Badan Pengawas PBB Akui Kesulitan Cek Aktivitas Fasilitas Nuklir Iran
Sabtu, 28 Februari 2026 | 14:46 WIB
Teheran, Beritasatu.com - Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) melalui laporan rahasianya menyatakan pihaknya tidak diizinkan untuk mengakses fasilitas nuklir Iran yang dibom oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) selama perang 12 hari pada Juni 2025.
Dalam laporan yang diakses oleh Associated Press pada Jumat (27/2/2026) tersebut, badan pengawas nuklir yang bernaung di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menekankan mereka tidak dapat memverifikasi apakah Iran telah menangguhkan semua aktivitas terkait pengayaan atau memastikan ukuran persediaan uranium di fasilitas nuklir yang terdampak serangan bom tersebut, dilansir dari AP, Sabtu (28/2/2026).
Meski demikian, laporan rahasia tersebut juga mengungkap Iran telah memberikan akses kepada inspektur IAEA ke setiap fasilitas nuklir yang tidak terpengaruh setidaknya satu kali sejak Juni 2025, kecuali pembangkit listrik di Karun yang masih dalam tahap pembangunan.
Iran diketahui memiliki empat fasilitas pengayaan uranium yang telah dideklarasikan. Namun, laporan tersebut memperingatkan karena keterbatasan akses, IAEA tak bisa memberikan informasi tentang fasilitas nuklir Iran.
“Kami tidak dapat memberikan informasi apa pun tentang ukuran, komposisi, atau keberadaan persediaan uranium yang diperkaya di Iran saat ini,” kata IAEA.
Laporan itu juga menekankan bahwa hilangnya kontinuitas informasi ini perlu ditangani dengan sangat mendesak.
Sebelumnya, selama ini Iran bersikeras program nuklirnya bertujuan damai. Namun, IAEA dan sejumlah negara Barat memandang Iran pernah memiliki program senjata nuklir terorganisir hingga 2003. AS sendiri hingga kini terus berupaya mencapai kesepakatan guna membatasi program nuklir Iran serta memastikan negara tersebut tidak mengembangkan nuklirnya untuk tujuan senjata.
IAEA juga melaporkan Iran melalui surat tertanggal 2 Februari menyampaikan pengamanan normal secara hukum tidak dapat dipertahankan dan secara material tidak praktis akibat adanya ancaman dan tindakan agresi terkait program pengembangan nuklirnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




