Pariwisata, Perikanan, dan Sawit Sokong Ekonomi Nasional
Kamis, 26 Oktober 2023 | 09:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Sektor pariwisata, perikanan, dan perkebunan sawit masih sangat potensial dikembangkan di masa depan sebagai penyokong pertumbuhan ekonomi, penyerap tenaga kerja, dan sumber devisa negara. Hanya saja, pengembangan ketiga sektor itu membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kondusif dan kolaborasi apik antarpemangku kepentingan.
Demikian terungkap saat Special Session bertajuk Indonesia’s Potensial Growth Sectors dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 yang digelar di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10/2023). Dalam sesi tersebut hadir CSO of Plataran Indonesia Anandita Makes Adoe, Senior Vice President of Fish Business eFishery Junandar Panggabean, dan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono sebagai pembicara.
Anandita Makes Adoe menyatakan, sektor pariwisata berpengaruh cukup besar pada produk domestik bruto (PDB) nasional dengan kontribusi 3-5 persen dan penyumbang devisa terbesar kedua setelah minyak dan gas. Pariwisata juga sektor yang mampu bangkit pascapandemi, arus wisatawan mancanegara (wisman) ditargetkan 5,5 juta kunjungan pada 2022 tapi realisasinya 8 juta kunjungan.
"Pariwisata tidak hanya sangat penting bagi ekonomi nasional, tapi juga mampu memberikan multiplier effect ke sektor lain, seperti edukasi serta pelestarian alam dan budaya, juga berkontribusi ke aksi iklim global melalui penerapan responsible tourism," papar Anandita.
Sementara itu, Junandar menjelaskan, konsumsi ikan budi daya air tawar tumbuh signifikan dalam tiga tahun terakhir, dari 1,1 juta ton dan kini menjadi 1,6 juta ton. Saat ini, ikan memang belum menjadi pilihan menarik untuk sumber protein, mayoritas masyarakat lebih menyukai ayam. Dengan situasi tersebut, peluang pengembangan sektor perikanan masih sangat menjanjikan.
"Apalagi, saat ini jumlah petani pembudi daya ikan air tawar baru sekitar 1,5 juta orang, baik mandiri, kelompok, maupun intensif, sehingga sektor tersebut masih bisa terus dikembangkan dengan memberi akses finansial, teknologi, dan pasar ke para pembudi daya itu," jelas dia.
Eddy Martono memaparkan, tanpa sawit, neraca perdagangan Indonesia akan negatif. Sumbangan devisa sawit pada 2022 mencapai US$ 39 miliar atau hampir Rp 600 triliun.
"Tidak ada sawit, neraca dagang kita minus. Betapa hebatnya sawit, apalagi sektor ini juga memberikan lapangan kerja bagi 16 juta orang, ibaratnya bisa bikin partai sawit Indonesia, menguasai hajat hidup orang banyak karena hampir 24 jam masyarakat kita hidup bersama sawit melalui produk-produknya," ujar dia.
Melalui program B35, sawit juga membantu menekan pengeluaran devisa untuk impor solar. Sayangnya, sektor sawit kini dihajar dari semua arah, baik dari luar maupun dalam negeri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




