Gawat! Harga Emas Global Alami Periode Terlemah sejak Juni 2013
Minggu, 12 April 2026 | 13:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Harga emas global turun 12% pada Maret menjadi US$ 4.608 per troi ons. Ini merupakan bulan terlemah sejak Juni 2013. Emas melemah terhadap semua mata uang utama, tetapi masih mencatat kenaikan secara tahunan.
Dalam laporan “Ulasan Pasar Emas: Anatomi Penurunan Harga Emas”, dikutip Minggu (12/4/2026), World Gold Council mengukur harga emas dengan model atribusi bulanan yang dilakukan pihaknya, Gold Return Attribution Model (GRAM), model regresi berganda yang menganalisis imbal hasil harga emas bulanan, yang kemudian dikelompokkan ke dalam empat kategori penggerak tematik utama kinerja emas: ekspansi ekonomi, risiko dan ketidakpastian, biaya peluang (opportunity cost), serta momentum.
Pada Maret, menurut laporan tersebut, harga emas mencatat kinerja bulanan terlemah sejak Juni 2013. Pergerakan ini tidak dipicu oleh faktor fundamental, melainkan oleh proses pengurangan beban utang (deleveraging) dan pengetatan likuiditas.
World Gold Council menangkap sentimen pasar, meski tidak sepenuhnya mencerminkan besaran penurunan, yang terutama dipicu oleh faktor momentum, antara lain arus keluar ETF emas global, pelepasan posisi beli bersih (long unwind) di COMEX, dan pembalikan tren harga.
Kontribusi yang lebih terbatas berasal dari penguatan dolar AS dan imbal hasil (yield). Bagian prospektif dalam laporan ini akan membahas lebih lanjut rincian pergerakan sepanjang Maret. Selama bulan Maret, ETF emas global mengalami arus keluar sebesar US$ 12 miliar (84 ton).
Kontribusi terbesar berasal dari Amerika Utara sebesar US$ 14 miliar (-87 ton) dan Eropa sebesar US $0,1 miliar (-7 ton). Arus masuk Asia sebesar US$ 1,9 miliar (10 ton) menjadi kontributor positif, yang mencerminkan kuatnya aksi beli saat harga turun (dip-buying) di Asia menghasilkan arus dana yang lebih besar, meskipun tonasenya lebih kecil.
Posisi beli bersih investor (managed money) di COMEX turun US$ 2 miliar (19 ton) pada bulan Maret, tapi masih menunjukkan bias beli (long bias) yang kuat.
Aksi jual emas pada tiga pekan pertama bulan Maret berlangsung tajam dan berlawanan dengan intuisi (counter-intuitive), tetapi bukan hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Aksi ini terjadi di tengah kondisi yang biasanya mendukung emas, yaitu ketegangan geopolitik yang memanas dan kekhawatiran baru atas inflasi. Hal ini menjadi pengingat bahwa emas bukanlah lindung nilai kontraktual. Harga akan naik hanya ketika jumlah pembeli tambahan melebihi penjual.
Pada bulan Maret, kebutuhan pengurangan beban utang (deleveraging) dan likuiditas menggeser keseimbangan ke kubu penjual. Dalam periode tiga minggu hingga 24 Maret, emas tampak bergejolak terhadap kenaikan imbal hasil (yields) riil AS yang dipicu oleh konflik
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




