Transformasi Nilai Islam dalam Tradisi Ngabuburit
Rabu, 19 Maret 2025 | 04:14 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bulan Ramadan adalah waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ini adalah bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa sebagai bentuk pengendalian diri, kesabaran, dan peningkatan spiritualitas. Sebagaimana dikatakan dalam QS Al Baqarah ayat 183:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Selama Ramadan, umat Islam memperbanyak ibadah seperti salat, membaca Al-Qur'an, dan berzikir, serta mempererat hubungan dengan sesama melalui amal dan sedekah. Ramadan juga merupakan waktu untuk merenung, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah. Bagi umat Islam di Indonesia, Ramadan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang mempererat tali persaudaraan dan meningkatkan kepedulian sosial.
Selain aktivitas keagamaan individual untuk meningkatkan ketakwaan, ada juga aktivitas sosial yang juga merupakan sebuah transformasi agama dan budaya yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, terutama di Jawa Barat dan sekitarnya, tradisi tersebut dinamakan “ngabuburit”. Kata ngabuburit berasal dari kalimat “ngalantung ngadagoan burit” yang artinya bersantai sambil menunggu sore. Namun, seiring waktu, kata ngabuburit diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan saat waktu sore menjelang berbuka puasa.
Ngabuburit adalah tradisi yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat muslim di Indonesia, khususnya selama bulan Ramadan. Aktivitas ini sebagaimana makna kata ngabuburit yang artinya bersantai sambil menunggu sore, tentu dilakukan pada sore hari menjelang waktu berbuka puasa, di mana orang-orang menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan seperti berjalan-jalan, berkumpul dengan teman-teman, atau berkunjung ke pasar takjil untuk membeli makanan berbuka. Ngabuburit juga menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial antar individu. Banyak orang yang memanfaatkan waktu ini untuk berbagi kebahagiaan, berbincang, atau bahkan melakukan kegiatan amal seperti memberikan makanan kepada yang membutuhkan.
Fenomena ngabuburit menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia memaknai Ramadan dengan cara yang khas, yakni dengan merayakan kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi. Meskipun kegiatan ini bisa sangat beragam, namun tujuannya tetap sama, yakni menantikan waktu berbuka puasa dengan penuh rasa syukur dan penuh rasa bahagia. Ngabuburit menjadi ajang untuk menikmati kebersamaan keluarga, teman, dan sesama umat muslim, serta mengingatkan kita akan pentingnya berbagi dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt selama bulan Ramadan.
Dari banyaknya pilihan aktivitas ngabuburit, Salah satu tradisi ngabuburit yang paling populer di kalangan masyarakat Indonesia adalah berburu takjil, yaitu mencari makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Takjil sendiri diartikan sebagai hidangan yang disiapkan untuk mengawali buka puasa, yang biasanya terdiri dari makanan ringan atau minuman manis seperti kolak, es buah, kurma, atau camilan lainnya. Aktivitas berburu takjil ini menjadi sangat dinantikan setiap sore menjelang waktu berbuka.
Selain itu, terdapat fenomena berbagi takjil yang juga marak dilakukan oleh banyak orang selama bulan Ramadan. Berbagi takjil ini biasanya dilatarbelakangi oleh ajaran agama yang mendorong umat Muslim untuk saling berbagi dan membantu sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan.
Hal ini sesuai dengan hadis riwayat Tirmidzi Nomor 807: “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah nomor 1746 dan Ahmad 5: 192: “Keutamaan memberi makan orang yang berpuasa, di antaranya: Mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berpuasa, Ampunan dosa-dosa, Bebas dari api neraka, Didoakan malaikat”.
Agama menganjurkan untuk memberi makan orang yang sedang berpuasa sebagai bentuk kebaikan dan pahala. Dengan berbagi takjil, tidak hanya memenuhi kebutuhan berbuka, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial antar sesama umat Muslim di bulan yang penuh berkah ini. Ngabuburit dapat dipahami sebagai transformasi budaya yang mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal yang telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia, terutama dalam konteks bulan Ramadan.
Pada dasarnya, ngabuburit bukan hanya sekadar kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa, tetapi juga sebagai suatu bentuk perwujudan dari berbagai nilai sosial yang terkandung dalam masyarakat. Tradisi ini membawa nilai-nilai kearifan yang diwariskan secara turun-temurun, di mana masyarakat diajak untuk mempererat hubungan sosial, berbagi kebahagiaan, dan saling menghormati.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




