ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ekonom Nilai Pengalihan Impor Minyak Perlu Diiringi Diversifikasi Rute

Minggu, 8 Maret 2026 | 14:44 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Kapal tanker milik  PT Pertamina International Shipping (PIS).
Kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS). (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Rencana pengalihan sumber impor minyak mentah dinilai menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pasokan energi Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran vs Israel. Langkah ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya diversifikasi pemasok dan jalur distribusi energi.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, rencana pemerintah mengalihkan sebagian impor minyak dari negara yang tidak melewati Selat Hormuz merupakan langkah positif sebagai bentuk diversifikasi pemasok energi.

Namun, ia menekankan bahwa efektivitas kebijakan tersebut tidak hanya ditentukan oleh negara asal pasokan, tetapi juga oleh diversifikasi rute pengiriman dan titik muat minyak.

ADVERTISEMENT

“Untuk rencana pemerintah mengalihkan impor dari negara lain ini positif sebagai diversifikasi pemasok, tetapi efektivitasnya sangat ditentukan oleh diversifikasi rute dan titik muat, bukan hanya asal negara,” kata Josua kepada Beritasatu.com, Jumat (6/3/2026).

Diversifikasi rute penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Pasalnya, sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut sehingga setiap gangguan akibat konflik geopolitik berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Menurut dia, kontrak impor juga perlu memberikan fleksibilitas dalam pengalihan asal pasokan maupun jalur pengiriman ketika risiko geopolitik meningkat. Dengan fleksibilitas tersebut, pemerintah dan pelaku industri dapat lebih cepat menyesuaikan strategi pasokan energi jika terjadi gangguan distribusi.

Dalam jangka pendek, Josua menilai pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat pengaturan stok operasional per wilayah serta memastikan prioritas alokasi kargo ke terminal yang paling rawan gangguan guna menjaga keamanan pasokan energi domestik.

Selain itu, perlu adanya pengamanan jadwal kapal dan perlindungan asuransi pengapalan, sekaligus menyiapkan skenario pengalihan rute pengiriman apabila terjadi gangguan di jalur pelayaran strategis.

Ia juga menekankan pentingnya stabilisasi nilai tukar rupiah. Menurutnya, pelemahan rupiah secara langsung dapat meningkatkan biaya impor energi dan memperbesar beban subsidi pemerintah.

“Di saat yang sama, stabilisasi nilai tukar penting karena pelemahan rupiah langsung memperbesar biaya impor energi dan memperberat subsidi,” ujar Josua.

Sementara itu, dalam jangka panjang, Josua memandang penguatan cadangan strategis energi yang memadai, peningkatan ketahanan kilang dan fleksibilitas bahan baku, percepatan produksi migas domestik, serta perbaikan ketepatan sasaran subsidi menjadi paket kebijakan penting.

Langkah-langkah tersebut diperlukan agar gejolak harga minyak tidak berulang kali menggerus ruang fiskal pemerintah dan mengganggu stabilitas makroekonomi.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya konflik di kawasan tersebut.

Menurut dia, sekitar 20-25% impor minyak mentah Indonesia saat ini melewati Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia karena sekitar 20% pasokan minyak dan gas global melintasi kawasan itu.

Selain dari Timur Tengah, impor minyak mentah Indonesia juga berasal dari sejumlah negara lain seperti Amerika Serikat, Brasil, serta beberapa negara di Afrika, salah satunya Angola.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon