ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hantavirus Jadi Sorotan Dunia, Ini Gejala dan Tip Pencegahannya!

Selasa, 5 Mei 2026 | 10:54 WIB
WS
TE
Penulis: Wasti Marentha Sihombing | Editor: TCE
Ilustrasi hantavirus.
Ilustrasi hantavirus. (Freepik/Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah tiga orang dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi ini di sebuah kapal pesiar pada awal Mei 2026.

Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran luas karena virus yang selama ini identik dengan lingkungan pedesaan ternyata dapat muncul di ruang tertutup seperti transportasi wisata.

Dunia kesehatan internasional pun dikejutkan oleh kemunculan infeksi mematikan ini di lokasi yang tidak terduga. Hantavirus, yang dikenal sebagai patogen zoonosis dari hewan pengerat, kini menjadi perhatian serius bagi pelaku perjalanan global.

ADVERTISEMENT

Kejadian di kapal pesiar tersebut menegaskan risiko infeksi dapat muncul di mana saja selama terdapat interaksi dengan inang pembawa virus. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat penting mengenai perlunya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis.

Untuk memahami risikonya secara utuh, penting menelusuri karakteristik hantavirus, pola penyebaran, hingga langkah medis yang direkomendasikan oleh otoritas kesehatan global.

Apa Itu Hantavirus dan Mengapa Berbahaya?

Menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan terutama oleh hewan pengerat (rodensia). Virus ini dapat menyebabkan berbagai sindrom penyakit serius pada manusia di berbagai belahan dunia.

Nama “hantavirus” berasal dari Sungai Hantan di Korea Selatan, lokasi di mana Ho Wang Lee pertama kali mengisolasi virus ini pada 1978 setelah banyak tentara jatuh sakit selama Perang Korea.

Secara klinis, hantavirus memicu dua sindrom utama berdasarkan wilayah geografis, yakni hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang umum ditemukan di Amerika, dan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) yang banyak terjadi di Eropa dan Asia.

Tingkat fatalitasnya tergolong tinggi. Sebagai gambaran, HPS memiliki angka kematian sekitar 38% dari kasus yang teridentifikasi. Penularannya tidak terjadi melalui interaksi sosial biasa, melainkan melalui paparan material biologis dari tikus yang terinfeksi.

Statistik Global dan Keragaman Strain

Meski kerap dianggap langka, data dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan skala yang cukup besar. Diperkirakan terdapat sekitar 150.000 kasus HFRS setiap tahun di seluruh dunia.

Sebaran kasus paling banyak ditemukan di Asia dan Eropa, dengan Tiongkok menyumbang lebih dari 50% total kasus global. Sementara itu, di Amerika Serikat, pemantauan sejak 1993 hingga 2023 mencatat 890 kasus.

Ancaman ini juga berkembang seiring keberadaan berbagai strain virus. Salah satunya adalah Seoul virus, yang dibawa oleh tikus Norwegia (tikus cokelat).

Berbeda dari strain lain yang terbatas secara geografis, virus ini tersebar secara global, sehingga risiko hantavirus tidak hanya mengintai wilayah pedesaan tetapi juga kawasan perkotaan yang padat.

Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar

Kasus terbaru yang dilaporkan The Guardian pada Senin (4/5/2026), mengungkap investigasi terhadap kematian tiga penumpang kapal pesiar yang menunjukkan gejala pernapasan akut yang konsisten dengan infeksi hantavirus.

Menurut laporan The New York Times, para ahli menjelaskan ruang tertutup dengan sistem ventilasi bersama dapat meningkatkan risiko jika terdapat infestasi hewan pengerat di area tertentu, seperti ruang penyimpanan atau jalur teknis kapal.

Kotoran atau urine tikus yang mengering dapat berubah menjadi partikel halus di udara. Partikel ini kemudian terhirup oleh manusia, sehingga memicu infeksi. Kasus ini menegaskan pentingnya standar sanitasi ketat dalam industri transportasi dan pariwisata.

Banyak orang mengira hantavirus menyebar seperti flu biasa. Padahal, menurut American Lung Association, penularan utamanya terjadi melalui paparan material dari tikus yang terinfeksi. Beberapa jalur penularan yang umum meliputi:

  • Inhalasi (udara): Partikel virus dari kotoran tikus yang mengering terhirup saat udara terkontaminasi.
  • Kontak langsung: Menyentuh permukaan terkontaminasi lalu menyentuh wajah.
  • Gigitan tikus: Kasus ini jarang, tetapi tetap memungkinkan.

Sebagian besar jenis hantavirus tidak menular antar manusia. Namun, terdapat pengecualian langka seperti Andes virus di Amerika Selatan yang dapat menular dalam kondisi kontak sangat dekat.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala hantavirus sering menyerupai flu, sehingga kerap tidak disadari pada tahap awal. Masa inkubasi biasanya berlangsung antara satu hingga delapan minggu setelah paparan, sebagaimana dilaporkan BBC News. Gejala awal meliputi:

  • Demam tinggi dan menggigil.
  • Nyeri otot hebat, terutama di punggung, pinggul, dan paha.
  • Kelelahan, sakit kepala, dan pusing.
  • Mual, muntah, atau diare.

Setelah 4–10 hari, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius, termasuk sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru. Pada tahap ini, pasien membutuhkan penanganan darurat karena risiko gagal napas sangat tinggi.

Respons WHO dan Penanganan Medis

Menanggapi situasi ini, World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya deteksi dini dan perawatan intensif. Melalui publikasi di National Center for Biotechnology Information, WHO menyatakan hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik maupun vaksin yang digunakan secara luas untuk hantavirus.

Penanganan pasien umumnya dilakukan di unit perawatan intensif (ICU), termasuk pemberian oksigen atau bantuan ventilasi untuk mengatasi gangguan pernapasan.

Penelitian yang dipublikasikan di PubMed Central menunjukkan pasien yang mendapatkan perawatan lebih awal memiliki peluang pemulihan yang jauh lebih tinggi.

WHO juga mengingatkan perubahan iklim dan urbanisasi berpotensi meningkatkan interaksi antara manusia dan hewan pengerat, sehingga risiko wabah dapat meningkat di masa depan.

Pencegahan hantavirus berfokus pada upaya meminimalkan kontak dengan hewan pengerat. Baik masyarakat umum maupun pengelola fasilitas publik perlu menerapkan langkah berikut:

  • Pembersihan aman: Hindari menyapu area dengan kotoran tikus tanpa disinfektan.
  • Menutup akses masuk: Pastikan tidak ada celah bagi tikus masuk ke bangunan.
  • Penyimpanan makanan: Gunakan wadah tertutup rapat.
  • Perawatan ventilasi: Bersihkan filter udara secara rutin, terutama di fasilitas umum.

Dengan sanitasi yang ketat dan pemahaman tentang cara penularannya, risiko infeksi hantavirus dapat ditekan secara signifikan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

WHO Laporkan Tambahan Kasus Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

WHO Laporkan Tambahan Kasus Hantavirus dari Kapal Pesiar MV Hondius

INTERNASIONAL
Kapal MV Hondius Didisinfeksi di Rotterdam Seusai Wabah Hantavirus

Kapal MV Hondius Didisinfeksi di Rotterdam Seusai Wabah Hantavirus

INTERNASIONAL
WHO Rampungkan Evakuasi Kapal MV Hondius Hantavirus di Tenerife

WHO Rampungkan Evakuasi Kapal MV Hondius Hantavirus di Tenerife

LIFESTYLE
Kapal di Tanjung Perak Diperiksa Ketat Imbas Ancaman Hantavirus

Kapal di Tanjung Perak Diperiksa Ketat Imbas Ancaman Hantavirus

JAWA TIMUR
1 Orang Positif Hantavirus sejak Januari, Dinkes Jatim: Sudah Sembuh

1 Orang Positif Hantavirus sejak Januari, Dinkes Jatim: Sudah Sembuh

LIFESTYLE
WHO Pastikan Tak Ada Kematian Baru Akibat Wabah Hantavirus

WHO Pastikan Tak Ada Kematian Baru Akibat Wabah Hantavirus

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon