Pasukan Israel Bertahan di Lima Penjuru Wilayah Lebanon Selatan, Tetap Ancam Hizbullah
Selasa, 18 Februari 2025 | 17:12 WIB
Yerusalem, Beritasatu.com - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari Selasa (18/2/2025) mengonfirmasi bahwa pasukan Israel masih berada di lima posisi strategis di Lebanon Selatan, meski batas waktu penarikan telah berakhir. Katz menegaskan bahwa pasukan Israel akan mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok militan Hizbullah.
Dalam pernyataan resminya, Katz menyebutkan bahwa Israel akan mempertahankan keberadaan militernya di zona penyangga di Lebanon dengan lima pos kontrol strategis. Ia menegaskan bahwa militer akan bertindak tegas dan tanpa kompromi terhadap segala bentuk pelanggaran yang dilakukan Hizbullah.
Keputusan ini diambil setelah tenggat waktu yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata pada 27 November 2024 berakhir. Sebelumnya, beberapa jam sebelum batas waktu penarikan, Israel mengumumkan akan mempertahankan pasukan di lima titik strategis di dekat perbatasan untuk memastikan keamanan komunitas Israel dan mencegah ancaman dari Lebanon.
Sumber keamanan Lebanon mengonfirmasi bahwa tentara Israel telah mundur dari semua desa perbatasan kecuali lima titik yang masih ditempati. Gencatan senjata antara Israel dan kelompok militan yang didukung Iran telah berlaku sejak akhir November, setelah lebih dari setahun konflik, termasuk perang habis-habisan selama dua bulan di mana Israel melancarkan operasi darat.
Menurut Jonathan Conricus, peneliti senior di Foundation for Defense of Democracies dan mantan juru bicara militer Israel, pasukan akan tetap dikerahkan di lokasi-lokasi penting yang menghadap komunitas Israel dari sisi Lebanon.
“Ketika Angkatan Bersenjata Lebanon dikerahkan sepenuhnya di seluruh Lebanon Selatan, IDF (Israel Defense Forces) kemungkinan akan menyelesaikan penarikannya dari Lebanon, selama Hizbullah terus mematuhi perjanjian tersebut,” kata Conricus.
Menteri Katz menjelaskan bahwa keputusan untuk mempertahankan pasukan Israel di Lebanon diambil berdasarkan kebijakan politik untuk memastikan perlindungan penuh bagi komunitas Israel di wilayah utara dan untuk mencegah potensi ancaman dari Lebanon.
Ia juga menyatakan bahwa pasukan telah diperkuat di sisi perbatasan Israel. Katz menegaskan bahwa Hizbullah harus mundur sepenuhnya melewati Sungai Litani, dan tentara Lebanon harus melucuti senjata Hizbullah sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan oleh Amerika Serikat.
“Kami bertekad untuk memberikan keamanan penuh kepada semua masyarakat di utara,” tegas Katz.
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat dan Prancis, militer Lebanon akan dikerahkan bersama pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa saat tentara Israel mundur selama periode 60 hari, yang berakhir pada 18 Februari 2025.
Sesuai kesepakatan, Hizbullah diharuskan mundur ke utara Sungai Litani, sekitar 30 km dari perbatasan, dan membongkar infrastruktur militer yang tersisa di wilayah tersebut.
Keputusan Israel di Lebanon Selatan menunjukkan sikap negara zionis itu dalam menghadapi ancaman keamanan dari Hizbullah. Konflik antara Israel dan Hizbullah telah berlangsung lama, dan gencatan senjata ini menjadi upaya terbaru untuk meredakan ketegangan di perbatasan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Jet AS Rontok di Iran, Ini Daftar Peristiwa yang Memalukan Amerika




