ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ESG Jadi Kunci Minat Investor Global di Sektor Pertambangan

Jumat, 1 Agustus 2025 | 15:37 WIB
BI
AD
Penulis: Bambang Ismoyo | Editor: AD
Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Anggawira
Sekretaris Jenderal BPP Hipmi Anggawira (Beritasatu.com/Mita Amalia Hapsari)

Jakarta, Beritasatu.com - Implementasi environmental, social, and governance (ESG) di berbagai sektor industri disebut sangat memengaruhi minat investasi, termasuk di lini bisnis pertambangan mineral dan batu bara.

Ketua Asosiasi Pemasok Energi, Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) Anggawira mengatakan, terdapat tiga poin utama keterkaitan antara ESG dan ketertarikan investor untuk menanamkan modal di sektor pertambangan. Pertama, investor global kini semakin selektif dalam menilai aspek ESG.

“Hal ini terlihat dari lembaga keuangan besar seperti BlackRock, IFC, atau sovereign wealth fund di Eropa dan Timur Tengah yang mensyaratkan kriteria ESG sebagai syarat dasar investasi,” kata Anggawira kepada Beritasatu.com, Jumat (1/8/2025).

ADVERTISEMENT

Ia menambahkan, green taxonomy dan sustainability-linked financing kini juga telah menjadi norma baru.

Kedua, penerapan ESG dinilai dapat menurunkan risiko investasi. Sebagai contoh, tambang yang beroperasi tanpa standar lingkungan dan sosial berpotensi menghadapi gangguan sosial (social license to operate), konflik agraria, hingga risiko hukum.

Ketiga, pasar komoditas global kini berorientasi pada ESG. Pasar Eropa dan Jepang, misalnya, telah mulai menerapkan standar karbon untuk impor batu bara dan logam.

“Ke depan, komoditas yang tidak memiliki jejak karbon rendah atau asal-usul yang jelas bisa kehilangan akses pasar,” ujarnya.

Menurut Anggawira, komitmen terhadap ESG dalam industri pertambangan kini menjadi salah satu faktor kunci dalam menarik minat investor, baik domestik maupun asing.

“Namun pengaruhnya tidak sesederhana ya atau tidak, melainkan bersifat selektif dan transformasional,” tegasnya.

Dari sisi lingkungan, emisi karbon yang dihasilkan kendaraan tambang masih tergolong tinggi.

“Memang benar, operasional pertambangan, khususnya transportasi batu bara dan mineral, masih menjadi kontributor utama emisi karbon,” kata Anggawira.

Sebagai contoh, truk pengangkut tambang sebagian besar masih berbahan bakar diesel, dan penggunaan alat berat masih konvensional, belum berbasis elektrifikasi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Vale Raih Pinjaman Rp 12 T untuk Dorong Hilirisasi Nikel Berkelanjutan

Vale Raih Pinjaman Rp 12 T untuk Dorong Hilirisasi Nikel Berkelanjutan

EKONOMI
OJK Rilis Roadmap 2026-2030 untuk Perkuat Pasar Modal dan Derivatif

OJK Rilis Roadmap 2026-2030 untuk Perkuat Pasar Modal dan Derivatif

EKONOMI
Kemenperin Pastikan Layanan Publik Optimal di Tengah Fleksibilitas ASN

Kemenperin Pastikan Layanan Publik Optimal di Tengah Fleksibilitas ASN

EKONOMI
Surveyor Indonesia dan ICDX Perkuat Ekosistem REC Nasional

Surveyor Indonesia dan ICDX Perkuat Ekosistem REC Nasional

EKONOMI
NHM Pulihkan 232,69 Hektar Lahan Bekas Tambang, Tegaskan Komitmen ESG

NHM Pulihkan 232,69 Hektar Lahan Bekas Tambang, Tegaskan Komitmen ESG

EKONOMI
PLN Icon Plus Catat Deretan Penghargaan Sepanjang 2025, Perkuat Fondasi di Tahun 2026

PLN Icon Plus Catat Deretan Penghargaan Sepanjang 2025, Perkuat Fondasi di Tahun 2026

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon