ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Trump Dinilai Plin-plan Soal Perang Iran, Strategi AS Dipertanyakan

Selasa, 10 Maret 2026 | 11:30 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Pernyataan samar Presiden Donald Trump terkait durasi intervensi militer AS di Iran memicu ketidakpastian pasar global dan kekhawatiran sekutu di Timur Tengah.
Pernyataan samar Presiden Donald Trump terkait durasi intervensi militer AS di Iran memicu ketidakpastian pasar global dan kekhawatiran sekutu di Timur Tengah. (AP/Allison Robbert)

Jakarta, Beritasatu.com - Dunia saat ini sedang menanti kepastian terkait akhir dari intervensi militer Amerika Serikat di Iran, namun pernyataan terbaru Presiden Donald Trump justru memicu kebingungan. Dalam konferensi pers di Doral, Florida, yang dikutip The Guardian, Selasa (10/3/2026), Trump memberikan prakiraan yang samar dan saling bertentangan mengenai berapa lama pasukan AS akan tetap bertempur. 

Alih-alih menenangkan pasar global, pernyataannya justru membuat para sekutu di Timur Tengah merasa waswas akan potensi konflik yang lebih panjang. Kondisi ekonomi dunia pun sedang berada di titik kritis dengan harga minyak yang melonjak hingga di atas US$ 100 per barel. 

Trump lalu muncul di hadapan publik dengan misi awal untuk menstabilkan pasar dan meyakinkan sekutu bahwa ia memiliki visi yang jelas untuk mengakhiri operasi militer ini. Namun, selama 35 menit penampilannya, ia justru menghindari detail teknis dan lebih memilih untuk membanggakan betapa hebatnya militer AS telah menghancurkan kekuatan Iran.

ADVERTISEMENT

Sikap plin-plan Trump terlihat jelas saat ia menanggapi pertanyaan wartawan mengenai durasi perang. Sebelumnya, dalam sambungan telepon dengan media, ia menyebutkan bahwa perang ini "hampir selesai sepenuhnya". Namun, ketika dikonfirmasi secara langsung apakah itu berarti perang akan berakhir minggu ini, ia hanya menjawab dengan bahasa yang menggantung, "Tidak, tapi segera. Saya rasa segera. Sangat segera."

Kontradiksi semakin nyata ketika wartawan membandingkan pernyataan Trump dengan pernyataan Menteri Pertahanannya yang menyebut bahwa serangan ini "hanyalah permulaan". Trump justru menjawab dengan santai bahwa kedua pernyataan tersebut benar. Ia menambahkan bahwa saat ini adalah awal dari pembangunan negara baru, meskipun sebelumnya ia dan penasihat utamanya telah menegaskan bahwa AS tidak akan melakukan upaya pembangunan negara (nation-building) di Iran.

Dalam pidatonya di hadapan rekan-rekan Partai Republik, Trump melontarkan kalimat yang membuat banyak pihak mengernyitkan dahi. Ia mengklaim bahwa Amerika telah menang dalam banyak hal, namun kemenangan itu "belum cukup menang". Pernyataan yang tidak koheren ini memicu kritik tajam dari pihak oposisi, termasuk pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, yang menyebut Trump tidak memiliki rencana atau visi yang jelas dan hanya mengandalkan insting semata.

Ada pula pergeseran kebijakan luar negeri yang sangat drastis dan mengejutkan. Trump menyatakan akan melonggarkan sanksi penjualan minyak pada negara-negara tertentu untuk menenangkan pasar, yang merupakan kebalikan dari kebijakan sebelumnya yang menekan penjualan minyak Rusia. Ia bahkan berdalih bahwa mungkin sanksi tersebut tidak perlu diberlakukan kembali jika perdamaian sudah tercapai, sebuah asumsi yang dianggap terlalu optimistis oleh para pengamat.

Momen yang paling mengejutkan dalam konferensi pers tersebut adalah ketika Trump menanggapi tragedi serangan rudal Tomahawk di sebuah sekolah perempuan di kota Minab yang menewaskan 168 orang. Alih-alih mengakui kemungkinan kesalahan serangan dari pihaknya, Trump justru melontarkan klaim tanpa bukti bahwa Iran mungkin secara diam-diam memiliki rudal Tomahawk dan menggunakannya untuk mengebom sekolah mereka sendiri di hari pertama perang.

Ketika didesak oleh wartawan mengapa hanya dia satu-satunya orang di pemerintahan yang memberikan teori tersebut, Trump mendadak menarik diri dengan mengatakan bahwa ia tidak cukup tahu tentang hal itu dan mengklaim masalah tersebut masih dalam penyelidikan. Ketidakpastian arah kebijakan ini meninggalkan tanda tanya besar bagi komunitas internasional tentang bagaimana sebenarnya strategi Amerika Serikat untuk keluar dari krisis Timur Tengah ini tanpa memicu kerusakan ekonomi global yang lebih parah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Mengenal Kevin Warsh, Ketua Baru The Fed Pilihan Donald Trump

Mengenal Kevin Warsh, Ketua Baru The Fed Pilihan Donald Trump

EKONOMI
Xi Jinping kepada Trump: Bisakah China-AS Hindari Jebakan Thucydides?

Xi Jinping kepada Trump: Bisakah China-AS Hindari Jebakan Thucydides?

INTERNASIONAL
Xi Jinping Tegur Trump Soal Ancaman Konflik karena Isu Taiwan

Xi Jinping Tegur Trump Soal Ancaman Konflik karena Isu Taiwan

INTERNASIONAL
Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

Sesi Pertama Pertemuan Trump dan Xi Jinping Berakhir Tanpa Bahas Iran

INTERNASIONAL
Unggah Peta Venezuela, Trump Masih Ambisius Kuasai Caracas?

Unggah Peta Venezuela, Trump Masih Ambisius Kuasai Caracas?

INTERNASIONAL
Bertemu Trump, Xi Jinping: China-AS Harus Jadi Mitra Bukan Bersaing

Bertemu Trump, Xi Jinping: China-AS Harus Jadi Mitra Bukan Bersaing

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon