Apa Itu CNG yang Disebut-sebut sebagai Calon Pengganti LPG?
Senin, 4 Mei 2026 | 16:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penggunaan compressed natural gas (CNG) mulai menjadi pembahasan penting dalam upaya pemerintah mencari alternatif energi rumah tangga yang lebih efisien dan berbasis sumber daya dalam negeri.
Wacana ini menguat setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, mengungkapkan rencana pengembangan compressed natural gas dalam tabung 3 kilogram sebagai pengganti LPG 3 kg.
Langkah ini tidak hanya berkaitan dengan efisiensi biaya, tetapi juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Seiring meningkatnya kebutuhan energi masyarakat, pemerintah pun mulai mempertimbangkan opsi yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pemerintah tengah menyiapkan pengembangan CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga. Inisiatif ini masih dalam tahap perencanaan, namun dinilai memiliki potensi besar.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan CNG sebenarnya sudah berjalan di beberapa sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Seluruh bahan baku CNG tersebut berasal dari dalam negeri, sehingga dinilai mampu mendukung kemandirian energi.
"Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30%-40%," ujar Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin (4/5/2026).
Meski memiliki prospek menjanjikan, pengembangan CNG masih menghadapi sejumlah tantangan. Namun demikian, pemerintah tetap mendorong implementasinya sebagai bagian dari upaya efisiensi energi nasional.
Apa Itu CNG?
Berdasarkan informasi dari laman Perusahaan Gas Negara (PGN), CNG atau compressed natural gas adalah gas alam yang dimampatkan hingga tekanan sangat tinggi, umumnya di atas 200 bar. Proses ini membuat gas menjadi lebih padat sehingga lebih mudah disimpan dan didistribusikan.
Sementara itu, menurut laman Kementerian Keuangan, CNG merupakan bahan bakar gas yang berasal dari gas bumi dengan kandungan utama metana (C1). Gas ini dikompresi dan disimpan dalam bejana bertekanan khusus untuk memudahkan distribusi serta penyimpanan, dan dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan.
Secara komposisi, gas alam terdiri dari campuran hidrokarbon seperti metana, etana, propana, dan butana. Dalam CNG, kandungan metana menjadi komponen paling dominan, bahkan bisa melampaui 95%.
Jika dibandingkan dengan LPG, perbedaan utama terletak pada bentuk dan metode penyimpanan. LPG merupakan campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair.
Sebaliknya, CNG tetap berada dalam fase gas, tetapi dikompresi pada tekanan tinggi agar lebih efisien dalam penyimpanan dan distribusi.
Selain itu, terdapat pula liquefied natural gas (LNG) yang juga berasal dari gas alam. Namun, LNG diproses dengan cara didinginkan hingga suhu sangat rendah agar berubah menjadi cair.
Dengan demikian, meskipun ketiganya berasal dari sumber yang sama, yaitu gas alam, perbedaan teknik pengolahan membuat karakteristik dan penggunaannya tidak sama.
Pemanfaatan CNG di Berbagai Sektor
Dalam praktiknya, CNG bukanlah teknologi baru. Bahan bakar ini telah lama dimanfaatkan di sektor transportasi sebagai sumber energi kendaraan karena dianggap lebih ramah lingkungan dan efisien.
Selain itu, sektor industri juga telah memanfaatkan CNG untuk mendukung berbagai proses produksi.
Penggunaannya kini mulai meluas ke sektor rumah tangga, seperti untuk kebutuhan memasak dan pemanas air. Bahkan, pemerintah mencatat bahwa CNG sudah digunakan di sejumlah hotel, restoran, serta dapur dalam program Makan Bergizi Gratis.
Perluasan ini menunjukkan bahwa CNG memiliki fleksibilitas penggunaan yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi alternatif energi yang lebih luas di masa depan.
Meskipun menawarkan biaya yang lebih rendah, yaitu sekitar 30%-40% dibandingkan LPG, pengembangan CNG tetap menghadapi berbagai kendala.
Namun, pemerintah tetap berkomitmen untuk mendorong implementasi CNG sebagai bagian dari strategi besar menuju efisiensi energi dan kemandirian nasional.
Jika pengembangan ini berjalan optimal, bukan tidak mungkin CNG akan menjadi solusi energi rumah tangga yang lebih terjangkau sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya dalam negeri.
CNG menjadi salah satu alternatif energi yang tengah dipersiapkan pemerintah untuk menggantikan LPG, khususnya tabung 3 kilogram. Dengan biaya yang lebih murah dan bahan baku dari dalam negeri, CNG memiliki potensi besar untuk mendukung efisiensi dan kemandirian energi nasional.
Meski masih menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangannya, langkah ini menunjukkan arah kebijakan energi yang lebih berkelanjutan. Ke depan, pemanfaatan CNG berpotensi semakin luas, termasuk untuk kebutuhan rumah tangga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
62 Persen Jemaah Haji Indonesia Telah Kembali ke Tanah Air




