Pemanfaatan Maggot, Solusi dari Alam untuk Lingkungan dan Manusia
Selasa, 28 Oktober 2025 | 19:21 WIB
Solo, Beritasatu.com – Sri Handayani tampak telaten mengayak butiran pasir berwarna hitam yang ada di salah satu bagian kandang ternak ayamnya. Hasil ayakan kemudian ia masukkan dalam karung, sedangkan sisanya ia berikan ke ayam-ayam peliharaannya.
“Hasil saringan ini namanya kasgot (bekas maggot) atau bisa disebut kotorannya maggot. Biasanya saya kemas untuk dijadikan pupuk, sedangkan maggot yang sudah menjadi pupa saya berikan ke ayam-ayam untuk jadi makanan ternak,” ucapnya kepada Beritasatu.com saat berkunjung ke peternakan ayamnya di Dusun Jatisari RT 1/RW 1 Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, akhir pekan lalu.
Perempuan 47 tahun ini pun menuturkan bahwa ia memang memanfaatkan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) di peternakan ayamnya sebagai solusi atas permasalahan limbah kotoran ayam sekaligus sebagai pakan pendamping untuk meningkatkan kualitas daging ayam yang dibudi dayakannya.
“Awalnya peternakan ayam saya ini punya masalah, yakni mencemari lingkungan dan menimbulkan banyak lalat dari kotoran ayam yang menumpuk. Kemudian ada saran dari teman untuk pakai maggot dan pas saya coba ternyata benar mengurangi kotoran ayam, baunya juga berkurang, lalatnya juga ikut berkurang,” tutur Sri.

Sri mengatakan, kotoran ayam memang menjadi momok bagi dirinya yang menjadi peternak ayam sejak 2015, apalagi beberapa tahun belakangan ini ia menggunakan dua metode peternakan, yakni dengan sistem panggung yang menggunakan sekam untuk mengatasi kotoran ayam dan sistem koloni yang diakuinya menimbulkan persoalan lingkungan akibat limbah dari 7.500 ekor ayam yang ada di peternakannya.
“Dahulu saya pakai full sekam, tetapi berjalannya waktu nyarinya susah dan harganya mahal, akhirnya mikir pakai yang sistem koloni sampai kemudian timbul masalah lingkungan tadi. Karena kotoran ayam yang dihasilkan setiap harinya bisa mencapai 6 kuintal, padahal satu periode itu bisa 40 hari, jadi saya kesulitan untuk membuangnya,” paparnya.
Ia menuturkan, dengan menggunakan maggot bisa mengurai sekitar 75% limbah kotoran ayam yang dihasilkan. Sedangkan sisanya ia manfaatkan untuk bahan bakar digester biogas yang merupakan bantuan dari Pertamina Foundation yang bekerja sama dengan mahasiswa UNS Solo. Di sisi lain, maggot yang memakan kotoran ayam lambat laun akan menjadi pupa, yang kemudian oleh Sri dimanfaatkan untuk pakan ternak.
“Selain saya jadi irit beli pakan pabrik, dengan ayam diberi pakan maggot, dia jadi lebih bagus daya tahan tubuhnya, angka kematiannya berkurang, dan alhamdulillah pendapatan saya stabil di atas rata-rata teman-teman peternak yang masih menggunakan full pakan pabrik," kata dia.
"Namun intinya, penggunaan maggot ini manfaat utamanya bagi saya ya itu, untuk membantu mengurai kotoran ayam sehingga membuat lingkungan tetap terjaga,” tambahnya.
Selain itu, manfaat penggunaan maggot di peternakannya menurut Sri adalah pupuk yang dihasilkan dari kotoran maggot atau kasgot yang berfungsi sebagai pupuk organik dan banyak dicari. “Saya kemas di karung, kemarin untuk kemasannya termasuk labelnya dibantu dari Pertamina dan Sobat Bumi UNS. Kemarin habis menyuplai DLH Kabupaten Boyolali kasgot kering untuk pupuk,” ungkapnya.
Adapun baby maggot yang digunakannya untuk mengurai kotoran ayam di peternakan miliknya, Sri mengambil dari Rumah Budi Daya Maggot Pokdakan Tunas Muda Sejahtera I yang merupakan salah satu binaan Pertamina AFT Adi Soemarmo.
“Cari baby maggot itu susah, makanya dengan adanya CSR dari Pertamina dengan membuat rumah maggot membantu saya mencari supply maggot untuk peternakan saya,” kata dia.
Sementara itu, anggota Pokdakan Tunas Muda Sejahtera I, Sri Prihatini, mengatakan rumah budi daya maggot tersebut berawal dari bantuan yang diberikan Pertamina Foundation pada 2024 lalu dan kemudian diteruskan oleh AFT Adi Soemarmo Boyolali hingga sekarang. Saat itu, ia bersama delapan rekannya diajak untuk belajar tentang budi daya maggot di Solo dan Klaten hingga dibuatkan bangunan untuk rumah budi daya.
“Awalnya budi daya maggot dengan modal awal telur maggot sebanyak 12 gram. Kemudian kita mendapat bantuan telur maggot lagi 10 gram. Berjalan bagus setahun kemudian kita kena pageblug pas puasa tahun ini, delapan biopond yang berisi pupa kena hama jadi tidak bisa menetas. Akhirnya kita putuskan mulai lagi dari awal, kami beli pupa 1 kilogram dan telur maggot 1 gram hingga jadi seperti saat ini,” kenangnya.
Selain dijual, maggot yang dihasilkan Pokdakan Tunas Muda Sejahtera I juga dimanfaatkan untuk pakan ternak ikan lele yang juga merupakan bantuan dari AFT Adi Soemarmo.
“Tahun 2025 dari Pertamina Patra Niaga kita diberi bibit lele dan kita buat kolam bioflok. Kita beri pakan maggot selain pelet dan hasilnya sangat bagus. Menurut testimoni langganan kita, daging lelenya lebih gurih. Dari awalnya 5.000 bibit sekarang sudah berkembang menjadi 12.000 bibit dengan delapan kolam. Kami juga sudah memiliki pelanggan tetap yang datang mengambil lele setiap minggu dan setiap bulannya, selain dari warga sekitar yang membeli,” kata dia.

Prihatin, panggilan akrabnya, menuturkan meski budi daya maggot memiliki tingkat kesulitan tersendiri, namun sejatinya kendala yang dihadapinya saat ini adalah masalah ketersediaan bahan baku pakan berupa sisa makanan.
Ia mengaku belum mendapatkan suplai bahan pangan maggot yang rutin. Pasalnya selama ini pakan maggot didapatkan terkadang dari sampah rumah tangga warung-warung atau rumah makan yang ada di desa tersebut, dari anggota Pokdakan, serta sisa sayur dari penjual di pasar dan juga penjual buah di pasar. Terkadang, jika beruntung, Prihatini mendapatkan sampah rumah tangga dari orang punya kerja di desanya atau dari kerabat di daerah lain.
Padahal, dalam satu biopond membutuhkan satu gayung atau setara satu kilogram pakan dan harus diberikan dua kali dalam sehari.
“Kalau pas sampah makanannya dapat banyak, sebagian besar kita fermentasi untuk mengurangi bau sehingga tidak mengganggu lingkungan. Karena bagaimanapun kan ini sisa makanan. Kalau yang sudah siap panen biasanya sudah tidak membutuhkan pakan, tapi kita beri ampas kelapa biar kering sebelum kita panen untuk dijual dan untuk bibit guna ditetaskan jadi BSF,” jelasnya.
Terkait kendala tersebut, Area Manager Communication, Relations, dan Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, mengatakan sudah memikirkan solusinya sebagai bagian dari program ke depannya. Ia mengatakan wilayah Desa Sobokerto masuk dalam wilayah yang berdekatan dengan operasional AFT Adi Soemarmo sehingga mendapat prioritas untuk pengembangan potensi masyarakatnya.
“Pokdakan Tunas Muda Sejahtera memang programnya saling terintegrasi, mulai dari pemanfaatan biogas untuk bahan bakar membatik, kemudian ada pemanfaatan maggot untuk pengurai kotoran ayam dan pakan ternak," jelas dia.
"Nah, untuk maggot ini kita rencana ke depannya mau kerja sama dengan Disperindag Boyolali agar sampah organik dari pasar sekitar Desa Sobokerto ditampung untuk dijadikan pakan maggot, tentunya dengan menyesuaikan daya tampung di rumah maggot yang ada di sana,” tukasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




