ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Stimulus Rp 809 T Berpeluang Angkat Ekonomi Kuartal I 2026

Selasa, 17 Februari 2026 | 20:27 WIB
BI
AD
Penulis: Bambang Ismoyo | Editor: AD
Ilustrasi rupiah.
Ilustrasi rupiah. (Antara/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, Beritasatu.com - Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyebut belanja pemerintah pada kuartal I 2026 dinilai kuat menjaga daya beli masyarakat selama periode Ramadan-Idulfitri. Hal ini sekaligus memberi dorongan nyata pada pertumbuhan ekonomi awal tahun.

Namun, capaian pertumbuhan hingga 5,5% bahkan mendekati 6% di kuartal I 2026 ini sangat bergantung pada efektivitas kebijakan, terutama kecepatan realisasi dan ketepatan komposisi belanja. Jika poin-poin tersebut diabaikan, maka belanja pemerintah akan berdampak biasa saja.

"Namun, efektivitasnya sangat ditentukan oleh kecepatan realisasi, komposisi belanja, dan kemampuan pasokan menahan kenaikan harga," ungkap Josua kepada Beritasatu.com, Selasa (17/2/2026).

ADVERTISEMENT

Diketahui, pada awal 2026, Pemerintah mengupayakan dorongan konsumsi yang ditopang oleh belanja negara yang langsung mengalir ke rumah tangga. Adapun, Pemerintah memproyeksikan belanja negara triwulan pertama 2026 menembus Rp 809 triliun.

Angka tersebut mencerminkan upaya akselerasi fiskal sejak awal tahun untuk menangkap momentum musiman Ramadan dan Idulfitri, yang secara historis mendorong konsumsi domestik.

Josua melanjutkan, dari sisi desain kebijakan, stimulus diarahkan pada pos yang berdampak cepat terhadap daya beli. Beberapa di antaranya adalah percepatan program makan bergizi gratis, pembayaran tunjangan hari raya (THR) bagi aparatur negara, serta paket stimulus tambahan lainnya.

Kebijakan tersebut diperkuat dengan momentum libur panjang dan penerapan kerja fleksibel pada hari-hari tertentu, sehingga belanja masyarakat dapat tersebar lebih merata sepanjang periode libur.

Dukungan fiskal ini, lanjut Josua, sejalan dengan indikator psikologis dan permintaan. Keyakinan konsumen pada Januari 2026 tercatat berada di level optimistis dan meningkat dibanding periode sebelumnya. Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan juga menunjukkan perbaikan.

"Dengan kombinasi tersebut, perkiraan pertumbuhan 5,5% hingga 6% pada kuartal I bisa tercapai bila penyaluran belanja benar-benar cepat, tepat sasaran, serta dibarengi stabilitas harga pangan dan transportasi," pungkasnya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT