ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kuliner Ekstrem Sup Kotoran Sapi Favorit di Guizhou, Berani Coba?

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:01 WIB
SL
SL
Penulis: Surya Lesmana | Editor: LES
Sup kotoran sapi atau cow dung soup.
Sup kotoran sapi atau cow dung soup. (Facebook/South China Morning Post)

Guizhou, Beritastu.com –  Provinsi Guizhou di barat daya Tiongkok memiliki kuliner unik yang mungkin membuat banyak orang ragu untuk mencicipinya, namanya "sup kotoran sapi". Meski namanya terdengar ekstrem, hidangan ini merupakan makanan khas yang sangat dicintai penduduk setempat karena khasiatnya bagi kesehatan.

Secara teknis, sup ini dikategorikan sebagai salah satu contoh "masakan gelap" (dark cuisine) di Tiongkok. Istilah tersebut merujuk pada kombinasi bahan makanan unik yang melampaui standar memasak konvensional tetapi memiliki basis penggemar setia.

Inti dari hidangan ini bukanlah limbah kotoran, melainkan cairan pencernaan dari rumen atau kompartemen pertama perut sapi. Cairan ini diambil dari sisa rumput yang belum tercerna sempurna, lalu dicampur dengan empedu sapi serta rempah-rempah lokal.

ADVERTISEMENT

Proses pengolahan dimulai dengan menumis jahe, bawang putih, daun bawang, dan cabai khas Guizhou. Daging serta jeroan sapi kemudian dimasukkan, lalu disiram dengan campuran sari rumput dan empedu hingga mendidih. Hasilnya adalah kaldu hot pot berwarna hijau zaitun pekat yang aromatik.

Alih-alih berbau busuk, hidangan ini memiliki aroma serupa sup herbal. Rasanya merupakan perpaduan antara gurih daging (umami) dengan sentuhan rasa pahit yang muncul dari empedu dan rempah. Penikmat biasanya menyantapnya dengan saus celup cabai kering untuk menambah tekstur rasa.

Bagi komunitas etnis minoritas seperti Miao dan Dong, cairan rumen dianggap sebagai ekstrak nutrisi alami. Sapi-sapi tersebut diberi makan rumput berkualitas sebelum disembelih, sehingga cairan di perutnya kaya akan klorofil dan enzim pencernaan yang berfungsi layaknya teh herbal.

Menurut prinsip pengobatan tradisional setempat, kaldu ini dipercaya mampu membantu sistem pencernaan dan meningkatkan penyerapan nutrisi. Konsep ini lahir dari adaptasi masyarakat pegunungan Guizhou terhadap lingkungan yang terisolasi dan sumber daya alam yang terbatas.

Namun, tidak semua warga lokal menyukainya. Alex He, koki asli Guizhou dari Anantara Guiyang Resort, mengaku belum berani mencicipi hidangan tersebut. Ia menilai bahan dasarnya sulit diterima secara personal, meski ia mengakui nilai sejarah di baliknya.

Secara historis, masakan Guizhou memang identik dengan rasa asam dan pedas hasil fermentasi cabai. Hal ini berbeda dengan rasa pedas mala khas Sichuan yang membuat lidah mati rasa. Penggunaan hampir seluruh bagian hewan, termasuk isi perut, mencerminkan sejarah perjuangan hidup masyarakat dalam memanfaatkan setiap sumber makanan yang ada.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon