ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Deretan Fakta Covid-19 Varian JN.1 yang Melonjak di Indonesia

Senin, 27 Mei 2024 | 17:54 WIB
KR
TE
Penulis: Kharisma Rizkika Rahmawati | Editor: TCE
Ilustrasi menggunakan masker.
Ilustrasi menggunakan masker. (Antara/Muhammad Adimaja)

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan kasus Covid-19 di Indonesia kembali meningkat. Berdasarkan data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) Indonesia 2024, pemicu lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia karena munculnya varian JN.1.

Tercatat pada data laporan mingguan nasional Covid-19 Kemenkes periode 12-18 Mei 2024, ada 19 kasus konfirmasi, 44 kasus rawat ICU, dan 153 kasus rawat isolasi. Tren orang yang dites per minggu mencapai 2.474 orang. Tren positivity rate mingguan di angka 0,65% dan nol kematian.

Dilansir laman Public Health, Senin (27/5/2024), varian SARS-CoV-2 yang disebut BA2.86 muncul beberapa bulan lalu dan menarik perhatian para ahli virus karena mengandung lebih banyak mutasi.

Namun, varian BA2.86 tidak mendominasi jika dibandingkan dengan kelompok varian SARS-CoV-2 lainnya. Varian JN.1 adalah keturunan dari BA2.86 yang bisa menular dengan cepat melalui satu atau dua mutasi tambahan.

ADVERTISEMENT

Virus ini memiliki kemampuan menghindari kekebalan dari induknya, tetapi kini telah bermutasi dan lebih cepat menular. Berikut ini deretan fakta tentang Covid-19 varian JN.1.

1. Gejala varian JN.1 serupa dengan omicron
Peningkatan jumlah kasus yang disebabkan oleh JN.1 sejalan dengan peningkatan kasus Covid-19 secara keseluruhan. Gejala infeksi JN.1 sangat mirip dengan varian omicron sebelumnya, dan tampaknya juga tidak menyebabkan penyakit yang lebih parah. Ada beberapa dugaan JN.1 mungkin menyebabkan lebih banyak diare daripada varian sebelumnya.

2. Periode penularan varian JN.1
Periode penularan JN.1 sangat mirip dengan varian omicron lainnya yang telah beredar selama setahun terakhir. Biasanya penularan terjadi satu hingga dua hari sebelum gejala dimulai, dan masih menular setidaknya selama dua hingga tiga hari setelah gejala dimulai. Pada beberapa orang virus dapat terus dideteksi hingga seminggu setelah timbulnya gejala. Setelah terpapar, mungkin diperlukan waktu lima hari atau lebih sebelum mulai mengalami gejala.

3. Kemungkinan untuk memperbarui vaksin
Vaksin yang dibuat sebelumnya didasarkan pada varian SARS-CoV-2 yang sangat berbeda dengan varian terbaru. Hal ini ditambah dengan fakta kekebalan tubuh dari vaksinasi atau infeksi cenderung menurun dari waktu ke waktu. Artinya Anda tidak akan mendapatkan banyak perlindungan dari Covid-19 jika mengandalkan vaksin dari setahun yang lalu.

Alasannya mirip dengan situasi ketika mendapatkan vaksin influenza tahunan. Saat virus berubah, Anda harus mengganti vaksin yang cocok dengan varian virus JN.1 saat ini.

4. Varian JN.1 berevolusi dengan cepat
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mencatat gejala Covid-19 umumnya cenderung serupa di seluruh varian, dan gejala serta tingkat keparahan biasanya bergantung pada kekebalan tubuh seseorang.

Salah satu aspek yang luar biasa dari JN.1 adalah evolusinya yang cepat. Setelah kemunculannya pertama kali di Amerika Serikat pada September 2023, JN.1 berubah dari menyumbang 3,5% kasus Covid-19 pada pertengahan November menjadi lebih dari 21% sebulan kemudian pada Desember di tahun yang sama, sebelum meningkat menjadi lebih dari 85% pada minggu ketiga Januari 2024.

5. Antisipasi terhadap varian JN.1
Antisipasi terhadap tiga virus, yakni SARS-CoV-2, influenza, dan RSV dengan melakukan vaksin. Vaksin flu dan Covid-19 terbaru tersedia untuk semua orang yang berusia 6 bulan ke atas.

Upaya pencegahan RSV baru diberikan kepada populasi yang paling rentan dan mencakup dua pilihan vaksin untuk orang dewasa berusia 60 tahun ke atas. Ada juga antibodi monoklonal untuk bayi dan balita serta vaksin yang diberikan kepada wanita hamil untuk memberikan antibodi yang akan membantu melindungi bayi mereka yang baru lahir dari RSV sejak lahir hingga 6 bulan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Singgung Covid-19, Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan ke MK

Singgung Covid-19, Dharma Pongrekun Gugat UU Kesehatan ke MK

NASIONAL
IDAI Serukan langkah untuk Antisipasi Hantavirus

IDAI Serukan langkah untuk Antisipasi Hantavirus

LIFESTYLE
Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar, Akankah Jadi Pandemi Baru?

Wabah Virus Hanta di Kapal Pesiar, Akankah Jadi Pandemi Baru?

LIFESTYLE
Varian Covid-19 Cicada Dipastikan Belum Masuk Indonesia

Varian Covid-19 Cicada Dipastikan Belum Masuk Indonesia

LIFESTYLE
Varian Covid-19 Cicada Muncul di Banyak Negara, Ini Gejalanya

Varian Covid-19 Cicada Muncul di Banyak Negara, Ini Gejalanya

LIFESTYLE
Covid-19 Bisa Tinggalkan Dampak Permanen di Otak, Ini Temuannya

Covid-19 Bisa Tinggalkan Dampak Permanen di Otak, Ini Temuannya

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon