Tiga Tantangan Utama Industri FMCG di Indonesia
Minggu, 3 Februari 2019 | 15:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Industri e-commerce atau perdagangan online di Indonesia membuka kesempatan ekonomi dan peluang baru bagi berbagai sektor bisnis.
Data McKinsey memperkirakan, pada tahun 2022, nilai pasar e-commerce di Indonesia akan mencapai US$ 65 miliar atau sekitar Rp 948 triliun. Kemajuan industri ini, memungkinkan bisnis Fast Moving Consumer Goods (FMCG) untuk menjangkau pembeli dari semua daerah Indonesia dalam platform digital, tanpa dihambat oleh faktor jarak dan waktu.
Founder dan CEO Sirclo, Brian Marshal, mengatakan, sebagai layanan penyedia solusi e-commerce, pihaknya memaparkan beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh pelaku bisnis FMCG dalam era digital ini.
"Setelah melakukan penelitian dan menggali insight dari klien FMCG yang dimiliki, kami menyimpulkan setidaknya ada tiga tantangan utama yang dapat menghambat laju usaha FMCG jika tidak dikelola dengan baik," kata Brian dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Minggu (3/2).
Pertama, kata Brian, bisnis FMCG kesulitan untuk membangun keterampilan baru karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan finansial.
"Misalnya, ketika usaha ritel hendak beralih ke kanal penjualan secara digital, maka dibutuhkan karyawan yang memahami infrastruktur teknologi dan informatika (TIK). Padahal, tidak semua pelaku usaha memiliki modal dan pembiayaan untuk melakukan perekrutan secara permanen," jelas Brian.
Brian mengatakan, tantangan inilah yang membuatnya mencetuskan ide untuk mendirikan Sirclo Commerce. "Kami ingin membantu para pelaku usaha FMCG untuk memanfaatkan sistem yang efisien dan lebih terjangkau. Dengan begitu, mereka dapat menekan biaya operasional dan mendorong pertumbuhan transaksi," ungkap Brian.
Kedua, lanjut Brian, dengan kehadiran banyaknya kanal penjualan online, mulai dari website sendiri hingga platform marketplace, banyak brand yang kewalahan dalam menjalankan hal-hal administratif. Penjual harus selalu siap sedia untuk membalas pesan satu per satu, menjawab komplain, atau mengecek stok secara manual. Pekerjaan repetitif ini menjadi beban yang mengonsumsi banyak waktu karyawan.
Untuk membantu brand menangani tantangan tersebut, Brian memperlebar layanan yang ditawarkan oleh Sirclo Commerce. Pasalnya, banyak pelaku usaha FMCG yang kewalahan menghadapi pesanan, pertanyaan pembeli, sampai manajemen stok.
"Karena itu, kini Sirclo Commerce turut membantu mereka dalam menangani hal-hal operasional penjualan, seperti manajemen gudang, pengelolaan pemesanan, hingga pengiriman barang sampai ke tempat tujuan," kata Brian.
Dengan begitu, lanjut Brian, pelaku usaha dan karyawan inti perusahaan dapat berfokus untuk melakukan keahlian mereka, yaitu inovasi produk. "Sistem otomatis dari Sirclo sangat menghemat waktu dan tenaga, agar kegiatan operasional dapat berjalan dengan lebih lancar dan efisien," tegas Brian.
Tantangan ketiga, kata Brian, tanpa kompilasi data tentang konsumen, bisnis FMCG tidak bisa memaksimalkan strategi penjualan di berbagai platform digital. Dengan portofolio klien dari berbagai sektor, Sirclo memiliki kekuatan insight yang dapat dimanfaatkan untuk strategi pemasaran dan komunikasi.
"Misalnya, pada periode Agustus 2018-Januari 2019, sepuluh produk paling laris dalam Sirclo Commerce adalah di kategori kosmetik dan kecantikan, makanan dan minuman, serta perlengkapan rumah. Laporan juga mengungkapkan, pembelian online paling banyak dilakukan di hari Sabtu dan Minggu," jelas Brian.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Pendakian Gunung Gede Pangrango Dibuka Lagi pada 13 April 2026




