ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Negara-negara yang Diincar Donald Trump Seusai Maduro Ditangkap

Rabu, 7 Januari 2026 | 12:00 WIB
SF
MF
Penulis: Sesilia Ayu Febriani | Editor: MF
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (AP Photo/Julia Nikhinson)

Jakarta, Beritasatu.com - Donald Trump kembali menegaskan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang agresif setelah operasi militer AS berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.

Peristiwa ini menjadi titik awal rangkaian pernyataan keras Trump yang menyasar sejumlah negara dan wilayah lain, baik kawasan Amerika maupun di luar benua tersebut.

Pemerintahannya menekankan tekad untuk menjaga dominasi mutlak Amerika Serikat di Belahan Bumi Barat sekaligus mengamankan sumber daya energi yang dinilai vital bagi kepentingan nasional.

Dalam berbagai kesempatan, Trump menekankan bahwa kepemimpinan global Amerika Serikat tidak boleh dipertanyakan. Sikap ini diperkuat oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyatakan bahwa langkah Washington tidak akan berhenti pada Venezuela semata.

ADVERTISEMENT

Pernyataan tersebut menandai fase baru kebijakan luar negeri AS yang lebih tegas dan konfrontatif. Lantas, negara mana saja yang diperkirakan menjadi target AS selanjutnya?

Greenland

Salah satu wilayah yang secara terbuka disebut Donald Trump adalah Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark. Trump menyampaikan keinginannya agar Amerika Serikat mengambil alih Greenland dengan alasan keamanan nasional.

"Kita membutuhkan Greenland. Saat ini Greenland sangat strategis. Greenland dipenuhi kapal-kapal Rusia dan Tiongkok di mana-mana," kata Trump, dikutip dari Reuters, Rabu (7/1/2026).

Menurutnya, posisi geografis Greenland sangat strategis dan saat ini dipenuhi aktivitas kapal-kapal dari Rusia dan China, sehingga Denmark dinilai tidak mampu menjamin keamanan wilayah tersebut.

Pernyataan itu memicu reaksi keras dari Perdana Menteri Greenland, Jens Frederik Nielsen. Ia menilai retorika Washington tidak dapat diterima karena mengabaikan kedaulatan dan martabat Greenland sebagai sebuah bangsa dan negara demokratis.

Nielsen menegaskan bahwa negaranya bukan objek permainan geopolitik kekuatan besar, melainkan entitas berdaulat yang berhak menentukan masa depannya sendiri.

"Negara kita bukanlah objek dalam retorika kekuatan besar. Kita adalah sebuah bangsa. Sebuah negara. Sebuah demokrasi," kata Nielsen.

Kolombia

Kolombia juga masuk dalam radar pernyataan keras Donald Trump. Ia melontarkan kritik tajam kepada Presiden Kolombia, Gustavo Petro, dengan tuduhan bahwa Kolombia menjadi sumber utama produksi dan distribusi kokain ke Amerika Serikat.

Bahkan, ketika ditanya mengenai kemungkinan operasi militer di Kolombia, Trump menanggapi secara terbuka bahwa langkah tersebut terdengar masuk akal baginya.

Menanggapi tudingan itu, Petro membela kinerja pemerintahannya melalui media sosial dengan menyebut keberhasilan penyitaan kokain terbesar dalam sejarah.

Meski demikian, data Perserikatan Bangsa-Bangsa menunjukkan bahwa produksi kokain di Kolombia justru mencapai tingkat tertinggi.

Situasi ini memperkeruh hubungan kedua negara, terlebih setelah Petro menyatakan kesiapannya mengangkat senjata kembali demi membela tanah air, meskipun ia sebelumnya telah berjanji meninggalkan jalur kekerasan.

Kuba

Berbeda dengan pendekatan terhadap Kolombia, Donald Trump memilih strategi menunggu terhadap Kuba, sekutu terdekat Venezuela.

Ia menilai intervensi militer tidak diperlukan karena Kuba diperkirakan akan mengalami kemunduran secara alami setelah kehilangan pasokan minyak murah dari Venezuela.

"Saya tidak tahu apakah mereka akan bertahan, tetapi Kuba sekarang tidak memiliki pendapatan. Mereka mendapatkan semua pendapatan mereka dari Venezuela, dari minyak Venezuela," kata Trump.

Namun, pemerintah AS tetap memberikan peringatan keras. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut Kuba sedang menghadapi masalah besar.

Pada sisi lain, Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menegaskan bahwa rakyatnya siap mempertahankan aliansi Kuba-Venezuela dengan segala risiko, bahkan jika harus mengorbankan nyawa.

Meksiko

Meksiko menjadi sasaran kritik Donald Trump terkait derasnya arus narkoba, khususnya fentanyl, yang masuk ke Amerika Serikat.

Dalam wawancara telepon dengan Fox News, Trump mengeklaim telah menawarkan bantuan militer AS kepada Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, untuk memberantas kartel narkoba.

Presiden Sheinbaum menolak tawaran tersebut secara tegas. Ia menegaskan bahwa Meksiko tetap membuka kerja sama kemanusiaan dan penegakan hukum untuk mencegah peredaran narkoba, namun menolak keras kehadiran atau operasi militer Amerika Serikat di wilayahnya.

Sikap ini mencerminkan upaya Meksiko menjaga kedaulatan nasional di tengah tekanan dari Washington.

Iran

Di luar kawasan Amerika, Donald Trump juga terus meningkatkan tekanan terhadap Iran yang tengah dilanda gelombang demonstrasi antipemerintah.

Trump memperingatkan Teheran agar tidak melakukan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa, dengan ancaman respons militer keras dari Amerika Serikat jika hal itu terjadi.

"Jika mereka mulai membunuh orang, mereka akan dipukul sangat keras oleh Amerika Serikat. Kami sudah siap tempur," ancam Trump.

Ketegangan ini berlangsung setelah Amerika Serikat membom fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, sebuah langkah yang secara efektif menghentikan proses diplomasi kedua negara.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menanggapi ancaman tersebut dengan menegaskan bahwa Republik Islam Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman musuh.

Dalam dokumen strategi keamanan nasional yang dirilis bulan lalu, Donald Trump secara eksplisit menempatkan pemulihan keunggulan Amerika Serikat di Belahan Bumi Barat sebagai salah satu pilar utama masa jabatan keduanya.

Ia merujuk pada Doktrin Monroe abad ke-19 dan Korolarium Roosevelt sebagai dasar historis bagi pendekatan keras Amerika Serikat terhadap negara-negara di sekitarnya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Trump tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga berakar pada pandangan lama mengenai peran dominan Amerika Serikat di kawasan sekitarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz

Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Boeing 747-8 Hadiah dari Qatar Jadi Armada Baru Perjalanan Dinas Trump

Boeing 747-8 Hadiah dari Qatar Jadi Armada Baru Perjalanan Dinas Trump

INTERNASIONAL
Alasan Trump Sebut Dirinya

Alasan Trump Sebut Dirinya "Bos" di Depan Pemimpin Dunia Saat KTT G7

INTERNASIONAL
Trump Jaga Netanyahu Tetap Waras di Lebanon

Trump Jaga Netanyahu Tetap Waras di Lebanon

INTERNASIONAL
Iran Umumkan Aturan Baru bagi Kapal yang Ingin Melintasi Selat Hormuz

Iran Umumkan Aturan Baru bagi Kapal yang Ingin Melintasi Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Trump Klaim AS Diam-diam Loloskan 87 Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

Trump Klaim AS Diam-diam Loloskan 87 Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon