ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Serangan Udara Tak Cukup, Trump Kirim Pasukan Darat AS ke Iran?

Minggu, 8 Maret 2026 | 08:59 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Presiden Donald Trump memberi hormat saat tim pengangkut Angkatan Darat memindahkan peti jenazah yang diselimuti bendera berisi jenazah Sersan Kelas Satu Angkatan Darat Cadangan AS Noah Tietjens yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak di pusat komando di Kuwait.
Presiden Donald Trump memberi hormat saat tim pengangkut Angkatan Darat memindahkan peti jenazah yang diselimuti bendera berisi jenazah Sersan Kelas Satu Angkatan Darat Cadangan AS Noah Tietjens yang tewas dalam serangan pesawat tak berawak di pusat komando di Kuwait. (AP/AP)

Doral, AS, Beritasatu.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuka kemungkinan pengiriman pasukan darat ke Iran guna mengendalikan persediaan uranium yang diperkaya di negara tersebut. Isyarat ini muncul di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Dalam konferensi pers di atas pesawat Air Force One pada Sabtu (7/3/2026) waktu AS, Trump memberikan respons terkait rencana pengamanan fasilitas nuklir Iran. "Kami belum membahas ini," ujarnya.

"Suatu saat nanti, mungkin kami akan melakukannya. Itu akan sangat bagus. Saat ini, kami hanya memberi mereka pukulan berat. Kami belum melakukannya, tetapi mungkin akan kami lakukan nanti,” lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Para analis militer berpendapat bahwa serangan udara saja tidak akan cukup untuk menghancurkan kemampuan militer Iran atau mencegah pengembangan senjata nuklir. Menanggapi hal tersebut, Trump tidak menampik kemungkinan pengerahan kekuatan darat secara penuh.

"Apakah itu mungkin? Ya, itu mungkin, jika ada alasan yang benar-benar dapat dibenarkan, alasan yang sangat dapat dibenarkan," tegas Trump.

Menurutnya, pengerahan pasukan darat bertujuan untuk melemahkan Iran hingga titik di mana mereka tidak lagi mampu memberikan perlawanan di lapangan.

Pernyataan ini disampaikan hanya beberapa jam setelah Trump menghadiri upacara penghormatan jenazah di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware. Bersama Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Trump menyambut kepulangan enam tentara Amerika yang gugur di awal perang.

Meskipun ada korban jiwa dari pihak AS, Trump menegaskan bahwa hal tersebut tidak akan mengubah keputusannya. "Tidak, kita menang besar dalam konflik ini," katanya kepada wartawan.

"Saya yakin pertempuran akan berlanjut untuk sementara waktu lagi, tetapi saya sangat bangga dengan semua orang,” ujarnya.

Ketegangan semakin meruncing menyusul insiden pengeboman sebuah sekolah dasar putri di Iran selatan yang menewaskan sedikitnya 175 orang. Trump menuding Iran berada di balik serangan tersebut karena kegagalan teknis amunisi mereka.

"Tidak, menurut pendapat saya, berdasarkan apa yang telah saya lihat, Iranlah yang melakukannya," klaim Trump. 

“Amunisi mereka sangat tidak akurat, seperti yang Anda ketahui. Sama sekali tidak akurat,” alasannya.

Namun, klaim tersebut berbanding terbalik dengan investigasi sejumlah media internasional seperti The New York Times, CNN, dan AP. Analisis mereka menunjukkan kemungkinan besar ledakan tersebut berasal dari serangan AS yang menyasar pangkalan angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di dekat lokasi sekolah.

Pada awal perang 28 Februari 2026 lalu, Trump memprediksi kampanye militer ini hanya akan memakan waktu 4 hingga 5 minggu. Namun, seiring meningkatnya resistensi, pejabat pemerintahan AS mulai memperingatkan bahwa pertempuran ini bisa berlangsung selama berbulan-bulan tanpa tenggat waktu yang pasti.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon