ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Hadapi Krisis Pangan, KTNA Dorong Regenerasi Lahan Pertanian

Sabtu, 3 September 2022 | 21:49 WIB
AA
FH
Penulis: Amrozi Amenan | Editor: FER
Ketua KTNA Jawa Timur Sumrambah saat FGD Economic Outlook 2023 di Surabaya.
Ketua KTNA Jawa Timur Sumrambah saat FGD Economic Outlook 2023 di Surabaya. (Beritasatu Photo/Amrozi Amenan)

Surabaya, Beritasatu.com - Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur mendorong pemerintah segera menerapkan kebijakan di sektor pertanian, peternakan, maupun perikanan yang mendorong peningkatan produktivitas.

Ketua KTNA Jawa Timur, Sumrambah mengatakan, krisis pangan yang saat ini tengah terjadi di dunia, harus disikapi dengan rasa optimisme yang tinggi.

"Ini penting diterapkan mengingat potensi krisis pangan mulai terlihat," kata Sumrambah di acara Focus Group Discussion (FGD) Economic Outlook 2023 di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Tiga Strategi Utama Kementan Hadapi Krisis Pangan Global

ADVERTISEMENT

Sumrambah mengungkapkan, dari sektor pertanian terjadi penyusutan lahan yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data BPS 2012, lahan pertanian di Indonesia tercatat seluas 8,4 hektare. Namun pada 2019, luasannya mengalami penurunan menjadi 7,4 hektare. "Ketika lahan semakin sedikit, kita akan menghadapi krisis pangan," kata dia.

Menurut Sumrambah, penyelamatan lahan pertanian perlu segera dilakukan. Jika tidak, potensi penyusutan lahan pertanian menjadi non-pertanian akan semakin besar.

"Kalau kita tetap seperti saat ini, dan tidak menyelematkan lahan pertanian maka pada 2045, lahan pertanian bisa menyusut jadi 6,3 juta ha. Sementara populasi penduduk semakin meningkat, sehingga berpotensi terjadi krisis pangan berkelanjutan," tegasnya.

Baca Juga: KTNA Puji Keberhasilan Petani Tingkatkan Produktivitas Padi

Untuk mengantisipasinya, pemerintah perlu secara tegas menetapkan lahan sawah dilindungi. Selain itu, pemerintah khusus pemerintah provinsi perlu bekerjasama dengan pemerintah kabupaten/kota untuk membangun kembali budaya pertanian.

"Karena tani adalah kultur, tani adalah budaya, serta sekolah pertanian harus dimunculkan kembali untuk meningkatkan SDM karena rata-rata petani berusia di atas 45 tahun ke atas jumlahnya 65%. Sementara yang muda tidak mau bekerja di pertanian," kata dia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Dampak Super El Nino 2026, Akankah Picu Krisis Pangan?

Dampak Super El Nino 2026, Akankah Picu Krisis Pangan?

INTERNASIONAL
Airlangga: Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Konflik Global

Airlangga: Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Konflik Global

EKONOMI
Gejolak Geopolitik, Prabowo Wanti-wanti Krisis Pangan, Energi, dan Air

Gejolak Geopolitik, Prabowo Wanti-wanti Krisis Pangan, Energi, dan Air

NASIONAL
Prabowo Tegaskan Komitmen RI Atasi Krisis Pangan, Iklim, dan Energi

Prabowo Tegaskan Komitmen RI Atasi Krisis Pangan, Iklim, dan Energi

INTERNASIONAL
Kelaparan Meluas, UNRWA: Warga Gaza Jadi Seperti Zombi Berjalan

Kelaparan Meluas, UNRWA: Warga Gaza Jadi Seperti Zombi Berjalan

INTERNASIONAL
Gibran Ungkap Indonesia Berlimpah Pangan Saat Negara Lain Krisis

Gibran Ungkap Indonesia Berlimpah Pangan Saat Negara Lain Krisis

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon