ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Darurat TBC, Karawang Sasar 5.000 Sampel Pemeriksaan di 30 Kecamatan

Sabtu, 15 November 2025 | 15:02 WIB
AM
IC
Penulis: Andi Maulana | Editor: CAH
Antusias warga melakukan pemeriksaan penyakit menular Tuberkolosis TB di Desa Pisang Sambo Kecamatan Tirtajaya Karawang
Antusias warga melakukan pemeriksaan penyakit menular Tuberkolosis TB di Desa Pisang Sambo Kecamatan Tirtajaya Karawang (Beritasatu.com/Andi Maulana)

Karawang, Beritasatu.com — Upaya deteksi dan pencegahan dini penyakit tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Karawang dilakukan dengan pemeriksaan awal skrining dengan target 5.000 sampel di 30 kecamatan. Tahap pertama dimulai hari ini, Sabtu (15/11/2025) di Desa Pisang Sambo, Kecamatan Tirtajaya, yang diikuti 300 warga. 

Program ini digagas Wakil Ketua DPR Saan Mustofa bekerja sama dengan RSUD Jatisari, khususnya tim spesialis paru. 

Tahap pemeriksaan awal dilakukan dengan rontgen untuk penjaringan. Jika hasil rontgen positif, dilanjutkan tes dahak tes cepat molekuler (TCM). Pasien yang terbukti positif akan dirujuk untuk pengobatan di RSUD atau Puskesmas selama 6–12 bulan.

ADVERTISEMENT

Wakil ketua Partai Nasdem Saan Mustofa menyampaikan kegiatan ini merupakan langkah awal untuk mengetahui angka penyebaran TBC di Karawang yang selama ini belum terdata secara detail.

“Penyakit TBC ini sangat serius dan menular. Banyak masyarakat yang tidak peduli, apalagi di kampung-kampung. Kita ingin sekaligus mengedukasi masyarakat untuk memahami kondisi tubuhnya dan melakukan deteksi dini,” ujar Saan.

Ia menyebut kegiatan skrining keliling seperti ini baru pertama kali dilakukan di Karawang. “Mudah-mudahan dari 5.000 sampel di 30 kecamatan ini kita mendapat gambaran yang jelas. Setelah itu kita rencanakan langkah penanganan TB ke depan,” tegasnya.

Di lokasi yang sama, Direktur RSUD Jatisari dr Anisa menjelaskan mekanisme skrining dan penanganan TBC. Menurutnya, proses skrining dimulai dari rontgen, kemudian tes dahak TCM. Jika keduanya positif, barulah pasien dinyatakan mengidap TBC.

“Kami bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas. Jika ada pasien positif, maka puskesmas akan mendampingi pengobatan dan edukasi. Pengobatan minimal berlangsung enam bulan,” jelas Anisa.

Anisa menambahkan TBC memiliki dua jenis utama, yaitu TB sensitif obat ditangani di puskesmas dan yang ke dua TBC resisten obat dengan penanganan awal dilakukan di rumah sakit sebelum diteruskan kembali ke puskesmas

RSUD Jatisari yang ditunjuk langsung Kementerian Kesehatan telah menyiapkan seluruh fasilitas pengobatan. "Sekarang pengobatan TBC ada enam bulan dan sembilan bulan, paling lama satu tahun. Dahulu bisa seumur hidup. Dengan pengobatan teratur, pasien bisa sembuh total,” tegas dr Anisa.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Target Temukan 21.744 Kasus TBC, Gresik Gelar Rontgen Gratis

Target Temukan 21.744 Kasus TBC, Gresik Gelar Rontgen Gratis

JAWA TIMUR
Belasan Warga Badui Positif TBC, Obat Sulit Didapat

Belasan Warga Badui Positif TBC, Obat Sulit Didapat

BANTEN
Prabowo Jadikan Penurunan Kasus TBC Prioritas Nasional

Prabowo Jadikan Penurunan Kasus TBC Prioritas Nasional

NASIONAL
Pemerintah Percepat Deteksi Dini Penyakit TBC

Pemerintah Percepat Deteksi Dini Penyakit TBC

NASIONAL
Makassar Masuk Zona TBC, 60.000 Warga Diperiksa

Makassar Masuk Zona TBC, 60.000 Warga Diperiksa

LIFESTYLE
Dinkes Sumedang Kejar Target Eliminasi TBC 2030, 3.000 Kasus Ditemukan

Dinkes Sumedang Kejar Target Eliminasi TBC 2030, 3.000 Kasus Ditemukan

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon