Pertemuan Buntu, AS-China Sepakat Tunda Perang Tarif 90 Hari
Rabu, 30 Juli 2025 | 08:08 WIB
Stockholm, Beritasatu.com - Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan China sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata tarif 90 hari, setelah dua hari perundingan. Perundingan konstruktif di Stockholm bertujuan meredakan perang dagang yang semakin memanas antara dua ekonomi terbesar dunia.
Tidak ada terobosan besar yang diumumkan, dan para pejabat AS mengatakan bahwa keputusan memperpanjang gencatan senjata perdagangan, yang berakhir pada 12 Agustus 2025, berada di tangan Presiden Donald Trump. Menteri Keuangan AS Scott Bessent yakin Trump tidak akan menolak perpanjangan tersebut.
"Pertemuan-pertemuan itu sangat konstruktif. Hanya saja kami belum memberikan tanda tangan," kata Bessent seperti dilansir dari Reuters, Rabu (30/7/2025).
Sewaktu Trump kembali ke Washington setelah mengunjungi Skotlandia, tempat dia menandatangani perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa. Trump pun mengatakan Bessent baru saja memberinya gambaran tentang perundingan China.
"Dia merasa sangat senang dengan pertemuan itu, lebih baik daripada yang dia rasakan kemarin," kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
Setelah berbulan-bulan mengancam tarif tinggi terhadap mitra dagang, Trump telah mengamankan pakta perdagangan dengan Uni Eropa, Jepang, Indonesia, dan negara-negara lain. Namun, China yang memiliki logam tanah jarang, membuat perundingan ini menjadi sangat rumit.
Bessent mengatakan kepada wartawan bahwa dia akan bertemu dengan Trump pada hari Rabu (30/7/2025) waktu setempat, setelah keduanya kembali ke Washington, dan presiden akan memiliki keputusan akhir tentang perpanjangan apa pun.
Perpanjangan 90 hari lainnya merupakan salah satu opsi, tambah Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. "Kami memang mengadakan pertemuan yang konstruktif, untuk membahas laporan positif tersebut. Namun, perpanjangan jeda, dia yang akan memutuskan," kata Greer.
Pertemuan di Stockholm juga mencakup diskusi panjang mengenai ekonomi AS dan China, dengan Greer dan Bessent menekankan perlunya China beralih dari ekonomi manufaktur, yang dipimpin negara dan berorientasi ekspor, menjadi ekonomi yang didorong oleh peningkatan permintaan konsumen, yang akan membantu ekspor AS.
"Kerja sama antara China dan Amerika Serikat akan menguntungkan kedua belah pihak, sementara jika mereka berseteru, keduanya akan dirugikan," menurut pernyataan pertemuan tersebut dari kantor berita pemerintah China, Xinhua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




