Ajukan Syarat Damai, Iran Desak AS Buka Selat Hormuz
Selasa, 21 April 2026 | 06:01 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengungkapkan sejumlah syarat yang diajukan Teheran kepada Amerika Serikat (AS) sebelum melanjutkan perundingan tahap kedua. Salah satu tuntutan utama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz.
Boroujerdi menilai, blokade Selat Hormuz oleh AS telah memicu ketidakstabilan dan ketidakamanan di kawasan Timur Tengah.
"Iran mengajukan sejumlah syarat. Salah satunya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, karena selama ini dinilai telah menciptakan ketidakamanan di kawasan tersebut," kata Boroujerdi dalam kajian daring yang diselenggarakan Nurcholish Madjid Society (NCMS) di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Lebih lanjut, Boroujerdi menegaskan hingga kini Iran masih belum menaruh kepercayaan penuh terhadap Amerika Serikat. Hal ini menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelanjutan negosiasi antara kedua negara.
Selain isu Selat Hormuz, Iran juga menekankan bahwa upaya perdamaian tidak boleh bersifat parsial. Menurutnya, gencatan senjata harus diterapkan secara menyeluruh di berbagai wilayah konflik di Timur Tengah.
“Jika ingin ada perdamaian, harus berlaku untuk semua wilayah. Gencatan senjata harus terjadi di Gaza, Lebanon, Yaman, dan kawasan lainnya,” kata Boroujerdi.
Ia menegaskan, Iran tidak akan menerima kondisi negaranya berada dalam situasi aman, sementara negara lain di kawasan masih dilanda konflik bersenjata.
“Iran tidak dapat menerima situasi berada dalam kondisi aman dan menikmati gencatan senjata, sementara saudara-saudara mereka di Lebanon dan wilayah lain masih berada di bawah serangan, baik oleh Israel maupun Amerika Serikat,” tutupnya.
Pada sisi lain, Pemerintah Iran hingga kini belum memutuskan apakah akan menghadiri putaran kedua negosiasi dengan Amerika Serikat. Ketidakpastian ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei menyatakan belum ada keputusan resmi terkait kelanjutan pembicaraan tersebut.
"Sampai saat ini kami belum memiliki rencana untuk putaran negosiasi berikutnya, dan belum ada keputusan yang dibuat dalam hal ini," kata Baghaei, dikutip dari AFP, Senin (20/4/2026).
Situasi ini juga dipengaruhi rencana Presiden AS Donald Trump yang akan mengirim delegasi ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan damai. Delegasi tersebut dijadwalkan dipimpin Wakil Presiden JD Vance, serta melibatkan utusan Timur Tengah Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Sejumlah faktor turut memengaruhi sikap Iran, mulai dari berlanjutnya blokade angkatan laut AS, dugaan pelanggaran gencatan senjata, hingga retorika Washington yang dinilai semakin mengancam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




