ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Lelang Kedua, BI Catat Kelebihan Permintaan TD Valas

Senin, 18 Juni 2012 | 23:27 WIB
IC
B
Bank Indonesia.
Bank Indonesia. (Jakarta Globe)
BI berencana membuka kembali lelang TD Valas untuk tenor yang lebih panjang, yaitu sampai dengan 1 bulan.
 
Bank Indonesia (BI) kembali mencatat kelebihan permintaan (oversubscribed) pada lelang kedua Term Deposit (TD) valuta asing (valas). Namun, telah terjadi penurunan rate (yield) dari masing-masing  tenor.
 
"Outstanding TD valas saat ini di BI berjumlah US$ 1,2 miliar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar dan memberikan sentimen positif kepada nilai tukar rupiah," kata Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Dody Budi Waluyo, dalam keterangan tertulis di Jakarta, hari ini.
 
Sehubungan dengan TD Valas yang jatuh tempo pada Rabu, 20 Juni 2012, yang berjumlah sekitar US$ 500 juta, BI berencana membuka kembali lelang TD Valas untuk tenor yang lebih panjang, yaitu sampai dengan 1 bulan.
 
Pada lelang hari ini, target indikatif lelang TD Valas tercatat sebesar US$400 juta untuk tenor 7 hari dan 14 hari. Bank yang masuk melakukan bidding (penawaran) dengan total sebesar $1,15 miliar (oversubscribed).
 
Sedangkan yang dimenangkan sebesar US$500 juta dengan rincian yang sudah diumumkan melalui Laporan Harian Bank Umum (LHBU) dan sarana lainnya.
 
BI menetapkan hasil lelang TD valas hari ini untuk tenor 7 hari, bunga rata-rata tertimbang (RRT) sebesar 0,135 persen dengan volume US$ 100 juta. Sedangkan, untuk tenor 14 hari, bunga RRT sebesar 0,150 persen  dengan volume US$ 400 juta. Dengan begitu, total volumenya mencapai US$ 500 juta.
 
"Adapun RRT suku bunga yang dimenangkan ini mengalami penurunan sekitar 3 basis points (bps) untuk masing-masing tenor," ungkap Dody.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo mengatakan, BI mempertimbangkan tenor yang lebih panjang, namun baru dapat keluar kemungkinan selama beberapa minggu ke depan.
 
Dari sisi rate, Perry menegaskan, tingkatnya tergantung bidding yang dilakukan masing-masing bank dan berapa yang selama ini didapat di luar negeri melalui penempatan di rekening nostro bank komersial.
 
"BI kan bank sentral, dari sisi risikonya nol persen, jadi diperbandingkannya itu saja. Mereka dapat lebih tinggi di luar negeri karena risikonya lebih tinggi. Sedangkan di BI risikonya nol," ujar dia.
 
Dasar lainnya yang membuat bidding rate lebih rendah adalah jika bank yang bersangkutan mengalami kelebihan pasokan valas. Jika pasokan mereka relatif terbatas, mereka akan meminta rate yang tinggi.
 
"Ini kan ada learning process, masih baru dan masih akan kompetitif, nanti akan lebih rendah dibanding luar negeri karena faktor pertimbangan risiko yang nol persen di BI," tandas Perry.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

EKONOMI
BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

EKONOMI
Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon