Pendapatan Anjlok 28 Persen, Harley-Davidson Siapkan PHK Massal
Senin, 16 Februari 2026 | 09:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dewan direksi Harley-Davidson kini tengah berjuang keras untuk membalikkan nasib merek motor legendaris tersebut. Berdasarkan laporan keuangan terbaru untuk kuartal yang berakhir pada 31 Desember 2025, perusahaan asal Milwaukee ini mencatatkan kerugian bersih yang sangat signifikan. Penurunan performa finansial ini berdampak langsung pada merosotnya pendapatan perusahaan hingga mencapai 28 persen.
Dikutip Visordown, Senin (16/2/2026), kondisi sulit ini menjadi tantangan berat bagi sang CEO, Artie Starrs, yang baru saja resmi menduduki kursi kepemimpinan tertinggi pada Agustus 2025 lalu. Belum genap satu tahun menjabat, Starrs sudah dihadapkan pada pilihan pahit untuk menyelamatkan masa depan perusahaan. Salah satu strategi utama yang akan diambil adalah pengurangan jumlah tenaga kerja atau PHK demi menjaga stabilitas keuangan.
Starrs menargetkan pemangkasan biaya operasional hingga mencapai angka 150 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,3 triliun. Langkah ini dianggap perlu untuk menyesuaikan struktur perusahaan dengan kondisi pasar saat ini. Menurut Starrs, biaya overhead korporat dan kapasitas manufaktur yang dimiliki Harley-Davidson sekarang dirancang untuk volume penjualan yang jauh lebih tinggi daripada permintaan pasar yang ada.
"Kami sedang melakukan tinjauan menyeluruh terhadap basis biaya dan pengeluaran operasional kami, dengan dukungan dari spesialis pihak ketiga," ujar Starrs dalam keterangannya.
Ia menegaskan bahwa adanya ketidaksesuaian antara kapasitas produksi dan permintaan konsumen akan segera ditangani secara langsung untuk menghentikan pembengkakan biaya yang tidak perlu.
Meski pihak manajemen belum merinci secara detail berapa banyak karyawan yang akan terdampak atau posisi apa saja yang terancam, juru bicara perusahaan telah mengonfirmasi bahwa pengurangan jumlah staf adalah bagian dari rencana efisiensi tersebut. Ketidakpastian ini tentu membawa awan mendung bagi ribuan karyawan yang selama ini menggantungkan hidup pada pabrikan motor ikonik tersebut.
Situasi yang dialami Harley-Davidson sebenarnya mencerminkan kondisi industri powersports secara lebih luas. Saat ini, pasar global tengah berjuang menghadapi melemahnya kepercayaan konsumen dan tingginya biaya pinjaman (suku bunga). Selain itu, situasi geopolitik yang tidak menentu membuat masyarakat cenderung menahan pengeluaran untuk barang-barang mewah atau hobi, termasuk motor gede.
Bagi Starrs, merampingkan pengeluaran dan menyelaraskan produksi dengan permintaan riil bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan finansial. Jika Harley-Davidson tidak segera melakukan perombakan besar, perusahaan terancam akan terus terombang-ambing di tengah ketidakpastian ekonomi global yang diibaratkan seperti laut yang sedang bergejolak.
Apakah langkah-langkah drastis ini cukup untuk memulihkan momentum Harley-Davidson atau tidak, baru akan terjawab dalam beberapa kuartal ke depan. Namun yang pasti, dunia otomotif akan menyaksikan apakah Harley-Davidson versi "lebih ramping" ini mampu menavigasi pasar global yang sulit dan bertransformasi menjadi merek yang lebih tangguh di masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




