Niat Salat Tarawih dan Witir Lengkap Beserta Tata Caranya
Rabu, 18 Februari 2026 | 16:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Salat tarawih merupakan ibadah sunah yang menjadi ciri khas bulan Ramadan. Ibadah ini dikerjakan pada malam hari sebagai bagian dari qiyam Ramadan, yaitu menghidupkan malam dengan salat, doa, dan tilawah Al-Qur’an.
Kehadirannya selalu menghadirkan suasana khas, terutama ketika masjid-masjid dipenuhi jemaah yang ingin meraih keberkahan bulan suci. Meski identik dengan pelaksanaan berjemaah di masjid, salat ini tetap sah apabila dilakukan sendiri di rumah.
Biasanya, rangkaian ibadah ini ditutup dengan salat witir sebagai penutup salat malam. Witir sendiri tidak terbatas pada Ramadan, namun pada praktiknya sering dikerjakan setelah tarawih sebagai penyempurna qiamulail.
Waktu Pelaksanaan Salat Tarawih
Salat tarawih dimulai setelah salat Isya dan berakhir ketika waktu Subuh tiba. Rentang waktu ini cukup panjang, sehingga dapat dikerjakan di awal malam setelah Isya maupun di akhir malam sebelum sahur.
Namun demikian, batas akhirnya adalah masuknya waktu Subuh. Jika fajar telah terbit, maka tarawih tidak lagi sah dilaksanakan. Oleh sebab itu, bagi yang ingin mengerjakannya pada penghujung malam, misalnya setelah tahajud, perlu memastikan waktu Subuh belum masuk.
Pada dasarnya, tarawih termasuk bagian dari qiamulail yang dikhususkan pada bulan Ramadan. Inilah yang membedakannya dari tahajud, meskipun keduanya sama-sama termasuk salat malam yang dianjurkan.
Berapa Rakaat Salat Tarawih?
Jumlah rakaat tarawih sejak dahulu menjadi bahan pembahasan di kalangan ulama. Tidak terdapat hadis yang secara eksplisit menyebutkan jumlah pasti rakaat tarawih yang dikerjakan Rasulullah SAW.
Aisyah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah salat malamnya, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, lebih dari sebelas rakaat.
قَالَتْ: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا
Artinya: “Rasulullah tidak pernah salat malam pada bulan Ramadan dan di luar Ramadan lebih dari sebelas rakaat. Beliau salat empat rakaat dengan kualitas dan panjang yang sangat baik, kemudian empat rakaat lagi dengan kualitas yang sama, lalu menutupnya dengan tiga rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim).
Tarawih 8 Rakaat
Sebagian ulama memahami hadis tersebut sebagai 8 rakaat tarawih yang kemudian ditutup dengan tiga rakaat witir, sehingga totalnya sebelas rakaat.
Pendapat ini banyak diikuti kalangan ulama hadis dan sejumlah ulama kontemporer karena dinilai paling mendekati praktik langsung Rasulullah SAW dan secara jelas menyebutkan jumlah rakaatnya.
Namun, ada pula yang menafsirkan bahwa riwayat tersebut merujuk pada keseluruhan salat witir yang berjumlah sebelas rakaat, bukan secara khusus membatasi jumlah tarawih.
Selain itu, terdapat riwayat lain yang menunjukkan adanya variasi dalam salat malam beliau, sehingga memberi ruang keluasan dalam praktik ibadah ini.
Tarawih 20 Rakaat
Di sisi lain, pelaksanaan tarawih sebanyak 20 rakaat memiliki landasan dari praktik para sahabat. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, kaum Muslimin melaksanakan qiyam Ramadan secara berjemaah sebanyak 23 rakaat.
كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً. (أخرجه مالك)
Artinya: “Pada masa Umar bin Khattab, orang-orang melaksanakan qiyam Ramadan sebanyak 23 rakaat” (HR Malik).
Para ulama seperti Imam Malik meriwayatkan praktik tersebut dalam Al-Muwaththa’. Ulama lain menjelaskan bahwa jumlah tersebut terdiri dari 20 rakaat tarawih dan tiga rakaat witir. Riwayat dari Saib bin Yazid juga menguatkan praktik 20 rakaat pada masa Umar.
Pendapat ini kemudian dianut mayoritas ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali. Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ menegaskan bahwa praktik 20 rakaat telah berjalan luas di tengah umat dan memiliki dasar syariat yang kuat.
Dengan demikian, baik 8 maupun 20 rakaat sama-sama memiliki pijakan. Perbedaan ini merupakan bentuk keluasan dalam syariat, bukan alasan untuk diperselisihkan.
Niat Salat Tarawih
Salat tarawih dapat dilakukan secara berjemaah maupun sendiri. Berikut bacaan niatnya:
1. Niat salat tarawih berjemaah (imam)
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat tarawihi rak'ataini mustaqbilal qiblati ada'an imaman lillahi ta'alaa
Artinya: "Saya niat salat sunah tarawih 2 rakaat sebagai imam karena Allah Ta'ala".
2. Niat salat tarawih berjemaah (makmum)
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat tarawihi rak'ataini mustaqbilal qiblati ada'an ma'muman lillahi ta'alaa
Artinya: "Saya niat salat sunah tarawih 2 rakaat sebagai makmum karena Allah Ta'ala".
3. Niat salat tarawih sendiri
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat tarawihi rak'ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta'alaa
Artinya: "Saya niat salat sunah tarawih 2 rakaat karena Allah Ta'ala".
Niat Salat Witir 3 Rakaat
Witir umumnya dilaksanakan setelah tarawih sebanyak tiga rakaat.
1. Niat salat witir berjemaah (makmum)
اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal witri tsalaatsa raka'aatin mustaqbilal qiblati adaan ma'muuman lillahi ta'aala
Artinya: "Saya niat salat sunah witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta'ala".
2. Niat salat witir sendiri
اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal witri tsalaasa raka'aatin mustaqbilal qiblati lillahi ta'alaa
Artinya: "Saya niat salat witir tiga rakaat karena Allah Ta'ala".
Tata Cara Salat Tarawih
Secara umum, tarawih dikerjakan 2 rakaat satu salam. Jumlahnya bisa 8 rakaat dengan empat kali salam atau 20 rakaat dengan sepuluh kali salam.
Berikut langkah-langkahnya:
- Membaca niat sesuai posisi sebagai imam, makmum, atau sendiri.
- Melaksanakan salat sebagaimana salat pada umumnya, dimulai dengan takbiratulihram dan diakhiri salam pada setiap 2 rakaat.
- Membaca doa setelah selesai rangkaian tarawih.
Tata Cara Salat Witir
Berbeda dari tarawih, witir dapat dilakukan di luar Ramadan. Namun pada bulan Ramadan, para ulama menganjurkan pelaksanaannya secara berjemaah setelah tarawih.
Adapun tata caranya sebagai berikut:
- Membaca niat salat witir.
- Melaksanakan tiga rakaat seperti salat biasa, dimulai dengan takbiratulihram dan diakhiri salam, tanpa duduk tahiyat awal pada rakaat kedua. Membaca doa witir berikut:
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْـأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْـأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْـأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْـأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْـأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْـأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْـأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْـأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْـأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْـأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ. اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اللهُ يَا اللهُ يَا اللهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Artinya: “Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang teguh, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, amal yang saleh, dan agama yang lurus. Kami memohon kebaikan yang banyak, ampunan, kesehatan yang sempurna, rasa syukur atas kesehatan, serta kecukupan dari selain-Mu. Ya Allah, terimalah salat, puasa, qiyam, kekhusyukan, kerendahan hati, dan ibadah kami. Sempurnakan segala kekurangan kami. Limpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam".
Salat tarawih merupakan ibadah sunah yang sangat dianjurkan selama Ramadan sebagai bentuk menghidupkan malam dengan ibadah. Baik 8 maupun 20 rakaat memiliki dasar yang kuat dalam syariat. Pelaksanaannya dapat dilakukan sendiri atau berjemaah, lalu ditutup dengan witir sebagai penyempurna.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




