Wamenkeu Sebut Scarring Effect Pandemi Belum Berakhir
Jumat, 4 November 2022 | 18:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, mengatakan scarring effect pascapandemi di Indonesia tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.
Suahasil menjelaskan, scarring effect akibat pandemi Covid-19 berdampak pada psikologi pelaku ekonomi dalam pengambilan keputusan terkait kegiatan ekonomi. Tak hanya berdampak bagi Indonesia, kondisi ini juga berlaku di dunia internasional.
"Scarring effect berlangsung di semua perekonomian dari waktu ke waktu. Untuk jangka waktunya, tidak dapat kita prediksi. Namun progres dari solusi strategis yang kita terapkan, baik melalui kebijakan fiskal dan moneter, dapat kita lihat dari perilaku pasar," kata Suahasil, di acara Media Gathering Kementerian Keuangan 2022, Jumat (4/11/2022).
Menurut Suahasil, salah satu cara untuk melihat hal tersebut adalah dengan mencermati jumlah permintaan tenaga kerja. Sebagai contoh, Amerika Serikat (AS) yang menerapkan sistem unemployment insurance bisa dijadikan acuan untuk melihat jumlah permintaan pasar terhadap tenaga kerja.
Unemployment insurance merupakan bentuk asuransi publik yang dirancang untuk menyediakan jaminan bagi masyarakat usia produktif yang kehilangan pekerjaan, baik karena pemutusan kerja atau keluar dari job market. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang menerapkan sistem tersebut sejak depresi tahun 1930-an.
"Data terakhir, masyarakat yang membutuhkan manfaat dari unemployment insurance ini masih stabil. Gelombang pencari kerja di Amerika juga landai yang artinya mencari pekerjaan masih terbilang mudah. Karena begitu pandemi mulai berakhir, demand muncul, dunia usaha harus menyiapkan produksi dan salah satu faktor produksi adalah tenaga kerja. Ini menjadi indikasi bahwa geliat ekonomi mulai terjadi di dunia usaha," jelasnya.
Kendati demikian, kata Suahasil, indikasi pertumbuhan ekonomi melalui data penerima manfaat unemployment insurance tersebut, tidak dapat dijadikan acuan kapan kondisi scarring effect ini akan berakhir.
"Hal yang perlu kita perhatikan, jika permintaan ini terus terjadi, tentunya akan berdampak pada tren kenaikan tenaga kerja yang pada akhirnya memicu kenaikan harga barang dan munculnya inflasi. Hal-hal ini saling berkaitan, sehingga harus kita perhatikan terus," kata Suahasil.
Suahasil juga menjelaskan kondisi terburuk yang mungkin akan dialami negara sebagai akibat dari scarring effect. Menurutnya kondisi terburuk adalah ketika scarring effect menyebabkan inflasi, kemudian direspons dengan meningkatnya suku bunga.
Adapun peningkatan suku bunga ini dapat memicu perekonomian stagnan atau stagflasi jika pertumbuhan ekonomi yang melambat disertai dengan kenaikan harga secara terus menerus.
"Meskipun begitu, kita optimistis perekonomian Indonesia tetap tumbuh. Kita optimistis kegiatan ekonomi terus berjalan, namun tetap harus waspada terhadap efek dari luar negeri. Berapa lama efek ini berlangsung? Tergantung gerak perekonomian kita. Semakin cepat proses dunia usaha sembuh, maka semakin berkurang tekanan bank sentral menaikkan suku bunga. Karena itu kita memiliki 3 stand point APBN, yakni kebijakan fiskal, kebijakan moneter dan stand point sistem perbankan," tutup Suahasil.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Pengguna Netflix Paket Murah Siap-siap Dibombardir Iklan




