Ajak Mahasiswa Berdialog, Gibran Dinilai Buka Ruang Partisipasi
Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden Gibran Rakabuming mendapat apresiasi dari kalangan akademisi setelah mengajak sejumlah mahasiswa mengikuti kunjungan kerja ke Ende, Gorontalo, dan Papua. Langkah Wakil Presiden RI tersebut dinilai membuka ruang dialog yang lebih luas antara pemerintah dan generasi muda sekaligus mendorong partisipasi publik dalam proses pembangunan.
Pengamat politik dari Universitas Tanjungpura (Untan) Kalimantan Barat, Dr. Erdi, M.Si., menilai mahasiswa merupakan kelompok yang relatif netral dalam memberikan penilaian terhadap kinerja pemerintah. Karena itu, pelibatan mahasiswa dalam agenda kunjungan kerja dinilai sebagai langkah yang tepat.
"Apa yang dilakukan Pak Wapres ini sangat tepat. Karena pihak yang sangat netral dalam berpendapat, berbicara, dan menilai kinerja adalah mahasiswa. Mereka inilah kelompok-kelompok terpelajar yang memang sudah seharusnya terlibat atau dilibatkan dalam pengambilan keputusan," kata Erdi saat dihubungi, Jumat (19/6/2026).
Menurut Erdi, selama ini mahasiswa kerap mencari ruang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada pemerintah. Karena itu, keterbukaan Wapres menerima mahasiswa dan mengajak mereka berdialog menjadi sinyal positif bagi penguatan partisipasi publik dalam proses pembangunan.
Ia menilai langkah tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa wakil presiden enggan berdiskusi dengan kelompok mahasiswa maupun kalangan intelektual.
"Ketika Mas Wapres mau menerima mahasiswa, ini merupakan sebuah langkah berani dan mungkin belum pernah terjadi di negara ini. Mahasiswa berada di tengah hiruk-pikuk demonstrasi, kemudian Mas Wapres mampu menerima orang-orang yang memiliki semangat tersebut untuk berbicara, diajak berdialog, dan diserap aspirasinya. Saya pikir ini preseden yang bagus dan bisa menjadi sesuatu yang baik ke depan," ujar Erdi yang juga merupakan Wakil Dekan III FISIP Untan yang membidangi Kemahasiswaan dan Alumni.
Lebih lanjut, Erdi menilai pelibatan mahasiswa memungkinkan aspirasi kelompok muda tersampaikan langsung kepada pengambil kebijakan. Dengan demikian, kritik dan masukan tidak hanya berhenti pada aksi demonstrasi, tetapi juga dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah.
"Ketika mahasiswa diberikan saluran dan peran, ini menjadi sebuah langkah maju. Artinya, aspirasi mahasiswa sudah langsung sampai kepada pengambil kebijakan. Kita berharap apa yang menjadi aspirasi mahasiswa dapat diwujudkan oleh Mas Wapres dalam bentuk program atau aksi nyata ke depan," tutur Erdi.
Pandangan serupa disampaikan pakar kebijakan publik sekaligus dosen FISIP Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono. Menurutnya, langkah Gibran Rakabuming melibatkan mahasiswa dalam kunjungan kerja dapat membantu mengurangi kesenjangan informasi yang selama ini berkembang di masyarakat, terutama terkait berbagai kebijakan pembangunan pemerintah.
"Untuk mengatasi kesenjangan informasi, metode seperti ini bisa menjadi solusi agar mahasiswa juga mendapat informasi dari sisi upaya pemerintah dalam kebijakan pengelolaan lahan di Papua," kata Kristian.
Ia menilai mahasiswa perlu diberikan kesempatan melihat langsung kondisi di lapangan agar memperoleh informasi yang lebih utuh dan berimbang. Dengan demikian, penilaian yang mereka berikan tidak hanya berdasarkan informasi dari satu sisi, tetapi juga pengalaman langsung selama berada di lokasi.
"Saya rasa ini adalah upaya pemerintah untuk membuat mahasiswa bisa membandingkan antara informasi yang diperoleh dari berbagai sumber dengan informasi versi pemerintah. Artinya, pemerintah mengupayakan ada proses keterbukaan dalam hal ini," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, salah satu isu yang disuarakan sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi adalah usulan penghentian program makan bergizi gratis (MBG). Sebagai pembantu Presiden RI, Wapres memastikan pemerintah tetap berkomitmen melakukan perbaikan tata kelola berbagai program strategis, termasuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Sebagai bagian dari upaya membuka ruang dialog tersebut, lima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi diajak mendampingi kunjungan kerja ke Ende, Gorontalo, dan Papua. Mereka adalah Keletus Sakaro dari Universitas Sanata Dharma, Daffa Ulhaq dari Universitas Indonesia (UI), Nolan Christopher Adam dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Rapid Bena Matin dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), serta Salsabila Maulida dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI).
Melalui pendekatan ini, Gibran Rakabuming dinilai tidak hanya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kritik dan masukan secara langsung, tetapi juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengawal serta mengevaluasi berbagai program pembangunan pemerintah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




