negara besar di Amerika Latin memperlihatkan adanya kemungkinan penguatan blok negara-negara yang menolak dominasi kebijakan luar negeri satu kekuatan besar.
“Hal ini bisa memicu permusuhan baru dalam hubungan global di luar prinsip multipolaritas yang kini muncul,” tambahnya.
Ketiga, serangan ini dinilai para ahi juga dapat mengubah persepsi soal keamanan kawasan. “Negara-negara di luar Amerika Latin mungkin akan meningkatkan kerja sama pertahanan regional, memperluas latihan bersama atau memperkuat aliansi sebagai respons terhadap ketidakpastian keamanan global ini,” tandas Mufti.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




