Reaksi Rusia, China hingga Brasil Seusai AS Tangkap Presiden Venezuela
Senin, 5 Januari 2026 | 12:45 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Amerika Serikat melancarkan operasi besar-besaran terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Langkah dramatis yang terjadi pada Sabtu (3/1/2025) dini hari waktu setempat ini segera memicu gelombang reaksi keras dari berbagai negara.
Sejumlah pemimpin dunia menilai tindakan Washington melampaui batas dan berpotensi mengguncang stabilitas kawasan Amerika Selatan serta tatanan internasional.
Dihimpun Beritasatu.com dari berbagai sumber, berikut rangkuman sikap dan respons sejumlah negara atas insiden yang menjadi perhatian global tersebut.
Rusia Mengutuk Keras Operasi Amerika Serikat
Pemerintah Rusia secara tegas mengecam aksi militer Amerika Serikat terhadap Venezuela. Moskow menilai tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan serangan bersenjata dan penangkapan kepala negara berdaulat.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan bahwa agresi tersebut sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk. Rusia menilai pendekatan ideologis telah mengalahkan jalur diplomasi dan pragmatisme hubungan internasional.
"Pagi ini, Amerika Serikat melakukan aksi agresi bersenjata terhadap Venezuela. Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya, dikutip dari CNN Internasional, Senin (5/1/2026).
Meski Venezuela dikenal sebagai salah satu sekutu utama Rusia di Amerika Selatan, Kremlin menegaskan fokus utamanya adalah mencegah eskalasi konflik.
Rusia juga menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat Venezuela serta mendukung kepemimpinan Bolivarian dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
“Kami kembali menyatakan solidaritas kepada rakyat Venezuela serta dukungan terhadap langkah kepemimpinan Bolivarian dalam menjaga kepentingan nasional dan kedaulatan negara,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Moskow menekankan bahwa kawasan Amerika Selatan seharusnya tetap menjadi zona perdamaian tanpa intervensi militer dari pihak luar.
Lebih lanjut, Rusia menyerukan penyelesaian krisis melalui dialog dan menjamin hak Venezuela untuk menentukan masa depannya sendiri.
Hingga pernyataan itu dirilis, tidak ada laporan warga negara Rusia yang menjadi korban, dan Kedutaan Besar Rusia di Caracas tetap beroperasi normal.
China Mendesak Pembebasan Nicolás Maduro
Reaksi keras juga datang dari China. Beijing mendesak Amerika Serikat segera membebaskan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, yang kini ditahan di AS setelah ditangkap di Caracas.
Kementerian Luar Negeri China menegaskan pentingnya jaminan keselamatan pribadi bagi Maduro dan keluarganya. China menilai penggunaan kekuatan secara terbuka terhadap negara berdaulat sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
"China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Maduro dan istrinya, segera membebaskan Presiden Maduro dan istrinya," ujar Kementerian Luar Negeri China dikutip dari CNN Internasional.
Selain itu, Beijing meminta Washington menghentikan upaya menggulingkan pemerintahan Venezuela dan memilih jalur dialog serta negosiasi.
"Hentikan upaya untuk menggulingkan rezim Venezuela, dan menyelesaikan masalah ini melalui dialog dan negosiasi," jelas pernyataan tersebut.
China menegaskan bahwa penyelesaian damai adalah satu-satunya cara untuk menghindari dampak buruk yang lebih luas terhadap stabilitas regional dan global.
Presiden Brasil Menilai Operasi AS Telah Melampaui Batas
Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva turut menyuarakan kecamannya. Menurut Lula, pemboman wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara.
Ia menilai tindakan tersebut sebagai preseden berbahaya bagi komunitas internasional karena membuka peluang normalisasi intervensi militer terhadap negara lain.
Brasil menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan nasional dan prinsip hukum internasional dalam menyelesaikan konflik antarnegara.
"Pemboman di wilayah Venezuela dan penangkapan presidennya telah melampaui batas yang tidak dapat diterima. Tindakan ini merupakan penghinaan serius terhadap kedaulatan Venezuela dan merupakan preseden yang sangat berbahaya bagi seluruh komunitas internasional," kata Lula, dikutip dari CNN Internasional.
Spanyol dan Uni Eropa Tegaskan Sikap Berbeda
Sikap lebih kompleks datang dari Spanyol dan sejumlah pemimpin Uni Eropa. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menegaskan bahwa pemerintahannya tidak mengakui rezim Nicolás Maduro.
Namun demikian, Madrid juga menolak keras intervensi militer Amerika Serikat yang dinilai melanggar hukum internasional.
Pedro menilai langkah tersebut justru mendorong kawasan menuju ketidakpastian dan potensi permusuhan berkepanjangan. Sejalan dengan itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz menekankan pentingnya menilai tindakan AS melalui kerangka hukum internasional yang ketat.
"Spanyol tidak mengakui rezim Maduro. Tetapi Spanyol juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan ini menuju cakrawala ketidakpastian dan permusuhan," kata Pedro.
Merz mengingatkan bahwa ketidakstabilan politik di Venezuela harus dihindari. Ia menegaskan tujuan utama komunitas internasional seharusnya mendorong transisi yang tertib menuju pemerintahan yang dipilih secara sah.
Sementara itu, Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola, menyatakan bahwa Parlemen Eropa tidak menganggap Nicolás Maduro sebagai pemimpin sah Venezuela.
Meski demikian, Uni Eropa tetap menegaskan komitmennya terhadap penghormatan hukum internasional, demokrasi, dan kehendak rakyat Venezuela.
Israel dan Ukraina Beri Dukungan kepada Trump
Berbeda dengan mayoritas negara lainnya, Israel secara terbuka mendukung langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyampaikan ucapan selamat atas apa yang disebutnya sebagai kepemimpinan berani dan bersejarah.
Netanyahu memuji ketegasan Trump serta aksi pasukan Amerika Serikat yang dinilainya mencerminkan perjuangan atas nama kebebasan dan keadilan.
"Selamat, Presiden @realDonaldTrump atas kepemimpinan Anda yang berani dan bersejarah atas nama kebebasan dan keadilan. Saya salut atas tekad Anda yang tegas dan tindakan brilian para prajurit pemberani Anda," tulis Netanyahu.
Dukungan serupa juga datang dari Ukraina. Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha, menyatakan bahwa negaranya secara konsisten membela hak bangsa-bangsa untuk hidup bebas dari kediktatoran dan penindasan.
Menurut Ukraina, rezim Maduro telah melanggar prinsip-prinsip tersebut, sehingga kepentingan dan hak rakyat Venezuela harus menjadi prioritas.
Ukraina menegaskan dukungannya terhadap perkembangan lanjutan yang sejalan dengan hukum internasional, demokrasi, serta penghormatan hak asasi manusia.
Penangkapan Presiden Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat telah memicu perpecahan tajam di antara negara-negara dunia. Sebagian mengecam keras atas dasar kedaulatan dan hukum internasional, sementara sebagian lainnya justru memberikan dukungan politik terhadap langkah Washington.
Situasi ini menempatkan Venezuela dalam sorotan geopolitik yang semakin kompleks. Ke depan, arah penyelesaian krisis sangat bergantung pada kemampuan komunitas internasional mendorong dialog, menahan eskalasi, dan memastikan kepentingan rakyat Venezuela tetap menjadi pusat perhatian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




