Mendag Sebut Ekosistem Tekstil RI Lengkap dan Berdaya Saing
Kamis, 16 April 2026 | 19:24 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menilai ekosistem industri tekstil Indonesia tergolong lengkap sehingga memiliki daya saing kuat, baik di pasar domestik maupun internasional.
Ia menjelaskan, rantai industri tekstil nasional mencakup seluruh aspek, mulai dari bahan baku, manufaktur, distribusi, hingga peran desainer dan UMKM.
“Kalau kita lihat ekosistem tekstil, produk tekstil kita sangat baik. Dari bahan baku kita banyak. Saya kira ekosistem kita paling lengkap, mulai bahan baku, pabrik, distribusi, desainer, hingga UMKM, semuanya ada dan berjalan dengan baik,” ujar Mendag dilansir dari Antara, Kamis (16/4/2026).
Di sela ajang Indo Intertex 2026 di Jakarta International Expo, Budi menyampaikan kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia pada 2025 mencatat pertumbuhan positif sebesar 3,55% secara tahunan.
Nilai ekspor TPT mencapai US$ 12,08 miliar dengan surplus sebesar US$ 3,45 miliar. “Selain potensi pasar dalam negeri, ekspor kita juga cukup baik. Kalau kualitas bagus dan punya daya saing, kita bisa mengendalikan impor,” kata dia.
Budi yang akrab disapa Busan menambahkan, dengan daya saing yang tinggi, produk tekstil Indonesia diharapkan mampu memenuhi kebutuhan domestik sekaligus bersaing di pasar global.
Menurut dia, hal tersebut turut didukung berbagai perjanjian dagang Indonesia dengan sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan kawasan Uni Eropa.
“Selain untuk mengisi pasar dalam negeri agar tidak banyak produk impor masuk, juga untuk mendorong ekspor. Kita punya banyak perjanjian dagang,” ujarnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat pada periode Januari–Februari 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,53 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 2,63 miliar.
Amerika Serikat juga menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai mencapai US$ 43,53 miliar. Produk ekspor utama meliputi elektronik, tekstil, dan alas kaki.
“Surplus terbesar Indonesia berasal dari Amerika. Karena itu, pasar Amerika harus kita jaga. Pangsa ekspor kita ke sana sekitar 11% dari total ekspor nasional,” kata Mendag.
Ia juga mengakui kondisi geopolitik global saat ini memberikan tantangan, termasuk bagi industri tekstil.
“Secara global semua terdampak situasi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah. Tetapi dari hasil dialog dengan pelaku usaha, mereka masih mampu bersaing dengan produk asing karena ekosistem kita lebih lengkap dibandingkan negara lain,” jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




