Pertumbuhan Ekonomi Korsel Terancam Imbas Angka Kelahiran Turun
Senin, 29 September 2025 | 10:48 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Korea Selatan (Korsel), salah satu negara Macan Asia yang dikenal lewat kebangkitan ekonomi pascaperang, kini berhadapan dengan ancaman besar, yakni jurang demografi akibat angka kelahiran yang merosot.
Mengutip CNBC, Senin (29/9/2025), para ekonom memperingatkan, rendahnya angka kelahiran dapat memperlambat pertumbuhan bahkan menyeret ekonomi ke jurang kontraksi dalam dua dekade mendatang.
Bank of Korea dalam proyeksi 2024 menyebut penurunan angka kelahiran sebagai faktor utama yang bisa membawa negara itu ke periode stagnasi panjang pada 2040-an.
Hal serupa diungkapkan Korea Development Institute (KDI) pada Mei lalu, yang memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan bisa mendekati nol pada 2040-an. Dalam skenario netral, ekonomi diprediksi menyusut pada 2047, atau bahkan awal 2041 dalam skenario pesimistis.
Tingkat kelahiran total (TFR) Korea Selatan tercatat 0,748 pada 2024, naik tipis dari rekor terendah 0,721 pada 2023. Angka itu jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD sebesar 1,43, apalagi dari tingkat penggantian populasi 2,1.
Artinya, setiap 100 orang Korea Selatan hanya diperkirakan melahirkan 36 anak, sehingga jumlah angkatan kerja akan terus menyusut. Para ahli menilai tren ini akan menekan produktivitas dan memperlambat pertumbuhan jangka panjang.
Pemerintah Seoul telah menggelontorkan lebih dari US$ 270 miliar dalam 16 tahun terakhir untuk mendorong angka kelahiran, mulai dari bonus tunai hingga insentif bagi pasangan muda.
Bahkan pada 2023, muncul usulan mengecualikan pria dengan tiga anak atau lebih dari wajib militer. Namun, efektivitas kebijakan itu masih minim.
“Saya rasa kebijakan kependudukan tidak akan mampu meningkatkan tingkat kelahiran secara signifikan,” kata ekonom politik dari American Enterprise Institute (AEI) Nicholas Eberstadt.
Meski ancaman nyata di depan mata, sejumlah pakar menilai Korea Selatan masih punya peluang beradaptasi dengan mencari jalan keluar melalui inovasi teknologi, kebijakan imigrasi, hingga efisiensi produktivitas.
Eberstadt menambahkan, pengalaman masa lalu menunjukkan kemampuan adaptasi manusia luar biasa. Ia mencontohkan prediksi kelaparan global pada 1970-an yang terbukti meleset karena dunia justru menjadi lebih makmur.
“Ini tantangan berbeda, tetapi sejarah menunjukkan bertaruh melawan Korea Selatan bukanlah pilihan cerdas,” pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
PSM Makassar vs Persis Solo, Tekanan Misi 3 Poin Kandang




