Ujian di Tengah Bencana, Siswa SMP di Pidie Jaya Kembali Bersekolah
Senin, 15 Desember 2025 | 16:17 WIB
Pidie Jaya, Beritasatu.com - Halaman SMP Negeri 1 Mereudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, berbeda dari biasanya. Tidak terlihat barisan rapi siswa berseragam putih biru. Anak-anak justru datang dengan pakaian seadanya, mulai dari kaus, kemeja lusuh, dan sandal jepit.
Setelah 20 hari banjir bandang dan longsor menerjang wilayah tersebut, para siswa akhirnya kembali ke sekolah. Mereka membawa sisa semangat di tengah kehilangan besar akibat bencana.
Mayoritas siswa terpaksa mengenakan pakaian biasa karena seragam sekolah mereka hanyut terbawa arus. Hanya sebagian kecil yang masih memiliki perlengkapan sekolah lengkap.
Hari pertama masuk sekolah bertepatan dengan pelaksanaan ujian semester. Namun bagi siswa SMPN 1 Mereudu, ujian kali ini bukan sekadar tentang nilai, melainkan keberanian untuk bangkit dan kembali ke rutinitas belajar di tengah kondisi yang belum pulih sepenuhnya.
Seluruh proses belajar-mengajar dilakukan dengan sarana terbatas akibat kerusakan fasilitas sekolah dan belum stabilnya pasokan listrik.
Siswa kelas IX A asal Gampong Meunasah Raya, Safri Ilham mengatakan, dirinya terpaksa bersekolah dengan pakaian biasa karena seluruh seragamnya hilang tersapu banjir.
Hingga kini, rumahnya masih dipenuhi lumpur, sementara listrik, air bersih, dan jaringan telepon belum berfungsi normal.
“Semua hilang, rumah, alat elektronik, termasuk seragam sekolah. Tidak ada satu pun pakaian yang selamat,” ujar Safri Ilham kepada wartawan, Senin (15/12/2025).
Safri dan keluarganya saat ini masih tinggal di pengungsian. Ia berharap, pemerintah segera membantu warga Pidie Jaya, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anak.
Kondisi yang sama dialami Fatia Ramadhani. Seluruh seragam sekolahnya hanyut terbawa banjir sehingga ia terpaksa mengikuti ujian dengan pakaian biasa.
“Seragam sekolah semua dibawa banjir. Kami berharap pemerintah bisa membantu sekolah kami, seperti baju, tas, dan buku,” katanya.
Tidak hanya Safri dan Fatia, puluhan siswa lainnya yang terdampak banjir bandang juga kehilangan perlengkapan sekolah. Hingga kini, belum ada bantuan buku maupun seragam yang diterima pihak sekolah.
Kepala SMP Negeri 1 Mereudu, Azizah mengatakan, banjir bandang menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas sekolah. Pagar, toilet, ruang kelas, hingga kursi belajar rusak dan sebagian terbawa arus.
“Anak-anak yang datang dengan pakaian biasa adalah mereka yang terdampak paling parah. Banyak yang rumahnya rusak bahkan hilang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia menyebutkan, sekitar 60% siswa SMPN 1 Mereudu saat ini masih tinggal di pengungsian. Seluruh perlengkapan sekolah tidak sempat diselamatkan saat banjir terjadi.
Sejak hari ketiga pascabanjir, Azizah mengaku menetap di sekolah dengan perbekalan seadanya sambil menunggu siswa-siswanya kembali.
Ia juga menerima laporan bahwa sejumlah siswa sempat mengalami kelaparan hingga tiga hari akibat sulitnya akses bantuan.
Pada hari pertama ujian, pihak sekolah sengaja memberikan soal yang lebih sedikit dan tidak terlalu sulit.
“Mereka masih trauma. Kami tidak ingin membebani. Mereka datang ke sekolah agar bisa merasa senang dan tidak tertekan,” jelasnya.
Ujian yang biasanya berbasis komputer kini dilakukan secara manual karena perangkat tidak dapat digunakan akibat listrik yang belum stabil.
Sebagai upaya pemulihan psikologis, sekolah berencana menggelar kegiatan trauma healing selama dua hari melalui aktivitas pramuka.
Azizah berharap pemerintah daerah dan pusat segera memberikan bantuan berupa seragam, tas, buku, dan perlengkapan sekolah lainnya.
“Mudah-mudahan bantuan segera datang. Anak-anak sangat membutuhkan uluran tangan agar bisa kembali belajar dengan layak,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
BNN Minta Kemenkomdigi Blokir Situs Terindikasi Kejahatan Narkotika




