Blokade Hormuz Picu Krisis Pupuk, Industri dan Petani Jerman Tertekan
Minggu, 3 Mei 2026 | 11:56 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dampak konflik geopolitik di Timur Tengah mulai merembet ke sektor pangan global. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu gangguan pasokan pupuk dunia, yang kini dirasakan langsung oleh industri dan petani di Jerman.
Kota Wittenberg, yang dikenal sebagai pusat sejarah reformasi protestan, kini menjadi salah satu titik penting produksi pupuk Eropa. Di wilayah ini, pabrik kimia SKW Piesteritz beroperasi penuh untuk menutupi kekurangan pasokan global.
Penutupan jalur laut vital tersebut menjadi peringatan bahwa ketergantungan pada distribusi internasional sangat rentan. Sekitar sepertiga pasokan pupuk dunia biasanya melewati Selat Hormuz, sehingga gangguan langsung berdampak pada ketahanan pangan global, terutama di kawasan Afrika dan Asia Selatan.
Perusahaan SKW, produsen urea terbesar di Jerman, kini meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar. Namun, lonjakan biaya energi menjadi tantangan besar. Sekitar 80% produksi pupuk bergantung pada gas, yang harganya melonjak sejak konflik pecah.
CEO SKW Carsten Franzke menegaskan bahwa perusahaan tidak mengambil keuntungan dari situasi ini.
"Meski pendapatan diproyeksikan naik 10%-20%, kenaikan biaya produksi membuat perusahaan hanya berpotensi mencapai titik impas," ucapnya dikutip dari AFP, Minggu (3/5/2026).
Pada sisi lain, tekanan juga dirasakan petani. Gerhard Geywitz, petani di Baden-Wuerttemberg, mengungkapkan harga pupuk telah melonjak hingga 50% sejak perang dimulai.
Kondisi ini memaksa petani menanggung beban biaya sendiri, karena harga hasil panen seperti sereal tidak mengalami kenaikan signifikan di pasar global.
Jika konflik berkepanjangan, kekhawatiran akan krisis pupuk semakin nyata.
“Oleh karena itu, kami memutuskan untuk menambah stok sekarang, sebelum harga menjadi sangat mahal,” ujar Geywitz.
Asosiasi produsen pupuk Jerman juga mengingatkan bahwa tanpa produksi lokal yang kuat dan sektor pertanian yang kompetitif, ketahanan pangan Eropa bisa terancam serius.
Krisis ini sekaligus memperlihatkan efek domino dari konflik geopolitik terhadap sektor non-energi. Kenaikan biaya gas, gangguan distribusi, dan ketergantungan impor menjadi kombinasi tekanan yang sulit dihindari.
Situasi tersebut mendorong pelaku industri di Eropa untuk mengevaluasi ulang kebijakan energi dan perdagangan, termasuk skema karbon Uni Eropa yang dinilai menambah beban biaya produksi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




