ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dewi Astutik Tertangkap, BNN Kian Dekat ke Fredy Pratama?

Rabu, 3 Desember 2025 | 06:30 WIB
S
S
Penulis: Sukarjito | Editor: JTO
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggiring buronan internasional asal Indonesia Dewi Astutik alias Mami alias Dinda (tengah) setibanya dari Kamboja di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/12/2025)
Petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) menggiring buronan internasional asal Indonesia Dewi Astutik alias Mami alias Dinda (tengah) setibanya dari Kamboja di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (2/12/2025) (Antara/Saipul)

Jakarta, Beritastu.com - Penangkapan buronan kelas kakap Dewi Astutik alias PA alias Jinda alias Dinda (43) di Kamboja oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Interpol dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada awal Desember 2025 merupakan langkah strategis yang sangat signifikan dalam perang melawan narkotika.

Dewi Astutik adalah buronan kunci yang terlibat dalam penyelundupan sabu seberat 2 ton dengan nilai fantastis mencapai Rp 5 triliun.

Namun, operasi penangkapan ini bukan merupakan garis akhir, melainkan sebuah titik balik yang mempertegas fokus aparat penegak hukum pada target buronan terbesar Indonesia yang tersisa, yakni Fredy Pratama.

Siapa Dewi Astutik dan Perannya dalam Jaringan Narkotika Internasional

Penangkapan Dewi Astutik memiliki makna ganda. Pada satu sisi, ia adalah pemain sentral dalam jaringan perdagangan narkotika Asia, Eropa, hingga Afrika. Namun, pada sisi lain, penangkapan ini dipercaya menjadi kunci pembuka untuk mengurai jaringan yang lebih besar dan berpengaruh yang didalangi oleh Fredy Pratama.

ADVERTISEMENT

Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto, telah mengonfirmasi berdasarkan hasil analisis intelijen, Fredy Pratama adalah salah satu dari dua nama warga negara indonesia (WNI) yang teridentifikasi mendominasi lalu lintas penyelundupan narkotika di kawasan golden triangle atau segitiga emas.

"Terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi penyelundupan narkoba di kawasan golden triangle yakni Freddy Pratama," kata Suyudi seperti dilansir Antara, Selasa (2/11/2025).

Badan Narkotika Nasional (BNN) berfokus untuk menutup jalur peredaran narkoba dari sindikat segitiga emas yang menjangkau Pulau Sumatera hingga Sulawesi untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk barang haram tersebut. - (Antara/Antara)
Badan Narkotika Nasional (BNN) berfokus untuk menutup jalur peredaran narkoba dari sindikat segitiga emas yang menjangkau Pulau Sumatera hingga Sulawesi untuk melindungi masyarakat dari dampak buruk barang haram tersebut. - (Antara/Antara)

Golden triangle adalah zona produsen utama opium, heroin, dan kini metamfetamina di Asia Tenggara yang mencakup perbatasan Thailand, Laos, dan Myanmar adalah pusat dari industri narkoba global.

Keberadaan gembong asal Indonesia pada pusat rantai pasok ini menunjukkan betapa krusialnya peran mereka dalam membanjiri pasar narkotika di Indonesia dan negara-negara tetangga. Fredy Pratama yang berasal dari Kalimantan telah membangun kerajaan kriminal yang mampu menggerakkan distribusi dari produsen hulu hingga ke hilir di Indonesia.

Pemeriksaan Dewi Astutik dan Upaya Mengungkap Persembunyian Fredy Pratama

Tim penyidik BNN saat ini tengah melakukan pemeriksaan intensif terhadap Dewi Astutik untuk mengurai perannya dan mengungkap jalur distribusi, koneksi logistik, serta tempat persembunyian Fredy Pratama. Setiap informasi yang diperoleh dari Dewi diharapkan dapat memetakan secara utuh hierarki dan modus operandi jaringan yang dipimpin Fredy.

Jaringan yang dikendalikan oleh Fredy Pratama tidak hanya beroperasi dalam skala tonase, tetapi juga menggunakan struktur yang sangat terorganisasi, sering kali dijuluki sebagai narkokartel. Modus operandi mereka dikenal canggih dan berlapis

Jaringan narkotika yang terkait dengan Fredy Pratama dan Dewi Astutik beroperasi dalam skala bisnis yang sangat masif menembus batas-batas yurisdiksi dan sektor ekonomi.

Pada tahun 2023 silam, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri berhasil menggagalkan peredaran narkotika jenis sabu seberat 10,2 ton. Sabu dalam jumlah masif tersebut diketahui dikendalikan oleh sindikat narkoba jaringan Fredy Pratama yang disebut-sebut sebagai Escobar dari Indonesia.

Fredy Pratama diketahui memiliki banyak alias, seperti Miming, The Secret, Cassanova, Air Bag, dan Mojopahit. Pengejaran terhadap Fredy Pratama oleh aparat penegak hukum Indonesia sendiri telah berlangsung sejak tahun 2014 silam.

"Kita lakukan dalam bentuk join operation yang dilakukan juga dengan rekan-rekan kita dari Royal Thailand Police dan Royal Malaysia Police juga dengan US-DEA," ungkap Kabareskim Komjen Pol Wahyu Widada pada April 2023.

Modus Operandi dan TPPU Jaringan Fredy Pratama

Dalam penangkapan itu aparat yang tergabung dari joint force menyebut pola operasi jaringan ini, yakni pertama, dari segi volume dan nilai. Jumlah sabu bertonton yang diedarkan menunjukkan kemampuan jaringan ini menggerakkan produksi dan menjualnya.

Kedua, Fredy Pratama dan jaringannya mahir melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), yakni menyamarkan uang haram dengan investasi siluman, membeli aset mewah, dan memindahkan dana antarnegara untuk menghindari celah regulasi.

Ketiga, untuk menjamin kelancaran operasi distribusi dan keamanan dana. Jaringan ini diduga memiliki keterlibatan multisektor. Pihak-pihak yang membantu ini diduga sebagai penjaga pintu (gatekeeper) dan pelicin yang memfasilitasi kelancaran operasi kriminal mereka.

Kerja Sama Internasional: BNN, Interpol, dan BAIS TNI

Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Badan Intelijen Stategis (Bais) TNI dan Kepolisian Kamboja berhasil menangkap buronan Dewi Astutik alias Kak Jinda. Penangkapan dilaukan di Sihanoukville, ibu kota kota Provinsi Preah Sihanouk yang merupakan daerah pesisir Kamboja pada Senin, 1 Desember 2025. - (Istimewa/-)
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Badan Intelijen Stategis (Bais) TNI dan Kepolisian Kamboja berhasil menangkap buronan Dewi Astutik alias Kak Jinda. Penangkapan dilakukan di Sihanoukville, ibu kota kota Provinsi Preah Sihanouk yang merupakan daerah pesisir Kamboja pada Senin, 1 Desember 2025. - (Istimewa/-)

Keberhasilan penangkapan Dewi Astutik di Kamboja membuktikan model kerja sama antarlembaga, termasuk BNN, Interpol, dan BAIS TNI. Hal ini menunjukkan efektivitasnya dalam menembus batas yurisdiksi dan mengakhiri pelarian bandar-bandar besar.

Keterlibatan BAIS TNI, misalnya, sangat penting dalam menyediakan dukungan intelijen strategis di kawasan perbatasan dan luar negeri, terutama di negara-negara yang memiliki kepentingan keamanan bersama di Asia Tenggara.

BNN mengakui menghadapi kesulitan signifikan saat memburu Dewi Astutik alias Mami, penyelundup dua ton narkotika jaringan internasional. Buronan yang terlibat dalam jaringan gembong Fredy Pratama asal Kalimantan ini kerap berpindah antarnegara, mengharuskan BNN bekerja sama dengan BAIS TNI dan Interpol.

Kepala BNN Komjen Pol Suyudi Ario Seto menjelaskan, kendala utama adalah status Dewi Astutik sebagai bagian dari jaringan internasional yang sangat mobil.

"Kesulitan utama kami adalah karena yang bersangkutan ini bagian dari jaringan internasional yang selama ini berpindah dari satu negara ke negara lain," jelas Suyudi di Tangerang, Selasa (2/12/2025).

Berkat kolaborasi antarinstansi dan diplomasi negara, BNN akhirnya berhasil melacak dan menangkap Dewi Astutik di wilayah Sihanoukville, Kamboja. Dewi Astutik juga diketahui menjadi buronan aparat penegak hukum Korea Selatan.

Ancaman Sosial dan Generasi Muda: Dampak Peredaran Narkoba Masif

Komitmen BNN terhadap pengejaran Fredy Pratama tidak pernah surut. Setiap data yang diperoleh dari interogasi Dewi Astutik diharapkan dapat membuka kotak pandora yang mengarah pada pemetaan aset dan lokasi persembunyian Fredy. Pemutusan rantai jaringan Fredy Pratama adalah tujuan utama, bukan hanya sekadar penangkapan Dewi Astutik.

Fredy Pratama dan Dewi Astutik bukan hanya ancaman hukum, tetapi juga ancaman terhadap masa depan sosial Indonesia. Peredaran narkoba dalam jumlah masif merusak kesehatan masyarakat, meningkatkan angka kriminalitas, dan menghancurkan generasi muda. Oleh karena itu, pengejaran ini adalah bagian integral dari upaya penyelamatan sosial.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan ancaman narkotika di Indonesia telah memasuki fase kritis. Rata-rata 50 orang meninggal dunia setiap hari, atau setara dengan 18 ribu jiwa per tahun dengan korban mayoritas berasal dari kelompok usia produktif 14-25 tahun. BNN menegaskan, bahaya narkoba kini bukan sekadar isu kriminal, melainkan telah menjadi ancaman geopolitik.

Deputi Pencegahan BNN Irjen Pol Muhammad Zainul Muttaqin mengungkapkan, 99 dari 1.386 jenis narkoba baru yang beredar global telah teridentifikasi di Indonesia. Data yang mengejutkan menunjukkan sebanyak 52,97% dari seluruh populasi narapidana di lembaga pemasyarakatan (Lapas) tercatat menjalani hukuman karena kasus narkoba.

"Korban jiwa global yang disebabkan penyalahgunaan narkotika ternyata melebihi jumlah total kematian yang timbul dari konflik bersenjata dan aksi terorisme," kata Zainul, dilansir dari Antara, Selasa (4/11/2025).

Lapas Jadi Pusat Peredaran: Ancaman Generasi Emas 2045

Pada sisi lain, Penasihat Ahli Kapolri Andi Subiakto memperingatkan, kegagalan menangani peredaran narkoba secara serius akan menggagalkan cita-cita generasi emas 2045. Hal ini berpotensi mengubah bonus demografi menjadi bencana demografi.

"Lapas yang alih-alih menjadi tempat rehabilitasi, tetapi kerap menjadi pusat produksi dan peredaran narkoba," ujarnya.

Andi Subiakto menilai Indonesia kini menjadi sasaran utama segitiga emas peredaran narkoba dunia. Ia mendesak BNN untuk meningkatkan keagresifan dan menerapkan pendekatan keras (hard approach), sebab pendekatan lunak (soft approach) dinilai sudah tidak relevan.

Peningkatan praktik jual beli narkotika secara daring (online) yang terhubung dengan judi daring dan prostitusi daring juga memperburuk kondisi sosial yang ada.

Menurut Indonesia Drug Report 2025, jumlah narapidana kasus narkoba mencapai 141.016 orang. Sebanyak 76.712 orang dari jumlah tersebut merupakan bandar, pengedar, penadah, dan produsen. Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi dengan jumlah tahanan narkoba tertinggi pada 2024, mencapai 19.378 orang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dewi Astutik Jadi Bos Kartel Narkoba Direkrut Pria Asal Nigeria

Dewi Astutik Jadi Bos Kartel Narkoba Direkrut Pria Asal Nigeria

JAKARTA
Ini Fakta-fakta Penangkapan Gembong Sabu Dewi Astutik

Ini Fakta-fakta Penangkapan Gembong Sabu Dewi Astutik

NASIONAL
Dari Ponorogo ke Golden Triangle: Kisah Buronan Sabu Dewi Astutik

Dari Ponorogo ke Golden Triangle: Kisah Buronan Sabu Dewi Astutik

NASIONAL
Bea Cukai Ungkap Jejak Dewi Astutik sang Gembong Narkoba Sabu

Bea Cukai Ungkap Jejak Dewi Astutik sang Gembong Narkoba Sabu

BANTEN
Ringkus Dewi Astutik, BNN: Tak Ada Tempat Aman bagi Bandar Narkotika

Ringkus Dewi Astutik, BNN: Tak Ada Tempat Aman bagi Bandar Narkotika

JAKARTA
Detik-detik Dewi Astutik Buronan 2 Ton Sabu Diringkus BNN di Kamboja

Detik-detik Dewi Astutik Buronan 2 Ton Sabu Diringkus BNN di Kamboja

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon