ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perajin Tahu Goreng Blitar Bertahan di Tengah Lonjak Biaya Produksi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:18 WIB
DH
BW
Penulis: Dwi Haryadi | Editor: BW
Mamik, warga Pakunden, Kota Blitar, saat menggoreng tahu, Sabtu 11 April 2026.
Mamik, warga Pakunden, Kota Blitar, saat menggoreng tahu, Sabtu 11 April 2026. (Beritasatu.com/Dwi Haryadi)

Blitar, Beritasatu.com – Para perajin tahu goreng di Blitar, Jawa Timur, memutar strategi untuk menghadapi lonjakan biaya produksi agar usaha tetap berjalan tanpa merugi.

Para perajin tahu goreng di Kota Blitar dituntut lebih adaptif menghadapi lonjakan biaya produksi yang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga bahan baku hingga kebutuhan penunjang memaksa pelaku UMKM memutar strategi agar usaha tetap bertahan.

Tekanan utama datang dari naiknya harga kedelai yang berdampak langsung pada harga tahu mentah. Selain itu, harga minyak goreng dan plastik kemasan juga mengalami kenaikan signifikan, sehingga menambah beban biaya produksi.

ADVERTISEMENT

Salah satu perajin tahu goreng di Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Mamik, mengungkapkan, kenaikan harga terjadi secara bertahap, tetapi berlangsung terus-menerus.

“Kalau tidak dinaikkan, sudah minus. Jadi untuk 10 biji tahu goreng yang sebelumnya Rp 3.000, sekarang jadi Rp 4.000. Naiknya sedikit, yang penting usaha tetap jalan,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Menurut Mamik, hampir semua komponen produksi mengalami penyesuaian harga. Hal ini membuat margin keuntungan semakin tipis dan menuntut pelaku usaha lebih cermat dalam mengelola pengeluaran.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, ia memilih menaikkan harga jual secara bertahap agar tidak memberatkan pelanggan. Strategi ini dilakukan demi menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli konsumen.

Selain bahan baku utama, biaya tambahan juga datang dari kemasan. Harga plastik mengalami kenaikan cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.

“Dahulu satu bal besar sekitar Rp 1 juta, sekarang sudah naik jadi Rp 1,4 juta,” jelasnya.

Dalam sehari, Mamik mampu mengolah hingga 12 drum tahu mentah. Untuk proses produksi tersebut, ia membutuhkan sekitar 112 liter minyak goreng setiap hari.

Kondisi ini membuat biaya operasional meningkat drastis, terutama karena harga minyak goreng yang belum stabil. Jika tidak disiasati dengan baik, kenaikan tersebut berpotensi menggerus keuntungan secara signifikan.

Para perajin berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok. Dengan begitu, pelaku usaha kecil masih memiliki peluang untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon