ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ADB: Pasar Obligasi RI & Vietnam Kurang Bergairah

Kamis, 22 November 2012 | 14:14 WIB
AB
B
Penulis: Antara/ Whisnu Bagus | Editor: B1
Ilustrasi Rupiah. FOTO: EPA
Ilustrasi Rupiah. FOTO: EPA
Menurunnya instrumen utang otoritas moneter di kedua negara tersebut menjadi pemicuya.

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) dalam laporan Asia Bond Monitor terbaru menyatakan, pasar obligasi di Indonesia dan Vietnam mengalami penurunan dibanding sejumah negara di kewasan Asia. 

Menurunnya instrumen utang otoritas moneter di kedua negara tersebut menjadi pemicuya.

"Pasar di Indonesia serta Vietnam menyusut karena penurunan tajam penerbitan obligasi oleh otoritas moneter," kata Kepala Kantor ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Iwan Jaya Azis di Jakarta, Kamis (22/11).
 
Dalam laporan ADB tersebut disebutkan, hingga kuartal III-2012, jumlah sertifikat Bank Indonesia (BI) yang beredar turun sebesar 23,9 persen dibanding kuartal II-2012, sementara obligasi Bank Negara Vietnam turun 62 persen dibanding kuartal II-2012.

Saat ini, pasar obligasi Malaysia dan Singapura mengalami pertumbuhan kuat, khususnya obligasi pemerintah untuk kuartal III-2012.  Namun, pasar obligasi di Korea, Hong Kong dan China hanya mengalami sedikit peningkatan.

Dalam laporan tersebut juga disebutkan, untuk meningkatkan aktivitas di pasar obligasi mata uang lokal Asia Timur, diperlukan peningkatan investor, ketersediaan instrumen lindung nilai dan besarnya transparansi.

Obligasi Korporasi RI
Sementara khusus obligasi korporasi di Indonesia, kata Iwan, hingga kuartal III-2012 meningkat 0,4 persen menjadi US$110 miliar, dibandingkan kuartal sebelumnya 2012. Angka ini juga naik 7,4 persen dibandingkan kuartal III-2011.

Sedangkan pasar obligasi pemerintah turun 0,1 persen dibanding kuartal II-2012. Namun dibandingkan kuartal III-2011 masih mengalami pertumbuhan 4,2 persen.

Dari sisi kepemilikan asing terhadap obligasi rupiah pemerintah Indonesia terus meningkat menjadi 29,7 persen pada akhir September, dibanding akhir Juni yang hanya 28,4 persen. "Kondisi ini disebabkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang kuat," kata Iwan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

ADB Sebut Asia Pasifik Butuh Investasi Digital Rp 5.500 Triliun

ADB Sebut Asia Pasifik Butuh Investasi Digital Rp 5.500 Triliun

EKONOMI
Bangun Jalan Tangguh di Selatan Jawa, ADB Kucurkan Rp 4,99 Triliun

Bangun Jalan Tangguh di Selatan Jawa, ADB Kucurkan Rp 4,99 Triliun

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon