ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Arah Baru Penghematan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 14:11 WIB
SM
SM
Penulis: Salman Mardira | Editor: SMR
Presiden Prabowo Subianto (tengah) saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis, 9 April 2026.
Presiden Prabowo Subianto (tengah) saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik milik PT VKTR Sakti Industries di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis, 9 April 2026. (Beritasatu.com/BPMI Setpres)

Djoko juga menyoroti pentingnya pengembangan mikromobilitas, seperti sepeda listrik dan skuter dengan dukungan jalur khusus guna mendukung perjalanan jarak pendek yang ramah lingkungan. Selanjutnya, optimalisasi logistik berbasis jalur rel menjadi strategi penting karena angkutan barang menggunakan kereta api dinilai jauh lebih efisien dibandingkan transportasi jalan berbasis truk.

Ia mendorong percepatan pembangunan jalur rel ganda serta reaktivasi jalur lama di Pulau Jawa dan Sumatera agar distribusi logistik dapat beralih ke moda yang lebih hemat energi.

Selain itu, pengembangan bahan bakar nabati, seperti biodiesel B40 dan B50, perlu terus dilanjutkan secara seimbang guna mendukung ketahanan energi sekaligus menjaga stabilitas pangan nasional Indonesia ke depan.

"Melalui integrasi kebijakan yang komprehensif, mulai dari reformasi subsidi, dukungan terhadap produksi bus listrik nasional, hingga optimalisasi logistik jalur rel, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari krisis energi," pungkas Djoko.

ADVERTISEMENT
Ilustrasi pengguna mobil listrik mengisi daya melalui stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) - (Beritasatu.com/David Gita Roza)
Ilustrasi pengguna mobil listrik mengisi daya melalui stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) - (Beritasatu.com/David Gita Roza)

Kepala Laboratorium Energi Baru Terbarukan (EBT) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Ahmad Agus Setiawan mengatakan transisi energi menjadi kebutuhan mendesak di tengah dinamika geopolitik global yang kerap dipicu oleh perebutan sumber energi.

“Kalau kita mengikuti peta geopolitik, krisis seperti ini bukan hal yang baru. Perang itu selalu mencari sumber energi. Sementara, dunia ke depan berencana menekan produksi emisi. Ini akan sangat menyulitkan mereka yang tidak siap, sehingga kita perlu segera meninggalkan kenyamanan energi masa lalu, bergeser ke alternatif sumber energi lain,” katanya.

Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar dan tingkat konsumsi energi yang tinggi, Indonesia berkontribusi terhadap emisi karbon dunia. Meski kaya sumber daya, seperti nikel dan batu bara, ketergantungan terhadap energi fosil dinilai tidak berkelanjutan. Untuk itu, diperlukan pengembangan energi baru dan terbarukan.

Reporter: Erfan Ma'ruf, Addin Anugrah Siwi, Chandra Adi Murwidya, Antara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dominasi Konsumsi Energi Sektor Transportasi Harus Diubah ke Listrik

Dominasi Konsumsi Energi Sektor Transportasi Harus Diubah ke Listrik

EKONOMI
Gangguan Minyak Picu Tren Sepeda Listrik sebagai Alternatif

Gangguan Minyak Picu Tren Sepeda Listrik sebagai Alternatif

OTOTEKNO
Hemat Energi, Bahlil Pesan: Kalau Pulang Matikan Lampu Ruangan

Hemat Energi, Bahlil Pesan: Kalau Pulang Matikan Lampu Ruangan

EKONOMI
WFH ASN Bikin Lalu Lintas Jakarta Lebih Lancar

WFH ASN Bikin Lalu Lintas Jakarta Lebih Lancar

JAKARTA
RI Diminta Tiru Malaysia Soal Penyaluran Subsidi BBM

RI Diminta Tiru Malaysia Soal Penyaluran Subsidi BBM

EKONOMI
Aktivitas Pesawat Tempur TNI Tak Dikurangi meski Dibatasi Pakai BBM

Aktivitas Pesawat Tempur TNI Tak Dikurangi meski Dibatasi Pakai BBM

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon