Manchester United Kalah dari Chelsea Soal Cuan Pemain Akademi
Jumat, 3 April 2026 | 09:13 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Akademi Manchester United telah lama dikenal sebagai salah satu pabrik talenta sepak bola terbaik di dunia. Beberapa nama terkenal muncul dari didikan Carrington, sebut saja anak-anak Class o f 92 hingga Paul Pogba, Kobbie Mainoo hingga talenta muda Chido Obi.
Namun, sebuah laporan terbaru dari CIES Football Observatory yang dikutip The Mirror, Jumat (3/4/2026) mengungkapkan fakta mengejutkan. Dalam laporan itu United justru tertinggal jauh dari para rivalnya dalam hal mengeruk keuntungan finansial dari penjualan pemain muda tersebut.
Dalam industri sepak bola modern, menjual pemain lulusan akademi telah menjadi strategi vital. Di bawah aturan Profitability and Sustainability Regulations (PSR) Premier League, dana hasil penjualan pemain akademi dicatat sebagai "keuntungan murni" karena klub tidak mengeluarkan biaya transfer saat mendatangkan mereka. Hal ini menjadi penyelamat bagi neraca keuangan klub agar terhindar dari sanksi pengurangan poin.
Statistik menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Chelsea memimpin daftar klub Inggris paling sukses dengan total pendapatan mencapai £ 386 juta (sekitar Rp 7,7 triliun) dari 33 penjualan. Kepindahan Mason Mount ke Manchester United sendiri menyumbang 16% dari total pendapatan tersebut.
“Efisiensi Chelsea dalam memoles dan menjual pemain muda menjadi standar emas baru di Liga Inggris,” tulis laporan tersebut.
Menyusul di posisi kedua adalah Manchester City yang berhasil mengumpulkan £ 353 juta (sekitar Rp 7 triliun) dari 35 penjualan pemain akademi. Salah satu kesuksesan terbesar mereka adalah penjualan Cole Palmer ke Chelsea, yang berkontribusi sebesar 12% dari total pendapatan mereka. Hal ini membuktikan bahwa City tidak hanya fokus membeli pemain bintang, tapi juga sangat serius dalam bisnis pengembangan pemain.
Kejutan muncul dari Aston Villa yang menempati posisi ketiga di Inggris. Meski hanya melakukan 13 penjualan, mereka mampu meraup £ 265 juta (sekitar Rp 5,3 triliun). Angka ini sangat terbantu oleh transfer fantastis Jack Grealish ke Manchester City, yang mencakup 39% dari total pemasukan mereka. Hal ini menunjukkan betapa berharganya satu talenta elit bagi stabilitas keuangan klub papan tengah.
Manchester United sendiri harus puas berada di urutan keempat di Inggris dengan pendapatan £ 237 juta (sekitar Rp4,7 triliun). Penjualan terbesar mereka terjadi pada musim panas lalu, yakni saat Alejandro Garnacho hijrah ke Chelsea, yang menyumbang 17% dari total angka tersebut. Di bawah United, terdapat Arsenal (£ 236 juta) dan Tottenham Hotspur (£ 234 juta) yang membuntuti dengan selisih yang sangat tipis.
Jika melihat peta persaingan global, posisi klub-klub Inggris masih berada di bawah bayang-bayang klub Portugal, Benfica. Klub asal Lisbon tersebut menduduki kasta tertinggi di dunia dengan pendapatan luar biasa sebesar £ 514 juta (sekitar Rp 10,2 triliun) dari 38 penjualan. Keberhasilan mereka menjual Joao Felix ke Atletico Madrid menjadi tonggak sejarah keuntungan terbesar mereka.
Posisi United bahkan semakin merosot jika hanya melihat statistik dalam lima tahun terakhir. Dalam periode yang lebih pendek tersebut, United turun ke peringkat ketujuh dengan pendapatan £ 192 juta. Sementara itu, Chelsea tetap kokoh di puncak dengan raihan £ 320 juta. Hal ini menjadi sinyal bagi manajemen United bahwa mereka perlu lebih agresif dalam mengelola aset pemain muda agar bisa bersaing secara finansial di masa depan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




