Korban Tewas Protes Iran Tembus 2.500 Orang, Terburuk sejak 1979
Rabu, 14 Januari 2026 | 09:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Aksi protes Iran yang berlangsung selama dua pekan terakhir kini telah berubah menjadi tragedi kemanusiaan yang sangat kelam. Berdasarkan laporan terbaru, dikutip AP, Rabu (14/1/2026), jumlah korban tewas akibat kerusuhan ini telah menembus angka 2.500 orang.
Para aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) menegaskan bahwa skala kekerasan ini merupakan yang terburuk dalam sejarah modern Iran, bahkan intensitasnya dilaporkan telah melampaui gejolak besar saat Revolusi Islam 1979 silam. Kondisi di lapangan sempat sulit dipantau karena pemerintah Iran melakukan tindakan ekstrem berupa pemutusan total akses internet dan jaringan telepon internasional selama berhari-hari.
Taktik "pemadaman informasi" ini diduga sengaja dilakukan untuk menutupi skala tindakan keras aparat keamanan terhadap massa. Meski layanan pesan singkat masih dibatasi, warga di Teheran dilaporkan baru bisa menghubungi kerabat di luar negeri secara terbatas pada Selasa kemarin.
Setelah sempat bungkam, pemerintah Iran akhirnya memberikan pengakuan resmi pertama terkait jatuhnya korban jiwa melalui siaran televisi negara. Meskipun menyebut ada "banyak martir," pihak otoritas berdalih bahwa keterlambatan pengumuman data disebabkan oleh proses identifikasi yang rumit akibat parahnya kondisi luka-luka para korban.
“Namun, pengakuan ini muncul hanya setelah tekanan dari lembaga internasional yang mulai membeberkan bukti kekerasan ke publik,” tulis AP.
Awalnya, kemarahan warga dipicu oleh kondisi ekonomi yang kian terpuruk dan biaya hidup yang mencekik. Namun dalam waktu singkat, aksi protes Iran ini berubah menjadi gerakan politik besar yang secara terang-terangan menargetkan sistem pemerintahan.
Seruan-seruan yang menuntut mundurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei terdengar di berbagai sudut kota, sebuah tindakan yang di negara tersebut memiliki risiko hukuman sangat berat. Reaksi keras pun datang dari luar negeri, terutama dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Melalui platform media sosialnya, Trump memberikan dukungan terbuka kepada para pengunjuk rasa dan mengancam akan membatalkan semua agenda pertemuan dengan pejabat Iran sebagai bentuk protes atas pembunuhan massal warga sipil. Sebaliknya, pihak keamanan Iran membalas dengan menuding balik pihak asing dan "tentara bayaran pengkhianat" sebagai dalang di balik kerusuhan yang terjadi.
Situasi di jantung kota Teheran saat ini digambarkan sangat mencekam dengan kehadiran pasukan antirusuh dan anggota milisi Basij yang berpatroli ketat di setiap persimpangan besar. Pemandangan gedung-gedung pemerintah yang hangus terbakar dan mesin ATM yang hancur menjadi saksi bisu kemarahan massa. Sejauh ini, lebih dari 18.100 orang dilaporkan telah ditahan oleh pihak berwenang dalam operasi pembersihan tersebut.
Kekhawatiran semakin meningkat setelah Jaksa Agung Iran mengeluarkan peringatan bahwa siapa pun yang terlibat dalam kerusuhan dapat dianggap sebagai "musuh Tuhan," sebuah dakwaan yang sering kali berujung pada eksekusi mati. Publik dunia kini terus memantau apakah otoritas setempat akan mulai membuka ruang dialog atau justru terus menggunakan kekuatan militer untuk membungkam aksi protes Iran yang tengah melanda negeri para mullah tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




