Proof of Reserves Indodax US$ 1 Miliar, Sinyal Pasar Kripto Menguat?
Rabu, 7 Januari 2026 | 10:49 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Berdasarkan data terkini yang ditampilkan pada fitur proof of reserves (PoR) di CoinMarketCap, PoR Indodax telah menembus US$ 1 miliar.
Dikutip dari Coinmarketcap, Rabu (7/1/2026), PoR merupakan metode verifikasi kriptografis yang digunakan platform aset kripto untuk menunjukkan perusahaan memiliki cadangan aset sesuai yang dilaporkan. Tujuannya memperkuat kepercayaan publik bahwa dana pengguna dapat dipenuhi saat dibutuhkan, terutama pada periode pasar yang bergejolak.
Sebagai informasi, naiknya PoR umumnya mencerminkan dua hal yang sering terjadi pada fase pasar yang membaik. Pertama, ketika harga aset kripto naik, nilai cadangan yang tercatat dalam US$ ikut meningkat. Kedua, ketika arus masuk dana (inflow) dan aktivitas transaksi naik, cadangan yang tersimpan di platform juga cenderung bertambah. PoR yang meningkat dapat sejalan dengan menguatnya harga dan bertambahnya partisipasi pasar.
Selain itu, sentimen publik terhadap kripto secara umum terlihat membaik.
Pada 2025, harga Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi baru, tetapi kemudian menurun. Pada perdagangan terakhir 2025, Bitcoin berada pada level US$ 87.474,2. Memasuki 2026, harganya mulai kembali naik. Pada Rabu pagi, harga Bitcoin bergerak pada level US$ 93.000.
Pergerakan ini juga tidak lepas dari sentimen global, termasuk peristiwa geopolitik besar yang dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat, misalnya gejolak antara Amerika Serikat (AS) vs Venezuela. Namun, kenaikan jangka pendek belum otomatis berarti bull market berkelanjutan. Pasar kripto tetap dipengaruhi faktor makro, kondisi likuiditas, regulasi, serta perkembangan risiko global yang dapat berubah cepat.
CEO Indodax William Sutanto menyampaikan, CoinMarketCap menampilkan fitur proof of reserves untuk membantu pengguna melihat informasi transparansi cadangan sejumlah exchange, termasuk keterlacakan alamat dompet publik serta pembaruan data yang relevan.
Indodax juga mengimbau pengguna untuk tetap menerapkan langkah keamanan, antara lain menggunakan autentikasi berlapis multi factor authentication (MFA), pastikan perangkat dalam kondisi aman, serta waspada phishing dan social engineering.
“Transparansi platform itu penting, tetapi edukasi keamanan pengguna juga sama pentingnya. Kami terus mendorong penggunaan keamanan berlapis dan praktik terbaik dalam menjaga akun serta perangkat,” kata William.
Sementara itu, sejumlah tokoh memandang Bitcoin berpotensi melonjak tajam pada 2026. Pendiri Cardano, Charles Hoskinson, memproyeksikan Bitcoin bisa mencapai US$ 250.000, dengan alasan suplai yang terbatas serta adopsi berkelanjutan oleh institusi dan korporasi besar.
Kepala riset Fundstrat, Tom Lee, merevisi targetnya dari US$ 250.000 menjadi US$ 150.000–US$ 200.000 pada awal 2026. Ia menilai ETF Bitcoin spot mencerminkan pergeseran alokasi jangka panjang, bukan lonjakan permintaan sesaat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Jerman vs Pantai Gading: Duel Hidup Mati Penguasa Grup E




