ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

RI Diminta Tiru Malaysia Soal Penyaluran Subsidi BBM

Jumat, 10 April 2026 | 05:32 WIB
EM
MK
Penulis: Erfan Maruf | Editor: MBK
Ilustrasi pengisian BBM di SPBU Pertamina
Ilustrasi pengisian BBM di SPBU Pertamina (Beritasatu.com/Joanito De Saojoao)

Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah Indonesia dinilai perlu memperbaiki sistem subsidi bahan bakar minyak (BBM) agar lebih tepat sasaran, dengan mengombinasikan pendekatan harga terjangkau dan pengaturan kuota konsumsi.

Pengamat energi Sofyano Zakaria mengatakan langkah tersebut penting untuk mencegah pemborosan serta meningkatkan efisiensi anggaran negara.

“Kalau tidak berani berubah, kita akan terus membakar uang negara tanpa hasil yang adil,” ujar Sofyano dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, perbedaan utama antara sistem subsidi BBM di Malaysia dan Indonesia terletak pada keberanian dalam menata distribusi agar lebih tepat sasaran.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan Malaysia telah menerapkan sistem subsidi berbasis kuota dan identitas individu, sehingga distribusi lebih terkontrol.

“Malaysia tidak hanya menjual BBM murah, tetapi juga mengatur siapa yang berhak dan berapa banyak yang boleh dikonsumsi. Ini langkah yang rasional,” ujarnya.

Di Malaysia, subsidi BBM seperti RON95 diberikan dengan kuota sekitar 200 liter per bulan per individu. Jika konsumsi melebihi batas tersebut, masyarakat harus membeli dengan harga pasar.

Skema tersebut dinilai mampu menekan pemborosan sekaligus memastikan subsidi dinikmati oleh kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Sementara itu, Indonesia dinilai masih mengandalkan kebijakan harga murah, tetapi belum diimbangi dengan pengendalian distribusi yang kuat.

“Indonesia masih ragu untuk menaikkan harga atau membatasi konsumsi, sehingga subsidi justru dinikmati kelompok yang tidak berhak, termasuk pemilik kendaraan besar dan industri,” kata Sofyano.

Ia menambahkan, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar memang relatif terjangkau. Namun, tanpa pembatasan konsumsi yang tegas, kebijakan tersebut menjadi tidak efisien dan membebani APBN.

“Ini bukan soal murah atau mahal, tetapi soal tepat sasaran,” tegasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Transportasi Umum Dinilai Lebih Tepat daripada Subsidi BBM

Transportasi Umum Dinilai Lebih Tepat daripada Subsidi BBM

EKONOMI
Pengamat Usul Subsidi BBM Dialihkan ke Transportasi Publik

Pengamat Usul Subsidi BBM Dialihkan ke Transportasi Publik

EKONOMI
Harga Pertamax Naik, Pemerintah Diminta Waspadai Beban Subsidi BBM

Harga Pertamax Naik, Pemerintah Diminta Waspadai Beban Subsidi BBM

EKONOMI
Purbaya Keluarkan Rp 203,7 Triliun untuk Bayar Kompensasi dan Subsidi

Purbaya Keluarkan Rp 203,7 Triliun untuk Bayar Kompensasi dan Subsidi

EKONOMI
Menperin Temui Menkeu Bahas Insentif EV dan Industri Nasional

Menperin Temui Menkeu Bahas Insentif EV dan Industri Nasional

EKONOMI
Purbaya: Inflasi 2,42% Terkendali Berkat Intervensi Harga Energi

Purbaya: Inflasi 2,42% Terkendali Berkat Intervensi Harga Energi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon