ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kritik Contraflow Lebaran 2026, DPR: Berbahaya!

Senin, 13 April 2026 | 19:03 WIB
EM
HH
Penulis: Erfan Maruf | Editor: HP
Ketua Komisi V DPR, Lasarus
Ketua Komisi V DPR, Lasarus (Beritasatu.com/Ilham Oktafian)

Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan rekayasa lalu lintas contraflow selama arus mudik dan balik Lebaran 2026 menuai kritik dari DPR. Komisi V DPR menilai kebijakan tersebut berisiko dan tidak seharusnya dijadikan solusi utama dalam mengatasi kemacetan.

Ketua Komisi V DPR Lasarus menegaskan, contraflow seharusnya hanya menjadi opsi terakhir dalam manajemen lalu lintas, bukan kebijakan yang rutin digunakan setiap tahun.

"Contraflow harusnya jadi pilihan terakhir, bukan solusi utama," kata Lasarus dalam rapat evaluasi Angkutan Lebaran di gedung DPR RI, Senayan, Senin (13/4/2026).

ADVERTISEMENT

Ia juga mengingatkan bahwa penerapan contraflow berulang kali berpotensi membahayakan keselamatan pengendara maupun petugas di lapangan.

"Contraflow ini juga berbahaya bagi pengendara dan petugas di lapangan," ujarnya.

Menurut Lasarus, tingginya frekuensi penggunaan contraflow mencerminkan lemahnya perencanaan dan manajemen arus lalu lintas saat musim mudik. Ia meminta pemerintah tidak terus bergantung pada solusi jangka pendek untuk mengatasi kemacetan Lebaran.

"Ini tidak bisa terus-terusan kita jadikan pola setiap tahun, harus ada solusi yang lebih permanen. Sudah ketahuan macet titiknya di mana. Di situ-situ saja," ujar Lazarus.

Selain itu, DPR juga mencatat masih adanya sejumlah titik kemacetan, terutama di kawasan pelabuhan dan ruas jalan strategis yang menjadi simpul pergerakan kendaraan saat Lebaran 2026.

"Komisi V melihat koordinasi antarkementerian dan lembaga semakin membaik, tetapi tetap ada catatan yang perlu diperhatikan," kata Lazarus.

Sementara itu, Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengungkapkan penggunaan contraflow yang cukup sering menjadi indikasi keterbatasan kapasitas infrastruktur jalan.

"Contraflow yang terlalu sering ini sebetulnya ada permasalahan di situ, kekurangan terjadinya infrastruktur terhadap supply yang memang harus melewati dari situ," kata Agus.

Contraflow merupakan rekayasa lalu lintas dengan memanfaatkan sebagian lajur dari arah berlawanan untuk menambah kapasitas kendaraan di satu arah, khususnya saat terjadi lonjakan volume kendaraan, seperti pada periode mudik Lebaran.

Data Polri mencatat, selama arus mudik Lebaran 2026, contraflow diterapkan sebanyak 28 kali, sedangkan pada arus balik sebanyak 11 kali. Tingginya frekuensi tersebut menunjukkan ketergantungan terhadap kebijakan darurat untuk mengurai kepadatan lalu lintas.

Agus juga mengakui bahwa kebijakan ini memiliki potensi risiko terhadap keselamatan pengguna jalan.

"Karena biar bagaimanapun, contraflow itu meningkatkan kerawanan dari pengguna jalan itu sendiri," jelasnya.

Evaluasi terhadap pelaksanaan lalu lintas Lebaran 2026 ini diharapkan menjadi dasar perbaikan bagi pemerintah dalam menyusun strategi transportasi yang lebih aman, efektif, dan berkelanjutan di masa mendatang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon