ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tiga Hal yang Dibutuhkan OKA untuk Berkembang

Jumat, 2 Agustus 2013 | 17:12 WIB
ES
B
Penulis: Elvira Anna Siahaan | Editor: B1
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu (Antara)

Jakarta - Orang Kreatif atau yang disingkat dengan OKA sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Hal itulah yang ditegaskan tiga penggagas di bidang kreatif, yakni Shinta W. Dhanuwardoyo (pendiri Bubu.com), Rachman Imron (pencipta portal mainan Dread Out), dan Mochammad Arfan (Direktur Utama Dunia Catfish Kreatif Media), dalam jumpa pers laporan akhir bulan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, di Balairung Sapta Pesona Jakarta, Kamis (1/8).

Ketiga OKA yang disebutkan di atas meminta pemerintah dalam hal ini, Mari Elka Pangestu sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, untuk mendukung upaya mereka mengembangkan industri berbasis kreativitas di Indonesia.

"Kami sebagai pelaku bisnis di dunia kreatif masih kurang mendapat dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Padahal, bisnis di dunia kreatif ini sangat menjanjikan. Karena itu kami berharap Menteri Mari Elka bersedia selalu mendukung upaya dan usaha yang orang-orang kreatif lakukan," ungkap Imron.

Untuk mengembangkan dunia OKA, Shinta mengemukakan, ada tiga hal yang dibutuhkan. OKA harus didukung dengan ekosistem yang kuat, investasi, dan distribusi. Tanpa tiga hal tersebut, sulit rasanya industri kreatif di Indonesia berkembang.

ADVERTISEMENT

Ambil contoh negara Korea dan Hong Kong, industri kreatifnya berkembang pesat. Dua negara ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Bahkan sampai pada hal promosi boyband Korea, film Korea, dan lagu-lagu Korea, mendapat dukungan pemerintah.

Berkaca dari negara Korea, Shinta yakin orang kreatif di Indonesia tidak kalah banyaknya. Hanya saja, OKA di Indonesia belum mendapat dukungan penuh. Ditambah lagi, masyarakat Indonesia masih belum sadar akan pentingnya kehadiran OKA.

Pandangan Shinta tentang rendahnya kesadaran masyarakat pada keberadaan OKA juga diakui Imron. Pria kreatif pendiri portal mainan Dread Out ini mengatakan, masyarakat Indonesia masih menyukai hal-hal yang berbau gratis. Semisal, pemakai Android dan pengguna produk Apple di Jakarta banyak. Tetapi seberapa banyak si pengguna mau membeli sebuah aplikasi berbayar? Kebanyakan pengguna hanya mau men-dowload aplikasi yang gratis. Padahal, untuk urusan kreativitas seharusnya tidak ada yang gratis.

"Khusus untuk fitur permainan di Android atau Ipad, masih banyak pengguna yang mencari kata-kata free. Padahal penggila permainan di luar negeri sangat sadar, bahwa aplikasi kreatif tidak ada yang gratis. Jadi bila mau memajukan industri kreatif, kesadaran masyarakat wajib dibangun," ungkap Imron.

Sementara itu, Mari Elka juga mengatakan bahwa OKA membutuhkan tempat kreatif. Dimana tempat kreatif tersebut bisa menimbulkan ide-ide kreatif lainnya. Untuk itu, pemerintah berjanji akan mendukung kegiatan orang kreatif, termasuk juga memberi bantuan dalam pemasaran dan investasi.

"Kami mulai melakukan banyak cara agar Indonesia dikenal sebagai negara kreatif. Mulai dari memilih empat kota kreatif, hingga mencari komunitas berbasis kreativitas. Namun pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Kami tetap membutuhkan dukungan masyarakat agar mau menghargai hasil karya kreatif anak bangsa," tambah Mari.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT