Andra Soni: Masyarakat Baduy Mengajarkan Kita Taat Lestarikan Alam
Sabtu, 25 April 2026 | 22:49 WIB
Serang, Beritasatu.com – Gubernur Banten Andra Soni menyambut langsung kedatangan 1.552 masyarakat adat Baduy Dalam dan Baduy Luar yang merayakan tradisi Seba Baduy 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Sabtu (25/4/2026). Mereka turut menyampaikan aspirasi terkait pelestarian alam kepada pemerintah.
Seba Baduy 2026 yang mengusung tema "Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat" menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan kelestarian lingkungan. Seba tahun ini tergolong Seba Leutik yang dilaksanakan setelah masyarakat Baduy menyelesaikan ritual puasa 3 bulan atau kawalu.
Andra Soni mengatakan kehadiran masyarakat Kanekes tersebut memiliki makna penting bagi pemerintah. Baginya, Seba Baduy bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat luas.
"Masyarakat Kanekes mengajarkan kepada kita untuk taat kepada aturan dan melestarikan alam. Kita akan belajar dari mereka karena kehidupan mereka dipenuhi dengan pantangan untuk menjaga keseimbangan. Kita jadikan masyarakat adat Kanekes sebagai tuntunan, bukan sekadar tontonan," ujar Andra Soni.
Andra menambahkan, pemerintah memberikan suguhan hiburan sebagai bentuk apresiasi sekaligus membuka ruang interaksi dua arah. Langkah ini diharapkan memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat adat.
Kepala Desa (Jaro Pamarentah) Kanekes, Jaro Oom menyampaikan pesan dari para pimpinan adat atau puun terkait kondisi lingkungan. Ia menyoroti kerusakan di wilayah pegunungan dan sungai di sekitar permukiman Baduy akibat perambahan hutan.
"Ada amanah dari lembaga adat bahwa ada sungai dan gunung yang mengalami perambahan dan kerusakan. Kami minta bantuan pak gubernur dan ibu bupati, karena itu keluh kesah kami semua terkait dampak kerusakan hutan," kata Jaro Oom.
Menanggapi hal tersebut, Andra Soni menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti laporan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Laporan tersebut akan ditangani secara khusus sebagai bentuk respons terhadap aspirasi masyarakat adat.
Meski berstatus Seba Leutik, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Perbedaan dengan Seba Gede terletak pada jenis seserahan yang dibawa.
"Kalau Seba Gede ada alat dapur khusus yang dibawa. Sekarang yang dibawa adalah hasil bumi dan Laksa untuk ritual nanti malam. Namun intinya tetap sama, silaturahmi agar Banten maju dan masyarakat sejahtera," jelas Jaro Oom.
Keteguhan masyarakat Baduy Dalam dalam perayaan Seba terlihat dari perjalanan panjang yang ditempuh. Mereka berjalan kaki sejauh 135 kilometer dari Desa Kanekes menuju Kota Serang tanpa menggunakan alas kaki.
Seba Baduy 2026 yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) juga menghadirkan unsur modern. Pemerintah Provinsi Banten memperkenalkan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Baduy Entrance untuk mendukung pengelolaan kunjungan wisata.
Puncak rangkaian acara berlangsung, Sabtu (25/4/2026) melalui karnaval "Rampak Seba Nusantara" yang melibatkan delegasi dari delapan kabupaten/kota di Banten. Masyarakat juga dapat menikmati pasar kerajinan Baduy, pameran UMKM, hingga pertunjukan tradisional seperti debus, wayang golek, dan teater musikal di Alun-alun Barat Kota Serang.
Tradisi Seba Baduy diharapkan terus memperkuat identitas budaya Banten sekaligus menjadi ruang kolaborasi lintas generasi dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




