Bengkel di Singapura Berjibaku Melawan Gempuran Mobil Listrik
Senin, 16 Februari 2026 | 07:02 WIB
Singapura, Beritasatu.com – Transformasi besar industri otomotif di Singapura mulai memukul bengkel mobil tradisional. Gelombang kendaraan listrik (EV) yang semakin masif membuat sejumlah pelaku usaha harus menghadapi kenyataan pahit: pendapatan menyusut hingga 50% dan masa depan bisnis kian tidak pasti.
Di kawasan Sin Ming, bengkel Supreme Auto Service milik Dylan Chew yang telah beroperasi lebih dari 50 tahun kini tak lagi seramai dahulu. Jika sebelumnya antrean kendaraan mengular hingga ke jalan, kini suasana terlihat lengang.
Dengan tiga mekanik yang semuanya berusia di atas 50 tahun, Chew mengakui kondisi usahanya memburuk drastis. “Dahulu para pekerja selalu sibuk, sekarang mereka lebih banyak menganggur,” ujarnya dilansir dari dantri.
Ia bahkan menyarankan karyawannya untuk mulai mencari peluang lain karena dalam lima tahun ke depan bengkel tersebut bisa saja tutup. Fenomena yang dialami Chew mencerminkan perubahan ekonomi dan teknologi yang tengah berlangsung di Negeri Singa.
Menurut laporan CNA, bengkel perbaikan mobil tradisional kini kerap disebut sebagai “industri senja”. Penyebabnya bukan semata persaingan usaha, melainkan perubahan desain kendaraan listrik itu sendiri.
Selama ini, bengkel bergantung pada perawatan rutin mesin pembakaran internal (ICE), seperti penggantian oli, filter udara, dan sabuk penggerak setiap 10.000 kilometer. Perawatan berkala inilah yang menjadi sumber arus kas utama bagi ribuan usaha kecil.
Namun pada kendaraan listrik, komponen bergerak jauh lebih sedikit. Tidak ada kebutuhan penggantian oli atau perawatan sistem pembuangan, sehingga frekuensi servis menurun drastis.
Lebih jauh lagi, komponen paling mahal dan menguntungkan pada EV, seperti baterai dan sistem kelistrikan tegangan tinggi, umumnya dilindungi garansi pabrikan selama lima hingga tujuh tahun. Bengkel independen tidak memiliki peralatan, sertifikasi, maupun akses untuk menangani perbaikan tersebut.
Akibatnya, mereka hanya mengerjakan pekerjaan bermargin tipis seperti tambal ban atau pengecatan bodi. Adrian Ching, pemilik Bengkel Perbaikan Motor Ching, mengungkapkan pendapatannya turun 15% pada paruh pertama 2025.
“Keberlangsungan usaha lima tahun ke depan masih menjadi tanda tanya besar,” katanya.
Pada sisi lain, pasar kendaraan ramah lingkungan di Singapura tumbuh pesat. Data Business Times yang mengutip Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) menunjukkan, pada semester pertama 2025, pendaftaran kendaraan listrik melonjak 63,2% menjadi 9.822 unit.
EV kini menguasai 41% pangsa pasar mobil baru, hampir menyamai kendaraan hibrida bensin-listrik yang mencapai 41,9%. Sementara itu, mobil bensin murni yang dahulu mendominasi, kini tinggal 16,2%.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




