Bank Indonesia Siap Respons Kenaikan Suku Bunga the Federal Reserve
Kamis, 27 Januari 2022 | 10:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus memantau berbagai perkembangan terkini terkait arah kebijakan dari bank sentral The Federal Reserve (The Fed) untuk menaikan suku bunga acuan yang diperkirakan akan dilakukan pada Maret.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memproyeksikan The Fed akan mulai menaikkan suku bunga acuan mulai bulan Maret, dengan baseline skenario akan menaikkan suku bunga sebanyak 4 kali.
"Tentu saja, setiap minggu, setiap bulan, kami memantau bagaimana The Fed akan menormalkan kebijakan moneternya. Kami mengasumsikan kemungkinan besar bahwa suku bunga (FFR) akan meningkat sebanyak empat kali (tahun ini) yang dimulai bulan Maret, tetapi berlanjut juga tahun-tahun berikutnya," kata Perry dalam Annual Investment Forum 2022 yang digelar Bank Indonesia secara virtual, Kamis (27/1/2022).
Meski begitu, ia tak menampik bahwa normalisasi kebijakan moneter The Fed akan memberikan dampak bagi pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk memitigasi hal tersebut, maka BI meyakini telah membuat beragam strategi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dengan memperkuat sisi stabilitas eksternal.
Baca Juga: The Fed Indikasikan Stimulus Akan Berakhir, Suku Bunga Bakal Naik
Dampak kenaikan suku bunga the Fed, apabila selisih yield obligasi AS dengan yield surat utang pemerintah semakin menipis, maka arus modal akan bergerak ke luar atau (capital outflow), sehingga berpotensi memberikan tekanan pada sisi nilai tukar rupiah.
Lebih lanjut, Perry menilai proses pemulihan ekonomi nasional di Indonesia akan terus berlangsung kuat, meski begitu ia memastikan tidak akan abai untuk mencermati berbagai perkembangan global dan tantangan ke depan, oleh karena itu, ia mengajak untuk harus tetap optimistis.
"Selalu ada peluang, dan peluang terbaik sedang kita cari untuk menumbuhkan ekonomi, dan pastinya untuk manajemen risiko suku bunga dan valuta asing, baik secara global maupun domestik," tuturnya.
Baca Juga: BI Proyeksi The Fed Naikkan Suku Bunga 4 Kali
Di samping itu, prospek pertumbuhan ekonomi global tahun ini diyakininya akan lebih seimbang. Bukan hanya dikuasai oleh sejumlah negara besar saja, tapi diikuti oleh pemulihan ekonomi di beberapa negara kawasan.
"Bukan hanya didorong oleh Amerika dan Tiongkok, tapi juga dengan adanya pemulihan ekonomi di Eropa, Jepang dan India. Itu jelas akan meningkatkan volume perdagangan global dan harga komoditas," pungkas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




