ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Mengenal Pulau Larak, Penyelamat Kapal Tanker di Selat Hormuz

Jumat, 10 April 2026 | 14:18 WIB
MN
TE
Penulis: Muhamad Refan Nibrasy | Editor: TCE
Ilustrasi Pulau Larak.
Ilustrasi Pulau Larak. (Gemini AI/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Pulau Larak kini menjadi sorotan dalam konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran karena perannya sebagai jalur alternatif dalam melintasi Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia.

Perubahan pola lalu lintas kapal akibat konflik terbaru mendorong pulau ini bertransformasi dari wilayah yang relatif kurang dikenal menjadi pusat kendali strategis dalam perdagangan global.

Pulau Larak merupakan pulau berbentuk lentikular dengan ukuran sekitar 7 kilometer panjang dan 4 kilometer lebar. Lokasinya berada di utara Selat Hormuz, sekitar 40 kilometer di selatan Bandar Abbas.

Bersama Pulau Hormuz, wilayah ini menjadi representasi paling timur dari fenomena diapir garam di Teluk Persia. Struktur geologi Pulau Larak tergolong kompleks. Lapisan batu kapur karang menutupi dasar konglomerat yang berisi fragmen tuf riolit dan bongkahan hematit.

ADVERTISEMENT

Pada bagian barat tengah, ditemukan sedimen klastik seperti batu pasir merah muda, disertai batuan riolit dan tuf dalam jumlah besar serta tubuh batuan kecil yang didominasi feldspar alkali.

Bagian tengah pulau memperlihatkan bongkahan besar granitoid piroksen-biotit berwarna abu-abu dan porfiri feldspar. Selain itu, terdapat lensa bijih besi dengan ketebalan mencapai 6 meter dan panjang hingga 100 meter yang didominasi hematit berkristal baik.

Keunikan mineral juga terlihat di sisi timur kubah garam, dengan rongga berisi kristal baryte yang berkembang jelas. Area pelapukan di bagian tengah menghasilkan mineral zunyite dalam berbagai bentuk, mulai dari kristal euhedral hingga agregat monomineral.

Mineral ini ditemukan bersama hematit berukuran besar, fluorit, serta danburit prismatik berwarna abu-abu muda yang tercatat pada April 2020.

Sejarah dan Kondisi Pulau Larak

Pulau Larak memiliki sejarah panjang sebagai wilayah strategis sejak abad ke-16. Kawasan ini pernah dikuasai oleh Portugis, Inggris, dan Belanda, yang meninggalkan jejak berupa benteng militer dan meriam sebagai bukti pentingnya posisi pulau dalam jalur perdagangan maritim.

Pada masa pemerintahan Shah Abbas I, pulau ini kembali berada dalam kedaulatan Iran bersama wilayah Hormozgan lainnya. Saat ini, Pulau Larak dihuni sekitar 1.000 penduduk.

Aktivitas ekonomi utama meliputi perikanan dan penyelaman, sementara sektor pertanian masih terbatas. Secara geografis, pulau ini memiliki panjang hingga sekitar 11 kilometer dengan titik tertinggi mencapai 138 meter di atas permukaan laut.

Meski terlihat sebagai pulau gurun yang gersang, kawasan ini menyimpan potensi alam yang relatif alami dan belum banyak tersentuh.

Pulau Larak sebagai Jalur Alternatif di Selat Hormuz

Peran Pulau Larak berubah drastis sejak konflik yang pecah pada 28 Februari. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun hingga sekitar 90%. Kondisi ini mendorong pengalihan jalur pelayaran ke koridor sempit di utara Pulau Larak yang berada dalam wilayah perairan Iran.

Data dari Lloyd’s List Intelligence per 2 April menunjukkan hampir seluruh kapal dalam beberapa pekan terakhir menggunakan jalur ini. Sejak 13 Maret, puluhan kapal tercatat melintasi koridor tersebut. Jalur tradisional di sisi selatan dekat Oman tidak lagi digunakan sejak pertengahan Maret.

Koridor ini berfungsi sebagai jalur pelayaran terkendali, di mana kapal diarahkan mendekati garis pantai Iran. Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam pola pelayaran global.

Sistem 'Toll Gate' dan Seleksi Kapal oleh Iran

Pulau Larak kini menjadi pusat dari sistem seleksi pelayaran yang dijalankan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sistem ini menggunakan mekanisme verifikasi ketat. Operator kapal harus mengirimkan data lengkap, seperti nomor International Maritime Organization (IMO), identitas awak, struktur kepemilikan, muatan, serta tujuan akhir.

Setelah melalui proses penyaringan, kapal yang disetujui menerima kode izin dan instruksi rute. Saat memasuki perairan Iran, kapal wajib mengonfirmasi kode tersebut melalui komunikasi radio sebelum dikawal melewati koridor di sekitar Pulau Larak.

Kapal yang tidak memenuhi kriteria dapat ditolak atau diminta menunggu di sekitar pulau hingga mendapatkan persetujuan. Dalam praktiknya, sistem ini membentuk jalur pelayaran berbasis izin dengan akses terbatas.

Istilah "toll gate” pun muncul, yang mana sejumlah kapal dilaporkan membayar biaya transit. Nilainya disebut mencapai sekitar 2 juta yuan untuk satu kali perjalanan tanker besar.

Iran juga memprioritaskan kapal dari negara dengan hubungan lebih erat atau memiliki keterkaitan perdagangan, sehingga proses seleksi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga dipengaruhi kepentingan geopolitik.

Signifikansi Militer dan Dampak Global

Pulau Larak memiliki peran militer penting dalam pengendalian Selat Hormuz. Kawasan ini dilengkapi jaringan bunker, kapal cepat bersenjata rudal antikapal, serta sistem gangguan komunikasi satelit yang dijaga infanteri angkatan laut Iran.

Pulau ini juga digunakan untuk memantau lalu lintas kapal secara langsung dan menjadi pusat operasional dalam pengelolaan koridor pelayaran. Perannya sering disebut sebagai tulang punggung operasional dalam sistem kontrol tersebut.

Perubahan jalur pelayaran yang kini berfokus di antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm menunjukkan meningkatnya pengaruh Iran dalam pengendalian jalur strategis ini.

Dampaknya terasa luas di pasar global. Lalu lintas kapal turun drastis, sementara biaya pengiriman meningkat akibat risiko konflik dan keterbatasan akses. Biaya pengangkutan minyak dilaporkan naik hingga beberapa dolar per barel, memberi tekanan pada pasar energi dunia.

Situasi ini juga memicu pembagian akses secara tidak langsung. Kapal dengan keterkaitan tertentu mendapatkan jalur lebih mudah, sementara pihak lain menghadapi hambatan yang lebih besar.

Pulau Larak berkembang menjadi elemen kunci dalam pengelolaan Selat Hormuz, tidak hanya sebagai wilayah geografis, tetapi juga sebagai pusat kontrol militer, ekonomi, dan logistik. Perannya sebagai jalur alternatif sekaligus titik seleksi kapal menunjukkan bagaimana pulau kecil dapat memengaruhi arus perdagangan global.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon