Tahun Baru Imlek

PKL dan Pengemis di Wihara Bahtera Bhakti Keluhkan Penurunan Pendapatan

Senin, 8 Februari 2016 | 15:24 WIB
CF
B
Penulis: Carlos Roy Fajarta | Editor: B1
?Puluhan pengemis berjejer rapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk Wihara Bahtera Bhakti, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara untuk mendapatkan angpao dari warga yang hendak beribadah merayakan Tahun Baru Imlek 2567, Senin (8/2) siang
?Puluhan pengemis berjejer rapi di sisi kiri dan kanan pintu masuk Wihara Bahtera Bhakti, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara untuk mendapatkan angpao dari warga yang hendak beribadah merayakan Tahun Baru Imlek 2567, Senin (8/2) siang (Suara Pembarun/Carlos Roy Fajarta Barus)

Jakarta- Seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap perayaan hari raya Tahun Baru Imlek maka setiap wihara atau klenteng selalu dipenuhi dengan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan pengemis yang mengharapkan rezeki dari warga yang hendak beribadah atau sembahyang.

Hal itu pula yang terjadi di Wihara Bahtera Bhakti di Kompleks Perumahan Pasir Putih, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Puluhan pengemis dan belasan PKL tampak memenuhi wihara tertua di Kota Administrasi Jakarta Utara itu.

Namun, sebagian dari para pengemis dan PKL yang berasal dari Jabodetabek tersebut mengaku pendapatan mereka jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya‎.

Salah satunya yakni, Musidik (40), penjual es krim di area pintu masuk Wihara Bahtera Bhakti. Ia mengaku sejak Pukul 08.00 WIB berjualan di lokasi tersebut baru ada dua orang yang membeli barang dagangannya.

"Sudah sejak 2010 saya jualan di sini. Baru kali ini dagangan saya sepi seperti sekarang ini. Padahal, biasanya kalau tengah hari begini sudah habis semua dagangan saya diserbu pengunjung," ujar Musidik, Senin (8/2) siang.

Ia mengaku ‎jumlah pengunjung juga jauh lebih berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini, menurutnya, hanya setengah dari jumlah pengunjung pada Tahun 2015 lalu.

‎"Mungkin karena kondisi ekonomi juga sedang susah begini kali ya, makanya tidak terlalu ramai yang datang. Kalau dulu ada yang dari Medan, Pontianak, sampai dari Singapura juga ada, sekarang paling dari sekitaran Jakarta saja," tambah Musidik.‎

Hal serupa juga diungkapkan pengemis yang sudah sejak Minggu (7/2) lalu mengantri di depan pintu wihara agar bisa mendapatkan kemurahan hati pemberian angpao dari warga yang beribadah.

Mereka mengaku, pendapatan dari meminta-minta tersebut jauh berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang jauh lebih besar dan lebih ramai pengunjungnya.

Emi (60), salah satu pengemis yang berdomisili di RT11/RW03, Kelurahan Kota Bambu Utara, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat mengaku mengalami penurunan pendapatan hingga 70% dibandingkan Tahun Baru Imlek pada tahun lalu.

"Kalau tahun lalu ya Mas gede dapatnya, dua hari nunggu di sini bisa dapat Rp 600.000. Malah ada yang dapet satu juta rupiah. Ini kita sudah sehari setengah di sini boro-boro bisa dapat Rp 200.000, setengahnya pun belum, enggak ngerti kenapa kok dapatnya tahun ini kecil banget," ungkap Emi.

Padahal, menurutnya, jumlah pengemis yang menunggu bantuan ‎di lokasi ini kurang lebih sama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kalaupun ada muka-muka baru jumlahnya hanya satu atau dua orang saja.

"Sudah dapatnya tidak seberapa, tidak kebagian nasi bungkus yang diberikan oleh pengurus wihara lagi. Jadinya, saya harus beli nasi bungkus sendiri buat saya dan cucu, bukannya dapat uang, malah mengeluarkan uang," tambahnya.

Wanita yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung botol plastik itu meski mengaku kecewa dengan kondisi tersebut namun tetap bersyukur bisa mendapatkan sejumlah rezeki.

"Kita tidak memaksa sama orang yang datang untuk memberi, kalau dikasih ya Alhamdulilah, kalau tidak dikasih ya juga tidak apa-apa, seikhlasnya yang memberi saja," lanjut Emi.

Namun, kondisi tertib dan antri dari para pengemis tidak selamanya berjalan dengan harapan, ada pula satu atau dua orang pengemis yang terus mengejar warga yang hendak beribadah untuk memberikannya angpao.

Melihat kondisi tersebut, ‎petugas Pelayanan, Pengawasan, dan Pengendalian Sosial (P3S) Suku Dinas Sosial Jakarta Utara, Heru Darmawi (50), langsung mengamankan pengemis yang mengejar pengunjung dengan maksud mendapatkan angpao dengan paksa itu.

‎"Saya juga dapat laporan ini dari pengunjung kalau ada pengemis yang terlalu agresif meminta-mintanya sampai menganggu dia beribadah, makanya langsung kita amankan ke mobil tahanan PMKS," kata Heru.

Ia mengaku sudah mengimbau para pengemis tertib dan tidak memaksa warga yang hendak beribadah untuk memberikan angpao kepada mereka, oleh sebab itu mereka diperbolehkan duduk berjejer rapi di depan pintu wihara.

‎"Ini sebagai pemberi efek jera bagi para pengemis yang lainnya agar tidak berbuat serupa dengan pengemis yang meminta dengan nada memaksa itu, kalau mereka mau mencari angpao kita tidak melarang asalkan jangan sampai menganggu orang yang mau beribadah," tegasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon