Ketika Purbaya Tarik Bea Keluar dari Emas dan Batu Bara
Kamis, 27 November 2025 | 18:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah berencana memperluas pengenaan bea keluar (BK) komoditas strategis, menyusul kebijakan sebelumnya untuk emas.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan batu bara akan dikenai BK mulai 2026, sebagai langkah meningkatkan pendapatan negara sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam domestik.
“Sedang dibicarakan (aturan bea keluar batu bara), mungkin tahun depan,” ujar Purbaya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (26/11/2025).
Kebijakan ini dilakukan setelah pemerintah menetapkan BK emas mulai 2026 dengan tarif progresif antara 7,5% hingga 15%, tergantung harga emas dunia. Penerapan BK emas ditujukan untuk mendukung hilirisasi, menahan ekspor produk hulu, serta mendorong nilai tambah dalam negeri.
“Dalam RPMK (Rancangan Peraturan Menteri Keuangan) yang akan ditetapkan, apabila terjadi windfall ketika harga emas tinggi, maka tarif yang dikenakan juga akan lebih tinggi,” jelas Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (17/11/2025).
Purbaya mengakui penerapan BK batu bara berpotensi membuat harga komoditas tersebut kurang kompetitif di pasar global. “Kalau pelaku usaha mencoba menaikkan harga untuk mengompensasi bea keluar, produksi mereka justru berisiko tidak terserap pasar,” ujarnya. Meski demikian, ia menegaskan rencana BK tidak akan dibatalkan meskipun harga batu bara sedang turun atau berfluktuasi.
“Untung mereka turun sedikit. Kalau dia naikin harga, enggak laku,” tambah Purbaya.
Menurut Menkeu, kontribusi penerimaan negara dari batu bara melalui skema royalti saat ini masih jauh lebih kecil dibandingkan komoditas minyak dan gas (migas). Karena itu, pemerintah menilai masih ada ruang untuk meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) melalui BK tanpa mengganggu keberlangsungan industri.
“Kalau minyak, kita lihat PSC (production sharing contract), kontrak sharing zaman dahulu itu 85:15. Batu bara kan jauh lebih kecil dari itu,” tutur Purbaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




